Full Day School?

Program sebesar full day school ini gak bisa hanya sekedar diterapkan dalam waktu singkat dengan sistem yang masih labil, pak. Suatu saat, jangan pernah salahkan dampak terbentuknya generasi ababil (anak abege labil) karena pendidikan, kejiwaan, kreatifitas, kebutuhan istirahat dan kemampuan untuk bersosialisasi tidak seimbang.
 
Bicara mengenai sistem pendidikan, kita akan masuk dalam lingkup besar yang namanya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Negara yang luas wilayahnya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia tidak hanya di kota besar, pak.
 
Indonesia itu sampai ke pelosok daerah terpencil yang mayoritas sarana dan prasarana pendidikannya kurang memadai. Hujan kehujanan, panas kepanasan, karena banyak gedung sekolah yang bocor, bahkan hampir roboh. Saya masuk ke dalam lingkup komunitas We Green Industry, di sana saya juga banyak melihat share teman-teman yang masih banyak membutuhkan dana untuk sekolah, bukan untuk menunjang sarana pelengkap, bahkan hanya untuk membangun sekolah yang memadai karena jiwa mereka yang tumbuh untuk membangun bangsa agar pendidikan di Indonesia semakin baik.
 
Apa kita lupa dengan film Laskar Pelangi yang mengupas habis tentang pendidikan dan perjuangan guru di daerah Bangka Belitung? Kenyataan paling besar justru ada di sana.
 
Anak di daerah harus ke sekolah dengan jalan berkilo-kilo naik dan turun bukit, belum lagi mereka yang harus menaklukkan rimbanya hutan, kalau sekolah diberlakukan waktu menuntut ilmu sampai sore, mungkin mereka bisa dimakan buaya, pak.
 
Saya sempat berkunjung ke Pulau Buru, lama di Pelabuhan Tanjung Kecil menunggu Kapal Ferry datang, mengamati anak2 yang kesekolah menggunakan perahu serta guru-guru yang pengabdiannya mengajar harus menyebrang lautan, keluhan kepala dusun yang kekurangan air bersih serta listrik yang memakai tenaga surya saja baru masuk sekitar 6 bulan ini. Itu pun mereka hanya bisa setiap hari hanya menggunakan 2 bohlam lampu. Jika mereka harus sekolah sampai sore, besar kemungkinan bisa maghrib di tengah laut, tidak hanya sampai di sana, mereka harus menyusuri jalanan yang gelap karena listrik yang dibatasi.
 
Berapa banyak anak negeri yang harus bersekolah mempertaruhkan nyawa berpegangan dijembatan gantung yg hampir putus? karena jembatan memadainya saja gak ada, pak. Jikapun ada, mereka harus memutar berkilo2 meter jauhnya.
 
Bicara mengenai pendidikan Indonesia alangkah baiknya para petinggi melihat bagaimana sedihnya pendidikan kita yang sekarang, dengan cakupan pandangan mata, hati, serta pikiran tidak hanya melihat ke atas namun juga ke bawah.
 
Jika pendidikan kita sudah masuk dalam kategori bukan momok menakutkan bagi anak negeri mungkin bisa kita lempar wacana seperti ini.
 
Jika sarana dan prasarana, serta kualitas memajukan dan memberdayakan guru sudah ditingkatkan, sehingga metode dalam mengeksplore anak belajar lebih menarik dan variatif sehingga lebih menyenangkan bagi si anak, mungkin gagasan ini bisa menjadi wacana.
 
Sekarang saja, di kota sebesar tempat saya tinggal, waktu sekolah yang diberlakukan harus ganti shift, ada yang harus masuk pagi dan siang.
 
Tanya kenapa?
 
Karena gedung sekolah kita kurang memadai untuk menampung besarnya semangat anak sekolah yang membutuhkan pendidikan.
 
Dan yang perlu diingat, pak. Bagi para pakar dokter sendiri, tumbuh kembang anak tidak hanya masuk dalam bahasan cakupan makanan serta gizi dan vitamin yang seimbang, namun istirahat tidur siang adalah faktor penting sebagai kebutuhan.
 
Kumparan otak kita, khususnya anak-anak membutuhkan istirahat yang cukup. Otak, stamina tubuh, harus dicharge. Caranya dengan tidur siang yang cukup atau paling tidak dengan istirahat. Ini yang kurang ditangkap oleh begitu banyak pemahaman bagi orang-orang khususnya di negara Asia.
 
You must be out of your mind, pak. Tidak semua orang tua bekerja dan tidak selamanya dunia luar sepicik itu, sampai mereka harus dijauhkan dari lingkungan luar yang menurut banyak kalangan berdampak negative. Anak-anak di rumah bahkan lebih suka ketika saya menerangkan banyak hal mengenai pelajaran di sekolah dibandingkan guru mereka.
 
Mereka bilang, penjelasan yang mami ajarkan lebih gampang dipahami dibandingkan guru di sekolah saat menjelaskan.
 
Kalau sudah begini, saya harus mengatakan apa kepada anak2?
 
Sekolah hanyalah penunjang pendidikan anak, mereka tumbuh langsung dan terbangun dengan adanya kebersamaan keluarga, akidah dan agama di rumah, baru di sekolah serta lingkungan.
 
Pendidikan itu harus mengerti mengenai pembelajaran apa saja yang baik untuk anak, mendengarkan keluhan2 yang anak sampaikan dan apa saja yang mereka inginkan, untuk mengetahui mengenai pola kerja otak.
 
Karena setiap anak tidak sama dan memiliki keterbatasan menyimpan memori yang berbeda.
Dan taraf pendidikan di Indonesia pun — Tidak sama.
 
Jika ini masih menjadi sebuah gagasan, pak. Saya mohon dipertimbangkan kembali.
 
Salam
Dessy

2 thoughts on “Full Day School?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *