Esok Bolehkah Saya Mencicipi Matahari Lebih Dini yang Lebih Manis dari Hari Ini

Apakah kamu pernah menemukan seseorang, yang kerapkali memberikan kabar padamu menjadi hal yang tidak sesederhana itu? Sebab, dalam hidupnya — ia menganggapmu berharga. Maka semua hal yang kau tanyakan atau bahkan yang tak sempat kau tanyakan, ia memberikan jawabannya lebih dulu tanpa harus kamu merengek padanya, mengenai mengapa dan kenapa. Karena kekhawatiranmu atas dirinya, bukan hal yang mampu membuat ia tersenyum. Membiasakan dirimu merasa baik-baik saja adalah sebuah kelegaan yang ia petik dari rasa sayang, agar ada, selalu ada dan terbiasa.

Apakah serumit itu menuliskan kabar?

Apakah waktu yang diberikan Tuhan tidak cukup panjang untuk menuliskan hal yang baik walaupun terdengar sederhana?

Pria sejati tidak akan pernah menyederhanakan sebuah kabar atas dirinya untuk wanita yang dicintainya.

Apakah kamu pernah menemukan seseorang, yang ucapannya menjadi titik dalam menggapai semangat untuk melihat dunia, yang benar-benar masih sama, seolah menjadi lebih baru?

Jika jawabannya, iya. Maka hanya orang yang bodoh yang hendak melepaskan genggamannya.

Saya tahu pria membutuhkan waktu untuk sendiri. Dan kita kerapkali pun sama. Sebab sepi dan sendiri membuat kita berpikir lebih banyak mengenai hal-hal bahagia dan kesedihan di saat yang sama. Saya pernah ingin menggerakkan kaki lebih panjang dan lebih jauh dari yang seharusnya tempat saya berdiri sekarang. Pergi jauh ketempat yang lebih asing, kota dimana orang-orang tak mengenal orang lain, hanya kumpulan orang-orang yang mengenal diri mereka sendiri.

Pernah. Sangat pernah.

Saya juga pernah menceritakan perjalanan panjang kehidupan kepada orang lain, namun pada akhirnya, ia hanya akan membaca melalui kotak-kotak pikiran yang ada dan menyimpulkan atas apa yang mereka tahu, bukan yang kita rasakan dan sekalipun tak pernah ia rasakan, sebanyak apa dan seberapa pahitnya sebuah kehidupan. Mereka tak pernah berpikir diluar kotak, mengapa seseorang harus bahagia berlebihan, mengapa kesedihannya juga perlu dirayakan?  Dan beberapa senyum orang-orang yang juga harus ia perjuangkan.

Bukan untuk dinilai orang lain baik, bukan.

Lantas untuk apa? Karena ada semangat lebih panjang atas apa yang saya lakukan hingga demikian.

Kedewasaan lambat laun akan menjelaskan apa yang telah kita lakukan. Jauh dari sebelum ini. Tapi tidak semua orang-orang dewasa mengerti arti kedewasaan sepenuhnya. Mereka terkadang hanya menjadi bagian kumpulan anak kecil yang rindu akan masa lalu mereka yang dulu, terlalu memaksakan isi kepala untuk mengingat jauh sebelum aku dan kamu yang sekarang menjadi kita. Atau sebaliknya, terlalu melihat jauh asik kedepan sampai lupa arti kamu dan aku yang sekarang seharusnya tetap menggenggam kita.

Terkadang kita lemah pada hukum alam. Hingga terbawa oleh dunia yang kerap kali memang sengaja mengingatkan kita untuk menjadi lupa. Tidak ada yang baru dalam dunia ini. Kita hanya mencoba mengulang hal-hal tentang kesedihan dan kebahagiaan yang memang seharusnya datang dan pergi dengan skenario yang berbeda menurut pilihan kita sendiri. Tapi kita terlalu naif menyalahkan semuanya. Kita lupa, bahwa kita sendiri yang memilih setiap hal dalam kehidupan yang hendak, akan, sebelum, hingga satu-satu sudah kita lalui.

Kamu yang lupa, saya yang lupa, atau kita yang sama-sama lupa?

Esok, bolehkan saya mencicipi matahari lebih dini yang lebih manis dari hari ini?

 

Dessy Achieriny, Bekasi

One thought on “Esok Bolehkah Saya Mencicipi Matahari Lebih Dini yang Lebih Manis dari Hari Ini”

  1. Apakah kamu pernah menemukan seseorang, yang ucapannya menjadi titik dalam menggapai semangat untuk melihat dunia, yang benar-benar masih sama, seolah menjadi lebih baru?
    Sangat pernah… dn memberikan kabar bagi nya adlh sbuah siksaan…
    how poor i am…*tears

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *