Skip to content

Pesona Karimun Dalam Kacamata Traveller

Pesona Karimun
Pesona Karimun

Entah, seolah tempat yang saya kunjungi selalu hidup dan bernyawa, ia membisikkan banyak hal tentang arti penting dari sebuah perjalanan, mengulang puji-pujian istimewa serta kehangatan khas Indonesia dangan tutur dan adat melayu yang kental. Hasil jepretan kamera di tiap lokasi bahkan sepuitis ini, alasan-alasan klise mengenai rindu kian menetap dan lekat. Hingga kata jalan-jalan seolah lengkap terpatri menjadi sebuah harta dari banyak ingatan.

Tanjung Balai Karimun sebenarnya pulau kecil yang tak lebih luas dari jidat orang dewasa. Selain dari penduduk melayu asli di sini, kita akan sering menjumpai etnis Tionghoa. Saya membuka buku kumal dan merobeknya untuk menggoreskan pena sekedar menulis beberapa catatan penting kegiatan perjalanan, sebab ingatan tak penuh menyimpan hal-hal panjang. Cappucino, alunan lagu pop lost Boy, dan beberapa ingatan yang dipelintir membuat saya menindih ulang catatan hari ini dan membuka tulisan singkat kemarin dalam draft.

Coastal Area
coastal area

Mendeskripsikan Tanjung Balai Karimun maka tak lengkap jika kita tidak mengunjungi Coastal Area sebagai Icon Karimun. Kawasan wisata Coastal Area yang dibangun pada tahun 2008 lalu, adalah salah satu tempat wisata yang menjadi kebanggaan  bagi masyarakat Kabupaten Karimun. Bahkan objek wisata ini menjadi icon negeri berazam, iman, dan taqwa tersebut. Jika melihat struktur bangunan di Coastal Area ini, pengunjung seperti diajak mengelilingi negara kincir angin, Belanda. Dimana terdapat empat tugu besar, yang  menggambarkan Kabupaten Karimun merupakan kabupaten yang kokoh dengan budaya dan agama. Fasilitas bermain dan aneka kuliner banyak kita temui di sana, dengan pemandangan menghadap laut di penghujungnya. Saya sempat mengabadikan moment matahari terbit, terbenam, dan juga bermain bersama kepak burung dara. Potret siluet yang menghantarkan kita ke dalam bingkai lukisan. Tak jauh dari Coastal Area kita dapat melihat Tugu Al-qur’an yang kokoh dengan cahaya warna-warni jika malam tiba.

Pantai Pelawan
Pantai Pelawan

Pantai Pelawan pun termasuk dalam list kegiatan kami ketika ke sini, terletak di Pangke, Meral, Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia. Tanjung Balai Karimun adalah ibu kota kabupaten Karimun di provinsi Kepulauan Riau. Tanjung Balai ini berada di bagian tenggara dari pulau Karimun dan secara keseluruhan merupakan bagian dari wilayah perdagangan bebas (free trade zone) BBK (Batam-Bintan-Karimun) yang cukup strategis karena terletak di jalur pelayaran internasional di sebelah barat Singapura. Pantai yang berbentuk bulan sabit dengan beragam saung berdiri kokoh di bibir pantai. Spot yang paling menarik di Pantai Pelawan adalah bebatuan dan pohon bakau diujung sabit pantai. Bebatuan besar yang hampir mirip di daerah Bangka Belitung pulaunya Laskar Pelangi. Suasana keseruan kian pecah ketika kami menyewa banana boats seharga 150 rb untuk kapasitas 6 orang. Langit biru, desir angin dan kesegaran es kelapa muda membuat kami menikmati keindahan pulau nan eksotik ini terasa lengkap.Walaupun harus pulang membawa kesakitan karena tertindih badan orang belakang saat naik Banana Boats dan ke minum asinnya air laut.

wisata pelawan
Wisata Pelawan
Pantai Ponkart
Pantai Ponkart

Destinasi kedua kami adalah Pantai Ponkar, pemandangan pantai ponkar lebih lepas daripada di Pantai Pelawan, Laut di Pantai Pelawan lebih landai sedangkan Pantai Ponkar lebih curam. Di sini saya rasa lebih cocok untuk bermain Volly pantai, main bola dan pasir pantai. Hanya saja spot bebatuan dan pohon bakau tidak kita temui di pantai ini. Pantai Ponkar berada di desa ponkar, kecamatan Tebing Kabupaten Karimun. Spot motret yang keren adalah pemandangan gugusan Pulau Karimun Anak dan Takong Hiu. Pantai Pongkar memiliki hamparan pantai yang luas dan alami dengan pohon cemara yang berbaris rapih tersebar di sekitar wilayah pantai. Di sekitar lokasi juga terdapat danau kecil yang kaya akan ikan. Banyak pengunjung memanfaatkan danau tersebut untuk memancing. Di atas danau tersebut, didirikan sebuah panggung dengan arsitektur Melayu yang digunakan untuk beragam kegiatan kesenian. Biasanya, panggung ini juga digunakan untuk sejumlah kegiatan yang berlangsung saat malam pergantian tahun.

Air Terjun Ponkar
Air Terjun Ponkar

Para laskar dan generasi hijau akan menyukai perjalanan ke Air Terjun Pongkar, kiri kanan pemandangan disuguhkan hijaunya hutan, pohon-pohon besar, aliran sungai dengan anak-anak ikan, namun debit airnya tak sebanding dengan namanya, 2 tahun lalu airnya seperti meleleh, tahun ini kami lebih beruntung, sebab satu hari sebelum kami ke Air terjun pongkar  hujan deras, jadi debit air lumayan mengalir. Air terjun pongkar adalah wisata alternatif jika kita bosan ke pantai. Selain sebagai sarana rekreasi, taman wisata ini juga diperuntukkan sebagai hutan lindung. Di sepanjang jalan menuju air terjun terdapat pohon-pohon langka seperti pohon Beluka dan Pulai. Perjalanan menuju tempat wisata air terjun berkelok-berkelok dengan pemandangan hamparan bukit. Sesekali saya berhenti untuk motret dan mengambil video. Setibanya disana, tidak ada tanda-tanda keberadaan objek wisata ditempat ini, hanya tempat parkir berupa lahan kosong dan beberapa warung sederhana semacam kedai kopi. Untuk masuk ke loket air terjun, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 200 meter dari parkiran. Perjalanan yang tidak begitu jauh, jika kita bandingkan saat mendaki Curug Cibeurem – Gunung Gede. Di bawah air terjun kita akan melihat 2 buah kolam besar sebagai tempat untuk berendam dan berenang.

Pelabuhan Pelambong
Pelabuhan Pelambong

Kami juga sempat menikmati keindahan Pelabuhan Pelambong sebagai pelabuhan bongkar muat dan melihat beberapa kapal-kapal nelayan di sana, jembatan yang terbuat dari kayu seakan bergoyang mengikuti langkah jejak kaki kami, saya sempat memotret para nelayan yang hendak pergi mencari udang.

Jika ke karimun kalian tak akan lengkap jika tak mampir ke Pulau Buru, sebenar-benarnya Indonesia ada di sana “Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang. Patah tumbuh hilang berganti. Takkan melayu hilang di bumi.”

Pelabuhan Sri Tanjung Gelam
Pelabuhan Sri Tanjung Gelam

Di sana kau akan memutuskan berjalan untuk menggali sejarah. Melewati setapak di tengah hutan, menyeberang laut, menyapa desa yang penduduknya menjerit menginginkan air bersih, melompati genangan lumpur dan kubangan air, mengintip adat para tetua, dan menyaksikan pohon kering tanpa buah-buahan.

Kebanyakan kita hanya ingin dikenang sebagai pejalan, kemudian pulang tanpa beban, mengumpulkan potret keadaan dalam lensa dan tips menaklukkan alam. Sampai kita lupa mengemas banyak cerita mengenai kearifan lokal yang masih lekat tertanam.

Melewati Perkebunan kelapa Sawit
Melewati Perkebunan kelapa Sawit

Kami memutuskan pergi ke Pulau Buru melalui Pelabuhan Sri Tanjung Gelam yang berada di Tanjung Balai Karimun. Kapal pompong Karomah dengan gagahnya membawa kami ke sana dengan membeli tiket per-orang 19 ribu rupiah dan pass masuk pelabuhan seharga seribu lima ratus. Kami transit dulu ke Pelabuhan Tanjung Batu Kecil, Desa Pelaka Kecamatan Buru dan bertamu ke rumah kepala dusun, Pak Usman. Di sini, rupanya listrik baru masuk selama 4 bulan ini. Mereka menggunakan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang berada di dekat perkebunan kelapa sawit. Setiap kepala keluarga dibatasi pemakaian listrik perhari dan dikenakan biaya 40 rb sebulan.

Ah, jelajah nusantara menciptakan banyak kebahagiaan. Di sini, kampung nelayan, warga melayu, etnis Tionghoa, jawa, sunda, melebur menjadi satu dalam wadah dinamis yang bergerak mengikuti peradaban. Hal terasik dalam perjalanan adalah bagaimana kita menemukan kata-kata dengan cara mengingat kembali. Ketika jemari, kepul kopi cappucino, dan sebuah ide – Bahwa perjalanan panjang tak pernah usai, tulisan adalah cara kita mengingat untuk melompat lebih jauh.

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

Published inTravelling

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *