Skip to content

Lampung Krakatau Festival 2016 — Part 1

 

LKF 2012

Sebelum gaung perlombaan dimulai. Belajarlah untuk menerima kekalahan lebih dulu, sebagai bentuk pelajaran kemudian hari, agar dapat memberikan tulisan yang lebih baik untuk kita ketik hari ini, begitu seterusnya. Sehingga sebuah pertemanan dari banyak orang, satu persatu akan datang kepadamu, bukan rasa unik yang lahir dari sebuah kekecewaan untuk menyinggung perasaan orang.

Selera manusia dalam tulisan tak sama, tulisan seperti menu masakan, sayang. Kau suka asin, aku suka manis, mungkin yang lain suka asam.

Lalu apakah rasa yang mereka cicipi menurut selera mereka terasa buruk bagimu?

Begitupun sebuah tulisan.

Sebuah mental-mental tempe yang terbentuk adalah bukti kekanak-kanakan.

Sebagai pecinta literasi, saya belajar banyak dari kakek saya (Seorang sutradara dan penulis skenario) bahwa menulis harus bermulai dari hati, bukan mencari sensasi. Itu titik point utama agar tulisan kita mendapatkan banyak tempat di hati para pembaca, untuk kerapkali mereka kembali ke blog pribadi milik kita secara berulang. Sebab literasi tidak hanya sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori.

Hai teman, beranilah melangkah. Ini hidupmu, kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain. Jangan pernah takut akan sesuatu, sebab semakin pencapaian kita tinggi, angin yang berhembus semakin kencang.

LKF 2016

Email yang saya terima sebagai pemenang Blog Competition Lampung Krakatau Festival 2016 adalah titik balik langkah saya, untuk kembali kedua kalinya ke Lampung. Kota yang kaya akan budaya dan wisata. Dengan senyum ramah masyarakat yang membuat saya bertemu teman baik lagi dan lagi. Pemenang pertama diraih oleh mba Retno dari Jogja, pemenang kedua diraih oleh mba Indah dari New York, dan pemenang ketiga saya sendiri dari Bekasi. Kejutan terbaik yang Tuhan kasih kepada saya di akhir Agustus ini.

Udara masih terlalu pagi, kecupmu dan segelas teh manis hangat mengantarkan saya bertemu mba Lidya. Penerbangan kami bermula dari terminal 3 Bandara Soetta dan landing manis di Bandara Radin Inten II Bandar Lampung.

LKF 2016

Setiap langkah, saya kerapkali berharap membawa cerita hebat yang lain untuk ikut memeriahkan acara Lampung Krakatau Festival 2016. Panas terik matahari di lampung menyapa kami, berharap waktu menunggu tak terlalu lama dijemput oleh panitia LKF 2016 yang kebetulan diwakilkan oleh mba Nuri & Juri Blog Competititon mas Efenerr.  Dari bandara, mobil Avanza yang kita tumpangi  menuju Resto The Summit Bistro, yang terletak di Jalan Haji Hasan Rais, Sukadanaham, Kota Bandar Lampung. Rupanya The Summit Bistro ini merupakan gabungan dari restoran dan cafe yang memiliki panorama keindahan alam kota Bandar Lampung, kita bisa melihat pemandangan dari ketinggian. Saya sempat mengabadikan view dalam potret kecil bidikan kamera, lalu bercengkrama bersama para blogger lain sambil makan siang, mendengarkan pengalaman dari mas Efenerr yang sudah keliling dunia. Semoga wisata Lampung kian terangkat di mata banyak orang. Sungguh, saya beruntung kenal kalian.

Memanjakan lidah dan mata sekaligus serta mengisi perut yang lapar. Tak butuh waktu lama hingga saya memutuskan untuk memesan spaghety carbonara dan Ice cappucinno. Varian menu utama di sini memiliki cita rasa Eropa dan nusantara. 3 pemandangan sekaligus dapat kita tangkap yakni, perkotaan, perbukitan dan laut. Tempat rekomended untuk kongkow santai jika kalian hendak ke Bandar Lampung.

Oh abang Zainudin sayang, Hayati akan mengajak kau kesini suatu saat nanti.

 

LKF 2016

Setelahnya, saya mengusir lelah sebentar di CityHub Hotels sebelum menapaki serangkaian kegiatan Lampung Krakatau Festival 2016. CityHub Hotels yang saya jambangi terletak di Jl. R.A Kartini, hotel ini merupakan kawasan strategis pusat bisnis kota Bandar Lampung. Tempat yang ideal untuk menjelajahi kota Bandar Lampung secara cepat dan tak membutuhkan waktu lama perjalanan, hotel ini juga menyatu dengan El’s Coffee, menariknya di El’s Coffee menyajikan kopi yang beragam dari nusantara. Kedai kopi yang hipster di Lampung.

Kamu, pecinta kopi?

Kopi nusantara yang tersedia di El’s Coffee? Semua ada. Untuk robusta, ada Lanang Peaberry, Java Mocha, Flores, dan Lampung. Arabika ada Toraja, Aceh Gayo, Kintamani, Mandailing, Gunung Ijen, Pengalengan Bandung, Bajawa Flores, Wamena Papua, dan Takengon Long Berry. Jadi, kamu bisa puas minum kopi nusantara di satu tempat. Tak lupa saya pun membawa pulang oleh-oleh kopi Lampung dari Els,s Coffee.

LKF 2016

Lelah terbayar, kami pun menuju Festival layang-layang di PKOR Way Halim Bandar Lampung, yang masih dalam kesatuan rangkaian festival Krakatau 2016. Panitia juga mengadakan workshop pembuatan layang-layang dengan total 300 partisipan, diantaranya ada anak-anak dan peserta umum. Begitulah mas Dendi menceritakan kepada kami secara antusias. Ia pun bercerita kembali bahwa ada 4 negara yang ikut serta dalam Jelajah Layang-layang kali ini, yaitu Singapura, Australia, Perancis, Malaysia. Malam puncaknya ada layang-layang dengan Lampu LED (Light Emitting Diode) menerangi langit Lampung. Indah banget. Foto-foto apik jepretan kamera peserta lomba dari masyarakat pada hari pertama dalam event jelajah layang-layang juga menempel di dinding dan terlihat jelas ketika kami datang.

Saya kesana, sempat berpapasan dengan artis Maudy Ayunda. Rupanya bertepatan dengan syuting film The Naked Traveler yang diadaptasi dari novelnya mba Trinity. Sempet ramai juga di twitter bahwa ada berita dari salah satu wartawan surat kabar lokal yang mengeluhkan tentang Jelajah Layang-layang yang diadakan LKF 2016 tidak mengijinkan media meliput dan mendapat teguran karena motret di sana. Saya tertarik mengulas ini, karena pada dasarnya hanya terjadi kesalahpahaman semata. Sebab, menurut apa yang saya alami, saya puas motret di sana tanpa hambatan, mas dendi  salah satu panitia LKF 2016 dengan gamblang menjelaskan mengenai jelajah layang-layang, sambil sesekali saya sibuk mengambil gambar dalam bidikan lensa kamera dari macam-macam model layang-layang yang diterbangkan di sana. Larangan yang terlontar untuk tidak memotret, saya rasa keluar dari crew film yang hendak ambil gambar di sana saat syuting berlangsung,  jadi bagi saya sebuah kesalahpahaman jika panitia melarang, karena saya puas mengambil foto sebanyak apa pun yang saya suka saat jelajah layang-layang berlangsung. Belum lagi sebuah obrolan dari masyarakat ketika saya berbaur di sana, bahwa dengan diadakan workshop bagi anak-anak, mereka dapat memahami dan pandai membuat layang-layangnya sendiri. Asik kan?

Kalian tahu, menyimpulkan atas apa yang terjadi tidak bisa dari satu kepala, melainkan mendengarkan dari banyak kepala. Karena kewajiban mencintai pertama kali adalah “Mendengarkan”

LKF 2016

Dibalik jendela mobil saya mencatat nama-nama tempat yang hendak saya kunjungi di kepala, sebagai ingatan penuh yang hendak saya bawa pulang ketika kembali ke Jakarta. kali ini, saya diantarkan ke “Jelajah Rasa” dimana salah satu agenda dalam Festival Krakatau 2016 adalah Jelajah Rasa. Kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan di Provinsi Lampung. Jelajah rasa akan berlangsung dari tanggal 26 sd 28 Agustus 2016 bertempat di lapangan Saburai Enggal, Kota Bandar Lampung. Tidak hanya dibidang kuliner, namun juga rasa estetika, rasa tradisi budaya, rasa peduli dan rasa memiliki; dengan demikian dalam jalajah rasa disuguhkan berbagai kuliner, aneka permainan anak yang diikuti 8 food truck dari Jakarta dan Lampung, Bazar Distro, Launching Logo dan Tagline Pariwisata Lampung. Logo yang kalian lihat dalam event LKF 2016 dibuat oleh mas Erik, kepribadiannya sangat ramah sekali. Saya sempat mengabadikan berfoto bersamanya di kapal saat perjalanan menuju Anak Krakatau.

LKF 2016

Kembali istirahat untuk mandi sebentar di hotel, kami melanjutkan kembali ke Mall Boemi Kedaton untuk melihat Jelajah Pasar Seni. Jelajah Pasar Seni dimeriahkan dengan kegiatan Pameran Fotografi (Umum dan Bawah Laut), Pameran Desain Poster, Handicraft Expo dengan peserta UKM dari Lokal dan Nasional (berbagai jenis usaha kerajinan). Mas dendi kembali menjelaskan kepada kami bahwa kegiatan pendukung lainnya pada Jelajah Pasar Seni yaitu Pembacaan Puisi dan Pelukis, serta acara tersebut dibuka dengan tarian kontemporer khas Lampung. Pelukis yang tergabung dalam Dewan Kesenian Lampung ini mencoba melukis dan memberikan imajinasi mereka terkait puisi yang sebelumnya dibacakan yaitu; “Ketika Kata Menjadi Warna.’

LKF 2016

Malam pun tiba, kami dinner di Restoran Bukit Randu. Lokasi ini adalah ide dari mas Efenerr, pemandangan yang disuguhkan di sini tidak kalah spektakuler dari Resto The Summit Bistro. Dari sini, kita bisa melihat lampu-lampu kota yang berkelap-kelip diatas ketinggian. Lokasi ini dapat ditempuh 40 menit berkendara dari Bandara Raden Intan. Taman Nasional Way Kambas dan Pelabuhan Bakaheuni dapat dicapai dalam 2 jam berkendara, sementara untuk mengunjungi Pantai Mutuh akan memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil.

Esok, jejak langkah saya akan berada di Pantai Sari Ringgung dan Anak Krakatau, dengan niat hendak memuntahkan jepretan-jepretan foto dan menghidupkan kembali sebuah cerita sebagai tulisan selanjutnya. Tunggu tulisan selanjutnya di Lampung Krakatau Festival 2016 Part 2 ya……

 

Dessy Achieriny

Published inEvent

2 Comments

  1. Jangan kapok datang ke Lampung ya kak, lain waktu kita ngobrol2 di warung kopi khas Lampung lainnya 🙂

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Hai Mas Yopie… kita ngobrolnya di lampung cuma sebentar ya. Saya Padahal penggemar foto2nya.. Kemarin mau minta foto tapi malu.. ehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *