Jika Diam Tak Menjadikan Kita

Semoga dengan diam, kita kelak mampu merawat kekecewaan dari masing-masing kita.
 
Hujan di halaman, ia jatuh menjaga dingin di lembaran buku — juga lagu-lagu.
 
Apakah diam juga merupakan bagian-bagian dari sebuah perpisahan?
 
Atau sekedar perhentian dalam menentukan pilihan-pilihan?
 
Aku tahu kau takkan hilang sempurna. Kau mencoba menjadi pekat dalam gelap. Menceburkan diri dalam sunyi siang hari, diantara ingatan kita yang lupa berlari.
 
Sepertinya benar katamu, tulisan yang sama dengan puisi lelaki yang kerapkali ber-Sabda Liar. Sesuai nama penulisnya.
 
“Sebuah kisah mungkin ditulis sekedar untuk mengabadikan peristiwa, kita saja yg menanggapinya berlebihan dengan tawa, atau air mata.”
 
Kita hidup hanya menuliskan peristiwa yang tak pernah selesai. Kemudian diam sampai selesai.
 
Bila ingatan tentang Tuan memiliki banyak kata. Saya akan menggenggam sebuah peta menuju pulang, menyanyikan lagu pop & merayakan kita tanpa suara.
 
Suatu saat, kita akan berterimakasih pada hal yang menjadikannya tiada. Agar mengerti tentang sesuatu, yang bernama rindu dan kebaik-baik saja-an.
 
Jika wajahmu saja, mampu menjadikan saya birahi. Saya akan melepaskan kancing baju-baju kata. Menulis sajak & kita bergumul di dalamnya.
 
Sebab, setiap kita hanya berencana mencintai siapa. Di satu titik di ujung rencanamu, Tuhan pula yang kelak akan memberikan piala kepada siapa.
 
Pun dalam diammu, saya juga mulai mencintai guguran salju, kereta luncur, dan segala yang kembali menjadi putih.
 
Kemudian beku di dalamnya.
 
Dessy Achieriny

8 comments On Jika Diam Tak Menjadikan Kita

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer