Hidup Itu Indah Ujar Mbok Sumi

Tanah merah masih juga basah…

Tak ada karangan bunga disini, semuanya bahkan gelap. Mbok Sumi diam di depan pemakaman 3 jam lebih yang hanya berhias bunga kamboja. Entahlah, mungkin di area pemakaman ada sekitar 50 pohon bunga kamboja atau bahkan lebih. Anak mbok Sumi paling kecil meninggal karena kelaparan. Ini tentang faktor kemiskinan. Tak heran, hidup memang seperti itu, dunia terkadang cahaya bagi sebagian orang, namun bagi orang miskin seperti Mbok Sumi seolah terlihat gelap gulita. Gersang, penuh ratap.

Mbok Sumi bukan pemalas, ia bekerja seharian menjadi kuli cuci, begitulah hidup, kesulitan yang datang dalam kehidupan terkadang menjelma menjadi secangkir kopi pekat tanpa gula, rasa syukur adalah cara Mbok Sumi menambahkan pemanis pada secangkir kopi di kehidupannya.

Selang kemudian Mbok Sumi beranjak dan mengusap pelan nisan anaknya sebanyak 3 kali “Tugasmu telah selesai nak, selamat jalan” Ujarnya dengan senyuman, ia pergi tanpa berkata lagi sedikitpun.

Esok hari, tak henti-hentinya Mbok Sumi mengatakan kepada ke 3 orang anaknya yang ditinggal wafat ayah mereka sejak kecil “Walau didalam kemiskinan, terkadang kita tetap harus percaya nak, bahwa kemungkinan-kemungkinan di dunia itu ada, percayalah akan segala sesuatu hal yang tidak nyata, seperti surga, neraka, pahala dan dosa, serta segala variasi tragedi yang menjelma dalam takdir, karena Allah Maha Tahu lagi Maha Teliti. Tahanlah rasa lapar itu dengan rasa syukur lebih dulu” Mbok Sumi menenangkan rintihan anaknya yang sejak 2 hari yang lalu belum makan.

Sudah sebulan lebih Mbok Sumi sakit keras sehingga tak bisa lagi bekerja. Miris memang, konseksuensi hidup mempunyai alur yang demikian, jika ada kebahagiaan yang kelak datang maka ketika dilihat dari sisi lain pasti akan ada juga kesedihan yang ditimbulkan setelahnya. Mereka hanya datang bergantian. Semua berjalan beriringan, seirama, sesuai dengan ketentuan dari Sang Maha.

Setiap pagi akan ada hari yang semakin garang dikehidupan Mbok Sumi dan anaknya, kelaparan masih saja menghantui kehidupan mereka. Mungkin, jika ingin berandai-andai bisa saja Mbok Sumi menukar kehidupannya dari kemustahilan menjadi kepastian, tapi hidup bukan soal tawar menawar. Coba, Kau lihat saja! diatas sajadah panjang itu, menjadi saksi sepulang ia berikhtiar kemudian basah dalam kata semoga. Melafazkan doa-doa yang bisa menggetarkan tiang langit dalam jarak sentuhan-sentuhan yang diciptakan.

1 hari kemudian…

Mbok Sumi menyuapi anak-anaknya, wajahnya tersenyum “Makan yang banyak nak, hanya menu ini yang dapat ibu masak” lalu kembali Mbok Sumi mengejar tikus-tikus yang tak kalah gesitnya dalam bertahan hidup untuk menu esok hari.

 

Dessy, Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *