Skip to content

2 Sajak Sisi Ungu

Author : Dessy Achieriny

Waktu memang menyiasati beberapa peristiwa yang berjalan, bahkan menyimpan beberapa kemungkinan yang sulit kita sentuh. Kebahagiaan adalah hal sederhana yang mudah terucap namun sulit menyatu dalam ragaku saat ini. Pernikahan kami amatlah sangat bahagia, awalnya! Tapi setelah wanita itu datang keadaannya berbanding terbalik. Setelah sekian lama aku mengabdikan diriku bersamanya ia mengatakan “ia tak lagi mencintai aku bahkan mencintai orang lain” dan yang lebih menyiksaku, ia katakan itu tepat pada pernikahan kami yang ke 13. Orang bilang 13 adalah angka sial, dulu aku tak percaya! tapi sekarang setelah aku merenung kembali, mungkin perkataan orang-orang itu ada benarnya juga, aah lupakanlah. Dalam hidup tiada yang perlu aku sedihkan, aku berusaha untuk selalu istiqomah walau payah, berusahalah untuk selalu tersenyum walau sedih. Apakah kau tahu? Alam akan punya cara sendiri untuk menghibur kita, setidaknya itu yang aku lakukan sampai detik ini.

Pada pernikahan kami yang ke 13, aku resmi bercerai, dan hanya selisih 3 bulan mantan suamiku telah menikah lagi, kita berpisah bukan disebabkan aku tidak mencintainya, justru karena begitu besar rasa sayang ini hingga aku merelakan ia bahagia dengan seseorang yang saat ini ia cintai, entahlah! mengapa seseorang terkadang begitu gampang sekali berpindah untuk mencintai orang lain. Apakah ia sudah lupa akan janji saat akad yang dihadiri oleh banyak malaikat yang bersedia sampai turun kebumi hanya untuk menyaksikan janji seorang hamba kepada Tuhannya. Yang kutahu, orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri akan lebih mudah merasa sedih dan tidak berguna. Tapi bersyukur aku mempunyai ke dua buah hati yang harus aku besarkan, walau harus sendirian. Senyum mereka adalah agenda kehidupanku selanjutnya. “I will be brave, I will not let anything take away. What’s standing in front of me every breath, every hour has come to this, Bissmillah”

Setiap nafas dalam kehidupan bukan untuk saling mengajari, tapi sama-sama untuk belajar. Setelah 2 tahun bercerai aku hijrah dari rumah yang selama 15 tahun ini tanpa lelah menaungi kami ke sebuah kontrakan kecil di daerah sukabumi dekat dengan rumah bibiku karena ia mengatakan aku bisa menjadi staff pengajar di pondok pesantren disana, di pondok pesantren itu ada kenalan teman dekat bibiku. Rumah kami yang dulu telah resmi terjual dan hasilnya kita bagi dua karena termasuk harta gono-gini. Aku memilih pindah kesana, karena letaknya dekat dengan sebuah surau hingga aku dan anak-anak bisa fokus beribadah dan buka usaha kedai kecil-kecilan. Selebihnya karena faktor jauh dari lokasi tempat tinggal yang lama hingga aku bisa sedikit melupakan kesedihan. Senja ini aku hendak ke surau, memakai sandal jepit warna ungu, warna favoriteku sejak dulu, rambutku panjang ikal sampai sepinggang, hari ini kuikat dengan warna ikat rambut senada dengan warna bajuku yg dominan juga ungu. Aku hanya suka saja, tak terpaut akan simbol warna ungu sebagai makna tentang kekuatan spiritual, kemewahan, pengetahuan tersembunyi, aspirasi yang tinggi, kebangsawanan, upacara, misteri, pencerahan, telepati, empati, arogan, intuisi, magic, keajaiban, serta harga diri. Sesungguhnya Allah menciptakan warna adalah sebagai pelengkap indahnya duniawi jadi setiap warna mempunyai makna dengan keindahan masing-masing, itu saja. 

Saat ini aku berdoa lebih lama dari sholatku, disajadah inilah tempat aku mengadu pada Rabbku. Berulang kali shalawat Nariyah kulantunkan, tenang rasanya jiwa ini. Aku bergegas pulang setelah selesai sholat isya di surau. Belum sampai di pintu rumah aku merasa sandal yang kupakai berbeda size antara kiri dan kanan “Masya Allah, ini pasti tertukar dengan seseorang saat berada di surau tadi” aku kemudian berbalik arah ke surau dan melihat seseorang juga mencari sandal pasangan yg berbeda size, aku meminta ma’af lalu kembali bergegas pulang. Anak-anak kutitipkan pada bibiku. Ternyata anak-anak telah tertidur barusan.

Sebulan kemudian,

Aku sedang mencatat beberapa keperluan kedai yang harus aku beli karena habis. Tiba-tiba bibiku bertanya kepadaku, “Nish, sudah 2 tahun kau menjanda, apa tidak tergerak untuk mencintai orang lain lagi?” ujar bibiku membuka pembicaran. Semula keadaannya hening, aku menghela nafas berulang kali “Jikalau memang Allah hendak mempertemukan dengan orang lain yang memang jodoh anish kedepannya, insya Allah pasti nanti di pertemukan, hanya saja belum ada orang mau melamar, anish juga termasuk kategori wanita yang tak gampang untuk jatuh cinta, apalagi kondisi anish janda beranak dua, sudah selayaknya orangpun berfikir dua kali” aku menjawab sambil tersenyum melihat paras bibiku yang hari ini berbeda sekali, ia memasang muka serius tak seperti biasanya lalu bertanya lagi. “jika ada seseorang yang mau melamarmu apakah anish mau menyetujuinya?” aku menjawabnya dengan jawaban sederhana. “Anish tidak punya kriteria lelaki idaman, tapi kalaupun boleh hendak berkeinginan, bukan rupawan yang anish cari tapi hati yang baik, sederhana, sholeh dan yang terpenting mencintai anish bukan karena penampilan, Anish suatu saat pasti akan tua dan renta. Selayaknya ia mencintai karena Allah sebab pernikahan juga ibadah, jika ia memang sungguh mencintai anish, tidak harus dengan mahar yang mahal, anish hanya minta di buatkan 2 puisi. Satu puisi cinta untuk anish dan yang kedua puisi cinta untuk kedua anak anish, sebagai bukti tanda sayang, jika ia mencintai bukanlah hanya karena anish semata tapi juga mencintai anak-anak anish”

Esoknya,

Pintu rumah ini diketuk 2 kali, aku bergegas membukakan pintu. Aku terperangah dan kaget bukan main. Pak haji za’in dan beberapa orang bertandang ke rumah, setahuku mereka orang-orang terkemuka disini. Aku mempersilahkan mereka masuk dengan sedikit agak canggung. Mereka lalu menyampaikan maksud dan tujuannya bertamu. Bahwa anaknya Pak haji Za’in hendak melamarku, anaknya pak haji Za’in masih bujang dan belum berkeluarga. Subhanalloh debar jantungku ini bertambah kencang dua kali lipat, pipiku mungkin saat itu berubah semerah saga. Pak haji Za’in tersenyum padaku lalu memperkenalkan seseorang yang berparas tampan, tinggi dan putih kepadaku, ia yang sejak awal seringkali menunduk. Aku hanya mengucapkan satu pertanyaan padanya “Apakah sebelum ini kita pernah bertemu? Lalu apa dasarnya sampai anda ingin melamar saya?” ia pun menjawab dengan lugas tanpa terbata-bata, dari cara ia bicara nadanya sungguh lemah lembut, berpendidikan dan sopan. “Bukankah kita pernah bertemu sewaktu di surau? kau salah memakai sebelah sandal saya waktu itu, disana pertama kali saya melihatmu, jika kau menanyakan tentang dasar apa saya melamarmu, tanyakanlah kepada Allah sang maha pemberi cinta, yang memberikan dua kali lipat debar dijantung saat saya memandangmu pertama kali, perkenalkan nama saya Muhammad Damar, panggil saja Damar. Setelah pertemuan itu aku terus mencarimu dan aku banyak tahu tentangmu dari Bi Narsih yang kebetulan bekerja di Pondok Pesantren yang aku pimpin. Jika berkenan ada 2 puisi yang hendak aku sampaikan kepadamu, kuharap kau mau mendengarkan” lalu ia membacakan dengan nada yang begitu fasih, sajak yang pertama ini untukmu, lalu ia tersenyum.

Sajak kecil Tentang Cinta

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu harus menjadi aku
dan sajak yang kedua adalah untuk anakmu, semoga kedua anakmu bisa menjadi anak-anakku juga kelak.

Tanya Sang Anak

Konon pada suatu desa terpencil
Terdapat sebuah keluarga
Terdiri dari sang ayah dan ibu
Serta seorang anak gadis muda dan naif!

Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang ibu!
Ibu! Mengapa aku dilahirkan wanita?
Sang ibu menjawab,”Kerana ibu lebih kuat dari ayah!”
Sang anak terdiam dan berkata,”Kenapa jadi begitu?”

Sang anak pun bertanya kepada sang ayah!
Ayah! Kenapa ibu lebih kuat dari ayah?
Ayah pun menjawab,”Kerana ibumu seorang wanita!!!
Sang anak kembali terdiam.

Dan sang anak pun kembali bertanya!
Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ayah?
Dan sang ayah pun kembali menjawab,” Iya, kau adalah yang terkuat!”
Sang anak kembali terdiam dan sesekali mengerut dahinya.

Dan dia pun kembali melontarkan pertanyaan yang lain.
Ayah! Apakah aku lebih kuat dari ibu?
Ayah kembali menjawab,”Iya kaulah yang terhebat dan terkuat!”
“Kenapa ayah, kenapa aku yang terkuat?” Sang anak pun kembali melontarkan pertanyaan.

Sang ayah pun menjawab dengan perlahan dan penuh kelembutan. “Kerana engkau adalah buah dari cintanya!
Cinta yang dapat membuat semua manusia tertunduk dan terdiam. Cinta yang dapat membuat semua manusia buta, tuli serta bisu!

Dan kau adalah segalanya buat kami.
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.
Tawamu adalah tawa kami.
Tangismu adalah air mata kami.
Dan cintamu adalah cinta kami.

Dan sang anak pun kembali bertanya!
Apa itu Cinta, Ayah?
Apa itu cinta, Ibu?
Sang ayah dan ibu pun tersenyum!
Dan mereka pun menjawab,”Kau, kau adalah cinta kami sayang..”

 

Kuharap kau menyukai kedua puisi itu” lalu ia tersenyum sambil menyerahkan kerudung warna ungu kepadaku. “Jika kau bersedia, pakailah kerudung ini saat akad nanti, setelahnya kerudung itu jangan kau lepas, aku akan memberikan banyak kerudung warna ungu untuk kau pakai setiap harinya, kau pasti terlihat lebih cantik saat memakai kerudung itu”

Aku diam, hening menyergap suasana kala itu, tanpa sadar airmata ini menangis menahan haru, Allah maha mengetahui apa yang tidak kita ketahui, Allah juga yang Maha memutuskan sebuah takdir di dunia, karena setiap perpisahan adalah awal dari pertemuan. Tak ada kata yang dapat keluar dari bibirku, aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Hatiku mengucap syukur berulang kali. Dan tak pernah sedikitpun terbayangkan olehku bahwa pertemuan kami hanya karena sepasang sandal ungu yang tertukar di sebuah surau. Jika Allah Maha Berkehendak tak akan ada lagi yang dapat kita pertanyakan?. Dan tepat di hari aku menikah, aku mendapatkan kabar bahwa pada hari yang sama mantan suamiku sedang berada di pengadilan agama dan bercerai untuk yang ke dua kalinya. 

Dessy, Bekasi

Note: Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh dan karakter hanyalah ketidak sengajaan. kedua sajak diatas adalah karya penyair favorite saya, “Sajak kecil tentang cinta”adalah sajak karya Sapardi Djoko Damono, dan sajak “Tanya sang anak” adalah sajak karya Kahlil Gibran, selamat membaca, salam manis-Dessy 🙂

Published inUncategorized

One Comment

  1. saya juga suka sajak Sapardi Djoko Damono itu 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *