Kisah Klasik

Dengarkan suara saya membaca Sajak Kisah Klasik disini–>

Terkadang, lelah membuat kita merindukan sentuhan-sentuhan dan kecupan hangat di pipi kiri.

Kepadamu, tuan bahasa. Pemilik kata yang memiliki bisikan paling lembut, disela-sela ingatan kita yang terlalu nyaring. Malam tak pernah membuatku ketakutan, tapi rindu rupanya sejahat itu. Ia terbuat dari kecemasan, kenikmatan dan kesedihan yang berlebihan.

Namun di tangan orang-orang sakit, kita akan belajar bersyukur, bahwa nikmat sehat masih dapat kita kayuh di pagi hari–Seharian. Agar nyeri tak pernah lagi kita rasakan.

Jika kau pemilik nama “Seharusnya”.

Aku pemilik nama “Seandainya”.

Lalu kita sama-sama melebur dengan kata “Semoga”

Sesederhana itu kata-kata mengikat senja.

Sebelum pergi dan kita sama-sama hilang, ceritakan kembali mengenai dongeng kejatuhan, sayang. Ruang paling dalam yang terbaca dengan degup, kikuk dan binar unggun matamu. Ini bukan soal kemana kita harus berjalan, dunia tak pernah mengubah apapun. Kita yang sibuk meminta sesuatu hingga mengubah cerita satu-satu. Sebab dunia disepasang matamu itu, memungut ingatan terserak di jalan raya. Agar orang-orang yang melintas percaya, bahwa kenangan dan hujan merupakan bagian dari surga.

Dengarkan aku bersuara kali ini, semua yang tertulis manis lewat hatimu, seharusnya tak memberikan harga. Agar tidak ada apa-apa yang pantas kau pinta kembali.

Pagi ini hanya ada kopi, sebuah buku move on lembar ke-59 dan lagu pop sepanjang hari.

Hujan jatuh semalaman. Embun dan dingin yang datang terlalu pagi itu sama-sama menyaksikan, banyak sepasang kekasih saling kecup bertautan.

Hujan jatuh semalaman. Derak daun yang jatuh mengigau minta dibersihkan, lalu ia sama-sama memberitahukan, sepasang manusia masih sibuk berpelukan.

Ketika aku menutup mata seluruh hari, entah kenapa kerapkali merasakan kepulangan. Hanya gelap, lalu satu persatu cahaya terang terlihat. Kita namakan ia “Nur’.

Apakah kau pernah jatuh cinta?

Kisah klasik yang hanya bermodalkan kesepian, kau mampu mengingat bahagia itu — Sendirian.

 

Dessy Achieriny

4 thoughts on “Kisah Klasik”

  1. Mbak nchie.. Kenapa sih tulisannya keren-keren kali?! Kenapa oh kenapa, mbaaaakkk?!?
    *sambil muterin tiang listrik terus gelundungan di rumput*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *