Aku Anak Jujur dan Keajaiban Mendengarkan

Dengan menghormati kehidupan, kita memasuki sebuah hubungan spiritual dengan dunia, begitu pun arti dari sebuah kejujuran yang memiliki nilai-nilai spiritual. Sebuah kebahagiaan, kelegaan yang didapat dari orang-orang yang terbiasa berkata benar.

Melempar pandangan yang berbalut senyuman, keajaiban mendengarkan, menikmati kucuran kasih sayang dalam keluarga, menanamkan kepercayaan, bagi saya adalah langkah penting untuk membangun tradisi hidup jujur yang kelak menjadi kebiasaan.

Apa yang kalian tangkap dari arti kata kejujuran?

Lantas, apakah generasi yang mencerminkan realita kekinian mampu memahami arti kata jujur?

Sebelum kata jujur kita peroleh dari anak-anak, maka kunci utama adalah bagaimana kita sebagai orang tua, melatih cara mendengarkan dan menjadi pendengar yang baik lebih dulu. Baru kemudian step-step jujur dalam diri anak-anak yang kita tanamkan kelak akan tumbuh seiring waktu.

Gemakan “Aku Anak Jujur”

Saya berbicara demikian, dikarenakan pernah mengalami fase kesalahan dalam hal ini. Moment yang paling membuat saya menyesal adalah kurangnya pengalaman dalam hal mendengarkan. Kita sebagai orang tua kerapkali egois dan menjadi manusia yang “Maha Benar” atas segala pendapat dan spekulasi yang kita ambil dari sebuah masalah tanpa melihat lagi ke dalam sebuah masalah tersebut.

Sehingga kejujuran yang kelak ingin mereka sampaikan terkadang tertahan, kemudian menjadi momok menakutkan untuk jujur dalam diri sendiri menjadi pupus perlahan. Lalu mereka merasa nyaman untuk tidak mengatakan hal sebenarnya dan pelan-pelan hilangnya norma-norma sebagai penghormatan terhadap kehidupan tanpa kita sadari. Padahal, kita sebagai orang tua memiliki andil besar yang membuat mereka nyaman untuk berbohong dari pada jujur atas apa yang mereka ingin sampaikan.

Karena sebuah kesalahan dari “KEMARAHAN”orangtua tanpa mendengarkan.

Saat itu tidak sedang musim hujan, namun hujan yang baik itu tetap menyapa kota kami dengan derasnya, membasahi aspal jalanan, menyiram rerumputan dan menikmati aroma tanah yang diberikan alam karena banyaknya debu kering terlalu lama tersimpan di hari-hari kemarin. Anak kedua saya pulang sekolah, mereka menggunakan fasilitas jemputan mobil sehingga saya tidak khawatir ia kehujanan. Namun prasangka saya salah, ia keluar dari mobil dengan kondisi basah dari atas sampai bawah, yang saya tangkap bahwa ia main hujan-hujanan lebih dulu sebelum dijemput. Saya marah, tanpa menanyakan hal “MENGAPA dan KENAPA“ ia kehujanan.

Lalu selang kemudian, ia memberikan hasil karya mewarnai, yang terlihat di mata saya hanya diwarnai seluruhnya dengan krayon hitam, sedikit warna coklat dan menyisakan warna putih bulat dibagian ujungnya. Lagi-lagi saya marah, saya berpikir bahwa ia tidak sungguh-sungguh mengerjakan pekerjaan sekolahnya pada mata pelajaran “Seni Budaya dan Keterampilan” karena hasilnya hampir seluruhnya hanya di warnai “HITAM”.

Kejujuran tidak hanya diambil patokan bahwa ia berbuat kesalahan dan sanggup mengakuinya dengan benar. Namun berani dalam mengungkapkan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka juga merupakan kejujuran, yang kelak membuat ia berani untuk mengungkapkan hal-hal yang ia anggap benar dan pantas untuk ia ceritakan kepada kita, tidak hanya sebagai orang tua, namun sebagai teman, sebagai tempat curhat mereka yang paling pertama melebihi siapa pun, sebagai sahabat, tentunya sebagai pendengar yang baik di hati mereka, agar tidak terjadi sebuah kesalahpahaman. Ini yang kurang disosialisasikan khususnya kita sebagai orang tua, yang kerapkali pembelaan dalam diri mereka hanya dianggap membangkang, sekedar alasan atau yang lebih parah lagi istilah “Jika orang tua bicara dan menasehati, kamu harus mendengarkan, jangan malah dibantah” Sesungguhnya saat kata-kata itu terlontar maka, kita sendiri yang sedang mengajarkan betapa tidak pentingnya mendengarkan. Karena ucapan mereka yang ingin menjelaskan, TERABAIKAN.

Sampai pada waktu malam hari, saya kerapkali melakukan serangkaian aktifitas untuk bicara sama-sama di kamar anak-anak. Menanyakan banyak hal pada mereka, bagaimana di sekolah, bagaimana dengan kawan-kawan, apa terjadi yang membuat mereka sedih dan bahagia seharian ini. Ocehan yang terlontar dari mereka kerapkali membuat saya belajar kembali menjadi orang tua yang baik, karena setiap hikmah dalam hidup mampu kita dapatkan dari siapa pun, tidak terbatas umur, miskin kaya dan penghalang lain sebagainya.

Ia menceritakan peristiwa yang terjadi di sekolah, mengawalinya dengan meminta maaf lebih dulu karena ia tahu saya sempat marah siang tadi. Ia bilang, ia kehujanan karena ingin membaca buku di sebuah perpustakaan keliling, berupa bus yang berisi macam-macam buku yang dapat dibaca oleh para siswa dengan gratis. Jadi ia berlari saat hujan ke mobil perpustakaan keliling tersebut yang kebetulan parkir berada di lapangan sekolah. Ia menceritakan ilmu-ilmu yang ia dapat saat membaca disana, mengenai rasi bintang, planet, bagaimana terjadinya angin tornado, seberapa besar bumi dibandingkan planet-planet lain dan sebagainya yang bahkan ia mampu menjelaskan lebih detile dari pengetahuan yang saya miliki mengenai hal itu. Lalu, pantaskah saya marah atas kejadiannya kehujanan yang membuat bajunya basah dibandingkan dengan banyak ilmu yang ia dapat? Pertanyaan itu berulang-ulang saya putar di kepala.

Rupanya, betapa pentingnya bicara dari hati ke hati….

Tidak hanya berhenti sampai di sana, ia pun meminta maaf atas hasil dari mewarnai saat mata pelajaran SBK yang hanya mendapatkan nilai 6, ia menceritakan pada saya, ibu guru memberikan gambar burung hantu dengan sebuah dahan pohon yang mati tanpa ada daunnya, lalu ada bulan di tengahnya. Semua teman-temannya mewarnai dengan aneka warna yang menarik. Burungnya ada yang diwarnai merah, kuning, hijau dan langit yang biru cerah. Ia bilang, kenapa mami marah siang tadi? Ini burung hantu mi, burung hantu itu gak ada yang memiliki bulu warna warni, ini bukan burung Nuri. Makanya aku warnain hitam burungnya. Karena burung hantu warnanya hitam, di sini juga ada bulan, ini bukan matahari, kalau ada bulan, itu tandanya malam hari. Makanya langitnya juga aku warnain warna hitam, kecuali dahan ini, aku warnain coklat tua, dan bulan aku biarin warna putih pucat. Mereka yang mewarnai dengan krayon warna-warni dapat nilai tinggi sama bu guru, sedangkan aku hanya dapat nilai 6 dan mami marah. Seharusnya nilai aku paling tinggi, karena aku warnain sesuai dengan objek kenyataan yang ada di gambarnya.

Saya sempet tercengang dengan jawabannya, jawaban dari anak kecil ketika ia kelas 2 SD, yang terkadang memiliki pemikiran yang lebih jauh ke depan dibandingkan anak-anak seusianya. Hal yang membuat saya menyesal dan teringat sampai sekarang. Betapa seharusnya saya bangga atas hasil karyanya, yang memang pantas untuk diberikan nilai tinggi, atau paling tidak, mendapatkan pelukan paling hangat dan senyuman paling manis dari kita, sebagai orang tua mereka.

Mereka di sekolah juga belajar jujur atas sesuatu, dengan adanya kantin kejujuran yang menjadi program di sekolah. Mereka belajar untuk membeli sesuatu dan membayar dengan mengambil kembalian sesuai dengan haknya.

Kini, selain dari kejujuran, budaya mendengarkan saya tanam baik-baik di kepala saat mengambil keputusan dan mengungkapkan banyak hal lebih banyak, agar tidak kembali mengulang kesalahan yang sama.

Beranilah berkata jujur, karena kejujuran sekecil apa pun akan berdampak besar. Dengan berani berkata jujur, dan memberikan mereka ruang untuk menyampaikan sesuatu. Anak-anak kini, menjadi pribadi yang lugas dalam berpendapat, lebih berani mengungkapkan sesuatu dan berani protes atas apa yang mereka anggap seharusnya perlu diluruskan, karena setiap manusia memiliki kapasitas yang dapat melakukan kesalahan yang sama. Baik itu dalam pelajaran di sekolah dan kehidupan sehari-hari. Mereka terbentuk menjadi jiwa-jiwa kritis dan menghormati kehidupan yang kelak menanamkan segala hal bahwa katakanlah jika benar, memang benar, jika salah memang salah. Belajarlah menanamkan gerakan “Aku Anak Jujur” saat di rumah, di sekolah, di lingkungan, dimana-mana. Sebab, kejujuran akan timbul ketika lingkungan disekitar kita juga mampu merangkul hal yang sama. Kelak kejujuran menjadi prinsip terpenting untuk meningkatkan kecerdasan spiritual dan emosi.

Mari kita gemakan “Aku Anak Jujur”

Seperti halnya yang dikatakan Chief Seattle “ Manusia tidak merajut kehidupan. Kita hanyalah satu utas benang di dalamnya. Apa pun yang kita lakukan pada jaring itu, kita lakukan pada diri kita sendiri. Semua makhluk terikat menjadi satu. Semua makhluk berkaitan”

 

Dessy Achieriny

 

2 thoughts on “Aku Anak Jujur dan Keajaiban Mendengarkan”

  1. Nilai kejujuran sangat berarti bukan hanya sekedar tidak berbohong tetapi lebih dari itu, termasuk semua kejujuran yang ada di dalam hati yang bisa terungkap suatu saat nanti

    1. Kejujuran adalah bentuk kelegaan. Kita kerapkali membutuhkan banyak hal untuk mempelajari dan mengungkap sesuatu hal. Sebagai sebuah benturan untuk tidak mengulangi kesalahan atau pun kekecewaan yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *