Temaram Padam

Temaram Padam

Sajak kutulis diiringi derak sepatu

Saat jejak menjaga jarak

Ada jemu yang tertulis tentang ragu

Di kota ini, hujan kerap datang tiba-tiba

Dingin menyergap dada, baru saja.

 

Kenapa musim di negara ini hanya dua?

Berharap musim berganti, kemudian semi menyapa kita.

Bunga mencipta kelopak merah, kuning, biru dan warna lain

 

Apa kau juga suka?

 

Sebuah gambaran metafor puisi diksi

Lalu aku mengadu pada siluet diri di dinding sisi kiri

Senja memudar dan malam seperti biasa tepat waktu — datang.

Disusul sang temaram padam yang dijadwalkan

 

Gelap, bagai kota-kota mati

Pelita menerangi sebagian, ditemani beberapa titik cahaya lilin kecil

Kau lihat, sayang

Di sana, bulan tak pernah kehabisan cahayanya

Semua tertulis…

Hingga mata terbiasa dalam gelap menulis dan tutur mulai bicara sendiri pada malam yang enggan menjadi kelambu

 

Sayangku, kenapa padam kali ini lama sekali?

Sampai aku merindukanmu

Dan mulai mengantuk

 

 
Saat lampu padam bergiliran, 28 may 2011

2 thoughts on “Temaram Padam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *