Kau Bebas Menyebutnya Apa Saja

Apa pernah kau merasakan garis masa depan dibentangkan dengan harapan-harapan yang terlalu lama tersimpan kemarin?

Malam ini, rindu paling nyeri, jatuh di dahan-dahan. Dibangunkan hujan.

Kau pun tahu itu.

Bukankah, kenangan pernah tinggal di jantungmu yang penuh debar, sampai hati milikku kerapkali tanggal.

Kau adalah segala kemungkinan yang diberkati Tuhan paling sederhana. Tumbuh menjadi senyum, dalam pucuk bahagia paling ranum.

Mari berpuisi, sayang.
Agar kita kerapkali mencintai hobby yang sama.

Kau pemilik puisi paling manis. Untuk aku oles diujung margarine roti kehidupan menikmati hal kemarin yang kerapkali kumohonkan pada Tuhan menjadi kita, meski tidak.

Kau, pemilik puisi paling manis. Untuk diikutsertakan pada setiap hal. Agar kita tak pernah lupa. Bahwa kita pernah menjadi kita.

Segala yang manis-manis atas apa yang kusebut tabah menyala, menjadi sejuk, menjadi ice cream, yang meleleh dimana-mana.

Kau bebas menyebutnya apa saja; apakah cinta, senja, rindu dan kita. Diantara lampu-lampu temaram di sebuah taman cinta yang kerapkali terpasung kokohnya gedung-gedung tinggi ibu kota yang menjulang ke langit dan jerit nyaring bunyi kereta api.

Percakapan kita kerapkali ada, ketika kau menunggu hal yang bernama kemacetan mereda dan kau lanjutkan mencium asap dan debu aspal jalanan kota jakarta dan anak-anaknya.

Sepertinya, kau terbuat dari kata. Ayah dari anak-anak puisi yang kita ciptakan sama-sama.

 

 Dessy Achieriny

2 thoughts on “Kau Bebas Menyebutnya Apa Saja”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *