Menjelajah Aroma Kopi Dalam Secangkir Tulisan

“Kemampuan membaca itu rahmat, kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.”

(Goenawan Mohamad)

Sedangkan

Menulis merupakan cara merekam banyak hal penolak lupa, cara mencintai diri sendiri dan membuka ruang bagi orang lain mencintai tentang kita, setelahnya.

(Dessy Achieriny)

Saya seorang Coffee Addict, mencintai keanekaragaman kopi di Indonesia merupakan hal yang menarik buat saya. Belajar mengenal kopi arabika, robusta, dan menyesapnya pelan-pelan dengan menghirup aroma kepul kopi dalam-dalam. Kopi adalah minuman paling bersahabat dekat dengan saya yang kerapkali menemani menulis hal-hal sepele dalam hidup yang tidak tahu kapan kita akan benar-benar — pulang. Kuaci, kopi, dan lagu-lagu instrumental Turki, menjadi sahabat pagi ini dalam mengenang problematika yang disuguhkan kehidupan dalam sebuah tulisan.

Daya magis biji-biji kopi pilihan muncul dari segelas kopi ketika disesap, segenap tubuh merasakan kehangatan aroma serta cita rasa yang berpadu dengan ketikan jemari dan layar monitor. Saya membaca banyak hal mengenai kopi flores, kopi toraja yang memiliki rasa yang berbeda dengan kopi gayo, dengan kopi aceh, dan perbedaan tekstur yang berbeda pula dengan kopi jawa, serta proses pembuatan kopi luwak yang unik, atau kopi arabica khas Bejawa Maumere yang dijuluki kopi berkelas dari pelosok negeri serta ragam kopi yang lain, yang bahkan belum sempat terbaca seluruhnya ditemani lantunan ayat-ayat suci yang bergema lewat pengeras suara rumah-rumah ibadah dan cuaca yang mendung terekam amat baik di kepala.

Cappucinno adalah rasa kopi yang paling juara untuk saya jatuhkan pilihan dalam menikmati kesendirian dan merayakan kesepian. Minuman kopi yang paling banyak digemari di dunia ini ternyata memiliki sejarah yang cukup unik. Dilansir Reader`s Digest, nama capppucino diberikan karena konon katanya warna minuman itu mirip dengan syal yang dikenakan oleh para biarawan Capuchin. Sejarah bagi saya memang selalu menarik untuk digali.

Dan gara-gara kopi, saya pun kerapkali ditegur, sebuah teguran kecil sekedar mengupas hal-hal baik dari orang-orang yang mencintai saya terutama kepala suku di rumah, ia bilang; Saya tidak boleh seringkali minum kopi, cafein yang berlebihan tidak baik untuk tubuh, apalagi ditambah ketika ia membaca bahwa cafein dapat mengecilkan payudara. Ok. Fix. Wassalam. Tambah lebaylah dia melarang.

Padahal, hanya dengan secangkir kopi, banyak tulisan yang telah saya petik untukmu.

Padahal dengan secangkir kopi, saya mampu membuatmu bangga karena menjadi tamu undangan blogger dan bisa jalan-jalan gratis selama 4 hari ke perkebunan kopi terbesar di Lampung. Mengupas perjalanan panjang secangkir kopi dan menikmati sebuah arti perjalanan berpetualang ke tempat daerah-daerah yang bahkan belum pernah saya jambangi. Mengenal arti persahabatan, tradisi, dan budaya minum kopi dalam tiap daerah yang berbeda.

Padahal dengan secangkir kopi, kita belajar menyesap pelan, lalu memikirkan banyak hal mengenai kepahitan hidup yang masih perlu dimaniskan.

Padahal dengan secangkir kopi, kerapkali ngambek saya padamu yang kemarin, mulai mereda.

Padahal dengan secangkir kopi, hati menjadi begitu lapang menunggumu pulang saat telat datang.

Padahal dengan secangkir kopi, saya kerapkali berterimakasih pada Tuhan karena sudah merindukanmu.

Sebab, dibalik hitam dan segala yang kau sebut pekat itu tak selamanya jahat. Dibalik ampas kopi juga tidak selamanya ia yang berwarna lebih hitam dari dosa-dosa kelam seorang perempuan. Sebab segala hal yang lebih pahit dari kopi adalah kenyataan.

Bukankah hujan selalu menemukan kopi sebagai jodohnya?

Dan akan ada hari dimana kita akan menari diatas kepul kopi dan menikmatinya, menjadi rindu yang diabadikan pelukan-pelukan hangat dari tangan hujan dikemudian hari. Menggapai semua hal yang kau sebut cinta dan dosa yang lahir dari rintik yang jatuh satu-satu.

Mungkin, kita adalah bagian dari anak nusantara yang lain yang selalu menemukan cerita dalam secangkir kopi dan sama-sama seorang bayi yang lahir dari pelukan ibu.

Mari, bersama langkahkan kaki dalam jejak yang kemarin, kita menjelajah, dan mencintai hal kecil dari sebutir biji kopi.

Berawal mengikuti trip ke lampung, mengetahui banyak hal mengenai konteks penanaman kopi yang baik serta berbincang banyak dengan agriculture specialist dan berkunjung ke Demo Plot Nursery. Menyimak mata rantai dari perkebunan kopi – ke petani – ke KUB – sampai kemudian diolah menjadi produk jadi dan bermetamorfose dalam secangkir kopi  yang dapat kita nikmati sekarang. Perjalanan singkat itu, ternyata mampu menghidupkan kembali keinginan untuk mempelajari keanekaragaman tradisi unik dalam segelas kopi.

Ingatan manis dari sebuah ampas hitam yang masih saja menggelayut di kepala memberikan kita sebuah cerita yang lain”

Ketika sampai pada hari keberangkatan ke perkebunan kopi, saya berusaha untuk membuka mata, sekedar lebih banyak melihat dan sedikit tidur selama perjalanan, upaya membangun tanggung jawab untuk menceritakan kembali apa yang telah saya lihat dan apa saja pengalaman yang didapat hari ini. Dari lampung kota, kita banyak menemui lambang siger, yang menandakan ciri khas kota lampung, siger merupakan perlambang saling menghormati dan menghargai, tak terasa mobil kami telah menuju ke daerah kecamatan Pesawaran-kabupaten Tanggamus, daerah yang melewati hijaunya alam dan indahnya perbukitan, walaupun di beberapa tempat tampak cerukan tanah di bukit-bukit ulah kuasa pertambangan, di kiri-kanan halaman rumah penduduk banyak ditanami pohon coklat, sebagian halaman lagi untuk menjemur biji kopi.

Setelah menuju ke daerah kecamatan pringsewu kabupaten Tanggamus, mobil yang kami tumpangi sudah mulai mengalami kemacetan dan jalan tersendat, berpapasan pada jalan sempit yang otomatis memperlambat laju kendaraan, walaupun tidak sampai mengelus dada seperti Kota Jakarta. Sesampainya di kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus kita sampai di perkebunan kopi percontohan. Sebagian kopi yang dibudidayakan di Tanggamus adalah jenis kopi Robusta

Di bawah tanaman kopi kita bisa melihat tanaman arasis yang berfungsi untuk menjaga kelembapan tanah. Serta ditemui tanaman penaung atau tumpang sari yang berfungsi sebagai pupuk alami dan  sumber Nitrogen. Negara Indonesia adalah negara terbesar penghasil kopi ke 3 di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Dan Lampung adalah provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia. Perkebunan yang baik yang selalu melakukan peremajaan tanaman kopi, karena banyak juga tanaman kopi yang sudah berumur 20 tahun.

Jika ada pertanyaan mengapa diperlukan peremajaan tanaman kopi? Sebab pohon kopi yang telah tua akan berkurang produktifitasnya dan mengurangi kualitas biji kopi yang dihasilkan.

kopi Robusta dari Lampung banyak diminati industri kopi dunia seperti Amerika, Eropa, Korea dan Jepang. Robusta Tanggamus memiliki ciri khas dibandingkan kopi di wilayah lain. Pasalnya, ini sangat bergantung pada kesuburan tanah di Tanggamus dan pengelolaannya yang menggunakan pupuk alami. Letak geografis juga memberi pengaruh pada ciri khas kopi Tanggamus. Kopi robusta dapat ditanam di atas ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), sebab kopi yang ditanam di antara ketinggian 100 hingga 200 mdpl rasanya agak hambar.

Kenikmatan kopi Tanggamus yang saya teguk kala itu terbuat dari biji-biji kopi terbaik yang ditumbuk halus dan diseduh dengan peralatan masak sederhana tapi mampu menciptakan rasa kopi yang luar biasa.

Perjalanan perkebunan kopi yang kemarin, seharusnya dapat menjadi awal perjalanan kita yang baru. Agar kita kembali, menghirup aroma kopi dan mengangkat kembali tradisi ngopi di setiap daerah dan keragaman kopi yang nusantara miliki. Dengan bersentuhan langsung bersama masyarakat kita akan dapat menukarnya melalui cerita-cerita seru yang kita selami sendiri.

Banyak orang bilang, bahwa Tuhan menciptakan kopi, agar banyak hal satu persatu kelak mampu kita pahami, bahwa setiap rasa pasti — bisa dinikmati. Atau bisa saja kita diijinkan untuk menjadi melankolis sementara, sekedar mencari rindu dalam secangkir kopi yang hilang dipermukaan. Sampai pada akhirnya cinta menguatkan kita pada hal itu. Di jari semua tertulis segalanya. Ada wangi kopi robusta yang saya telan lekat-lekat. Berharap seiring waktu percakapan kita tak pernah menjadi mahal.

Bukankah, dibalik secangkir kopi ada cinta disana? Dipermukaan cangkir yang dituang dengan cara sederhana dan tersenyum padamu seperti biasa. Kopi di cangkir hampir habis, mendekati ampas yang terkadang tertelan dan membuat saya terbatuk-batuk, namun anggap saja percakapan kita tak pernah selesai. Serta katakan pada ia yang mencintaimu;

Suatu saat, jika rasa kopimu, mendadak hambar. Bawa kepulnya menari disampingku, kemudian nikmati. Manis mulai terasa ketika kita membuka percakapan seperti biasa.

Suatu saat, jika rasa kopimu mendadak hambar. Bawa pekatnya kehadapanku. Rasa getirnya akan merubah segala yang pahit di matamu. Lalu tunggu, sampai waktu menarik kita ketempat manis yg baru.

Suatu saat, jika rasa kopimu mendadak hambar. Bawa cangkirnya didekatku. Harumnya akan merebut jiwamu sampai angin menuntun kita, untuk sama-sama menikmati dengan cara kita sendiri.

Suatu saat, jika rasa kopimu mendadak hambar. Biarkan ia menjadi pahit sesuai kodratnya. Sebab, tak selamanya yang bernama pahit, juga harus kita nikmati. Pahit dalam hidupmu yang seperti ampas kopi itu, sesekali perlu – – Dibuang.

Sama seperti halnya kalimat yang kita temukan dari banyak buku. Bahwa rahasia dunia rahim, hanya bisa kamu ketahui ketika kamu sudah tak lagi berada di dalam rahim, begitupun dengan rahasia kehidupan yang hanya dapat kamu ketahui ketika dirimu berada di luar sistem kehidupan, serta rahasia dalam secangkir kopi, yang kelak akan bisa kau temui ketika kau menyeduhnya – kembali.

 

Dessy, Bekasi

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

8 thoughts on “Menjelajah Aroma Kopi Dalam Secangkir Tulisan”

  1. Saya penggemar kopi,, namun setelah dokter menyarankan untuk mengurangi ,, rasanya tu .. seperti menelan hampas kopi yang berlebihan 🙂
    Ga pernah bosan kepoin tulisan kk cantik
    Sayasuka sayasuka
    Sukses terus..

  2. Antara kopi dan kenangan, antara kepulan asap secangkir kopi dengan embun-embun pada kaca jendela kala hujan, semuanya menyatu. Berpadu. Bersimfoni-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *