Finding Mr Right 2

Mungkin, waktu keseharian dalam hidup saya lebih banyak dihabiskan dengan menulis dan menonton film. Kesepian bukan hal menjenuhkan, saya seolah mempunyai dunia lain yang memang sengaja saya buat dan saya ciptakan sendiri dengan menghabiskan waktu menyelami berfilm-film setiap hari, selain mengerjakan urusan rumah tangga sebagai kewajiban seorang wanita. Agar yang bernama kebosanan hilang jauh-jauh dalam hidup saya. Buat saya pribadi, dengan menonton banyak genre film membuat kita banyak mengenal karakter orang lain.

Belajar mengenai kehidupan dan juga banyak hal tanpa harus sibuk berkecimpung mengurusi kehidupan orang lain.

Lewat film ini juga, saya seolah diajak lebih dalam untuk mencintai sebuah tulisan.

“Sebab tulisan adalah kata cinta yang menjangkau 1000 mil jauhnya. Seperti sebuah surat, terkadang menunggu sebuah surat terasa sangatlah lama. Namun menulis surat mengharuskanmu untuk pelan-pelan perlahan, mengetik hal yang paling romantis  dan dirasakan hati. Proses yang perlahan menemukan cinta sejati adalah sesuatu yang memang hadiah terbaik. Bagi kita yang kerapkali bersabar dalam sebuah kata tunggu yang panjangnya tak bisa kau prediksi itu.”

Karena tulisan memiliki mata, yang mampu melihat ke arahmu.

Finding Mr Right 2

Apalagi film ini dirilis sebagai penghargaan bagi Hanff atas bukunya yang menginspirasi banyak orang dibelahan dunia dan kisah cintanya yang abadi. Tertuang dalam buku “84 Charing Cross Road”

Siapa itu Hanff?

Helene Hanff adalah penulis drama Amerika. Ia melakukan surat menyurat dengan penjual buku London Frank Doel selama 20 tahun tanpa pernah bertemu secara langsung.

Film drama genre komedi romance dari negeri china ini penuh liku, yang berlatar 4 negara. Kisah yang mengulas cinta seorang pria dan wanita yang selalu berkirim surat tanpa pernah bertemu, pelajaran dari cinta nenek2 dan kakek2, kisah psikologis anak-anak dan orang tua mereka, kisah mengenai kesulitan hidup di masa lalu, mencari jati diri, bagaimana pandangan kita untuk memilih orang yang tepat dalam hidup dan mengajarkan kita bahwa sejauh apa pun kamu pergi, kamu akan mencintai kampung halaman, kehidupan yang dijalani dengan kepicikan hanya akan menghabiskan waktumu dengan sia-sia tanpa ada kebahagiaan setelahnya. Banyak hal yang kita pelajari dalam film ini, film yang berbobot dalam segi mengembangkan skenario film menurut saya.

Film ini menceritakan latar belakang seorang wanita yang bekerja menjadi pelayan sebuah Casino harus berjuang sejak kecil membayar hutang ayahnya yang kalah taruhan dan dikejar-kejar rentenir hingga ia berjanji untuk tidak pernah berhutang dalam hidupnya, namun ia ingkari dan mengalami hal yang sama dengan ayahnya. Sampai akhirnya sebuah buku lama membuat ia berkirim surat dengan seorang pria yang ia panggil “Profesor” seorang agen real estate di california dan wanita itu memperkenalkan dirinya dengan sebutan “Udang kecil” dalam suratnya, namun mereka tak pernah bertemu secara langsung.

Karena seringnya berkirim surat, tumbuh rasa cinta dari masih-masing mereka.

Finding Mr Right 2

Kalian akan diajarkan juga untuk mencintai sebuah rumah di film ini. Karena rumah, tempat hati menemukan kedamaian. Rumah adalah tempat keluarga tinggal. Jika keluarga meninggalkanmu, rumah itu ada dimana? Jawabannya sederhana; Rumah akan selalu ada — Di hatimu.

Petikan yang membuat saya tertarik di film ini ada pada kalimat; “Banyak orang-orang kaya, terkadang memperlakukan hubungan seperti transaksi bisnis dan bercerai karena emosi. Uang kerapkali tidak membuat mereka lebih pintar untuk mampu mengenal, mengenai cinta itu apa? Sungguh kasihan”

Dan scene yang membuat saya menangis, ada di adegan ketika nenek2 dan kakek2nya meresmikan pernikahan mereka diumur yang lebih dari 80 thn. Sebab dulu, pernikahan dirasa tidak perlu diresmikan dan berpuluh2 tahun juga mereka tidak memiliki buku nikah. Mereka hanya menikah secara agama, dengan membayarkan beberapa ekor keledai ke orangtua wanita. Perbedaan karakter diantara mereka tak menyurutkan benih cinta yang hadir walaupun hingga setua itu.

Kakek-kakeknya itu bilang di depan altar sebuah gereja saat meresmikan pernikahan mereka sebagai bentuk penghormatan seorang pria kepada wanita yang dicintainya; “Hai kamu wanita tua, yang hanya menghabiskan waktu dengan merajut, yang kerapkali lebih sering menangis seharian, kesehatanmu pun tak sebaik diriku, aku yakin kau dipanggil oleh Tuhan lebih dulu untuk meninggalkanku, kau orang bodoh yang bahkan membaca saja tidak bisa, tapi dengan semua kelakuan burukmu, aku mencintai semuanya. Aku berharap kau meninggal lebih dulu, karena orang sebodoh dirimu tak akan mampu mengurus hidupmu yang menyedihkan itu sendirian sehingga membuat aku khawatir jika aku meninggalkanmu lebih dulu. Jika kau sudah berada lebih dulu di surga, semoga kau berkenan menunggu aku di sana, jika kau menolak untuk menunggu orang yang bertemperamen buruk seperti aku ini, maka carilah orang yang lebih baik untukmu di surga, aku sudah mengijinkanmu.” Kalimat ini terdengar sederhana, tapi membuat saya nangis sesenggukan. Pada akhirnya nanti, justru kakek-kakeknya yang malah meninggal lebih dulu dan neneknya menyebarkan abunya di danau tempat ia bertemu pertama kali.

lebih baik kamu lihat filmnya langsung, karena tulisan saya tidak cukup apik untuk menggambarkan film ini dengan lebih baik lagi. Happy Watching Finding Mr Right 2.

 

Dessy Achieriny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *