Skip to content

Pulau Buru Takkan Melayu Hilang Di Bumi

“Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang. Patah tumbuh hilang berganti. Takkan melayu hilang di bumi.”

Pelabuhan Sri Tanjung Gelam
Pelabuhan Sri Tanjung Gelam

Kita memutuskan berjalan untuk menggali sejarah. Melewati setapak di tengah hutan, menyeberang laut, menyapa desa yang penduduknya menjerit menginginkan air bersih, melompati genangan lumpur dan kobangan air, mengintip adat para tetua, dan menyaksikan pohon kering tanpa buah-buahan.

Kebanyakan kita hanya ingin dikenang sebagai pejalan, kemudian pulang tanpa beban, mengumpulkan potret keadaan dalam lensa dan tips menaklukkan alam. Sampai kita lupa mengemas banyak cerita mengenai kearifan lokal yang masih lekat tertanam.

Melewati Perkebunan kelapa Sawit
Melewati Perkebunan kelapa Sawit

Kami memutuskan pergi ke Pulau Buru melalui Pelabuhan Sri Tanjung Gelam yang berada di Tanjung Balai Karimun. Kapal pompong Karomah dengan gagahnya membawa kami ke sana dengan membeli tiket per-orang 19 ribu rupiah dan pass masuk pelabuhan seharga seribu lima ratus. Kami transit dulu ke Pelabuhan Tanjung Batu Kecil, Desa Pelaka Kecamatan Buru dan bertamu ke rumah kepala dusun, Pak Usman. Di sini, rupanya listrik baru masuk selama 4 bulan ini. Mereka menggunakan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang berada di dekat perkebunan kelapa sawit. Setiap kepala keluarga dibatasi pemakaian listrik perhari dan dikenakan biaya 40 rb sebulan.

Pak Usman melanjutkan cerita, bahwa tiap malam mereka hanya bisa menggunakan 2 bohlam lampu untuk mengirit pemakaian listrik. Jika kipas angin mereka nyalakan saat hendak tidur, maka pemakaian jatah listrik mereka akan langsung habis.

Rasa syukur kembali menyergap saya, betapa beruntungnya kita yang berada tidak jauh dari ibu kota sehingga dapat menggunakan listrik sesuka hati.

Pemandian Air Panas Tanjung Hutan
Pemandian Air Panas Tanjung Hutan

Dari rumah pak Usman kami pun beranjak ke Pemandian air panas yang berada di Tanjung Hutan. Rute perjalanan ke Pemandian air panas sangat hijau, kita akan disuguhkan pemandangan perkebunan kelapa sawit selama mata memandang, melewati perkebunan karet dan menyusuri setapak kecil di tengah hutan, diiringi kepakan burung elang yang lalu lalang di angkasa walaupun habitatnya sekarang tidak sebanyak dulu. Pemandian kolam air panas memang berada di tengah hutan di daerah Tanjung Hutan.

Saya sempat melihat bak penampungan air panas yang tak pernah kering walau musim kering tiba. Dan airnya memang sangat panas. Tangan saya hampir melepuh karena mencoba mengambil airnya dengan tergesa. Di dalam bak penampungan ini pula yang akan disalurkan ke kolam disekitarnya yang berjumlah dua buah. Yaitu kolam untuk anak-anak dan dewasa. Hanya saja, wisata karimun yang jadi andalan penduduk Tanjung Hutan di Pulau Buru ini masih kurang dieksplore pengembangan sarana dan prasarananya.

Tak lama berada di pemandian air panas, kami pun melanjutkan langkah kaki ke Makam Datuk Si Badang menggunakan kapal ferry sekitar 5 menit menyebrang untuk sampai ke pelabuhan Kandis.

makam
Makam Datuk Si Badang

Datuk si Badang ini adalah seorang manusia sakti yang memiliki kekuatan luar biasa dalam sejarah melayu di abad ke 13 yang menjadi legenda sampai ke pelosok negeri. Legenda beliau kemudian diangkat oleh putra asli Pulau Buru. Makam Datuk si Badang termasuk prasasti sungi u.u monument ortodonante. Hikayat Datuk sibadang tertera di atas batu nisan pada makamnya. Di sana tertulis;

“Alkisah sebuah legenda seorang pemuda memasang lukah mencari ikan di tepi telaga. Nasib sial selalu menimpa.

Ikan dilukah menjadi mangsa tak tau siapa punya angkara, Badang mengintai siangkara murka ternyata jin makhluk durjana.

Badang yang lugu datang menerpa. Makhluk durjana langsung menyerah. Diisyaratkan dengan air ludah. Badang menjadi kuat perkasa.

Nama sibadang jadi terbilang. Gagah perkasa tiada kepalang. Terkenal sampai ke negeri seberang. Karena sakti nama terjulang.”

Pulau Buru
Pulau Buru

Setelah kami mempelajari sejarah makam datuk si Badang, kami pun mengunjungi makam Moyang Seraga. Yang merupakan penduduk pertama di Pulau Buru  yang tak berpenghuni ini dan manusia pertama yang dijumpai oleh Baginda Raja Temasik saat ia berburu ke pulau ini, itu sebabnya sejarah nama pulau ini diberi nama Pulau Buru karena Baginda Raja Temasik sering berburu ke sini.

Hikayat moyang seraga

“Dari hikayat sebuah legenda

Balung seraya nama asalnya

Ditemui oleh seorang raja dibelantara yang tidak ada penduduknya

Sang baginda sak wasangka

Makhluk apakah gerangan setelah dicukur rambut ditubuhnya ternyata seorang anak manusia

Alangkah terkejutnya sang baginda, perburuan dihentikan sudah. Rambut dicukur penuh seraga. Manusia pertama di pulau yang ditemuinya.

Pulau buru diberi nama, moyang seraga asal penduduknya. Tempat berburu sang paduka raja, ditemasik tempatnya bertakhta.”

Puas kami berkeliling dan mengambil foto-foto dengan pengorbanan harus duduk diatas kapal ferry bersama barang-barang penumpang seperti ikan dan sayur mayur, motret diatas motor pun saya lakukan demi mengharapkan hasil jepretan yang ciamik. Setelah dirasa cukup kami pun mengistirahatkan badan di kedai singgah selalu untuk menyantap menu gulai ikan tenggiri asam manis dan memesan teh tarik. Perut kenyang — Waktunya pulang.

Dessy, Karimun.

 

Published inTulisan

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *