Memunculkan Sensasi Mengagumkan Mengenai Tradisi dalam Kemeriahan Festival Siti Nurbaya 2016

Tarian-tarian yang disuguhkan dalam Opening Festival Siti Nurbaya pict by: Dodi Kurniawan @uncle.dodi
Tarian-tarian yang disuguhkan dalam Opening Festival Siti Nurbaya
pict by: Dodi Kurniawan @uncle.dodi
Dekorasi Perhelatan Festival Siti Nurbaya 2016 Pict by ; gitaollyviaa
Dekorasi Perhelatan Festival Siti Nurbaya 2016
Pict by: @gitaollyviaa

Kata “Siti Nurbaya” sudah tidak asing di telinga, saya bahkan pernah tergabung dalam sebuah teater untuk memerankan Siti Nurbaya di dalam sebuah drama, yang digabung dengan musikalisasi sebagai penunjang pertunjukkan.  Kisah yang melegenda bagi masyarakat Minangkabau, bahkan gemanya sampai ke pelosok daerah lainnya ketika film ini diangkat ke layar kaca yang diadaptasi dari sebuah novel “Kasih Tak Sampai” ditulis oleh Marah Rusli.

Jika kalian asli Padang dan mencintai Ranah Minang, ah… sudahlah, tak perlu diragukan lagi. Namun, saya bukan orang Padang, 3 hari menjelajahi Padang membuat saya mencintai surga yang Tuhan ciptakan beserta anak-anak wisata pendukung lainnya disana. Menikmati segenggam kehangatan masyarakat, budaya, dan kearifan lokal yang terjaga.

Banyak hal yang mampu mendorong generasi muda untuk belajar mengenal seni budaya, mencintainya, sehingga terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya agenda tahunan kota padang yang bertajuk Festival Siti Nurbaya maka diharapkan mampu mengemas seni budaya dan keindahan wisata di kota Padang menjadi lebih menarik dan hidup.

Pict by: Dodi Kurniawan @uncle.dodi
Pict by: Dodi Kurniawan @uncle.dodi
Jadwal Festival Siti Nurbaya 2016
Jadwal Festival Siti Nurbaya 2016

Dalam Festival Siti Nurbaya selain memunculkan generasi-generasi yang cinta lingkungan, cinta negeri,  cinta budaya, generasi pengubah yang mampu mengangkat wisata lokal dan menginspirasi banyak hal dalam sebuah event yang kelak menjadi ikon event budaya Padang. Sedangkan untuk perhelatan Festival Siti Nurbaya tahun ini diadakan pada tgl 7-10 September 2016. Pertama kali Festival Siti Nurbaya di gelar pada tahun 2011. Diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang.

Kemeriahan bermula dengan digelarnya pembukaan festival, ada karnaval dan perahu hias yang acaranya jatuh di tanggal 7 September 2016 di Pantai Muaro Lasak (Tugu Perdamaian). Festival Siti Nurbaya diharapkan akan dihadiri oleh lembaga pemerintah, komunitas, organisasi masyarakat dan masyarakat yang berkenan hadir. 24 komunitas Padang pun ikut meramaikan acara ini, dengan tema Harmony Collaboration. Saat saya ngeblogger ke Padang, rasa kental dari kekerabatan antar komunitas disana juga memang sudah terasa. Mereka sangat solid dan menjalin keakraban yang kuat.

Ada banyak sekali lomba dan ragam aktifitas yang diadakan saat Festival Siti Nurbaya, diantaranya adalah:

Lomba Mambuek Teh Talua

Pict by: Dodi kurniawan @uncle.dodi
Pict by: Dodi kurniawan @uncle.dodi

Lomba membuat Teh Talua merupakan sentuhan kearifan lokal budaya Minangkabau secara langsung yang berupa tradisi meminum teh telur. Nah disini, para peserta diajak untuk membuat teh talua yang enak tanpa rasa amis dari telur. Menarik sekaligus memperkenalkan tradisi minum teh talua dalam event ini.

Lomba Maelo Pukek

Pict by: Dodi Kurniawan @uncle.dodi
Pict by: Dodi Kurniawan @uncle.dodi

Maelo Pukek lebih dikenal dengan tradisi menarik jala. Menarik Jaring Ikan merupakan cara Tradisional Nelayan Masyarakat Ranah Minang kala menangkap ikan di pinggir laut atau pantai. Aktivitas yang biasa dilakukan setiap pagi oleh nelayan di pesisir pantai Sumatera Barat, tepatnya di pantai Pasir Jambak Padang, rutinitas ini masih bisa kita lihat sekitar pukul 08.00 – 11.00 wib.

Dalam kegiatan maelo pukek terdiri dari 10 orang nelayan atau bahkan lebih. Mereka terlebih dahulu berlayar ke tengah pantai sejauh lebih kurang 1,5 kilometer untuk menebar jaring. Setelah jaring disebar, nelayan kembali ke tepi pantai, untuk menarik jala tersebut. Para nelayan ini berjalan mundur secara teratur. Nelayan yang paling belakang akan maju ke depan untuk mengisi kekosongan secara bergantian dalam menarik pukek dengan lenggok badan yang seirama. Dalam pembagian hasil, ikan yang didapat akan dibagi rata pada semua nelayan yang menarik pukek. Ini merupakan suatu tradisi sangat unik yang ada di Ranah Minang. Semoga dengan adanya Festival Siti Nurbaya tradisi dan budaya Maleo Pukek ini mampu terjaga.

Lomba Selaju Sampan

Tradisi ini sudah jarang dan hampir langka kita temui. Balap sampan yang biasa dilakukan oleh masyarakat pesisir selatan menggunakan sampan naga dan genderang. Di Pesisir Selatan, selaju sampan juga dilakukan berdasarkan kebudayaan masyarakatnya. Sampan tradisional terbuat dari kayu. Ada 12 orang mendayung dalam satu sampan. Ketika di garis finish, peserta terdepan harus menyentuh tong yang disediakan. Tim yang bisa menyentuhnya dengan dayung terlebih dahulu, itulah yang berhak menang. Dalam Festival Siti Nurbaya Lomba Selaju Sampan kini dihidupkan kembali. Agar masyarakat tak lupa mengenai tradisi.

Lomba Manggiliang lado

Pict by; Dodi Kurniawan @uncle.dodi
Pict by: Dodi Kurniawan @uncle.dodi

Tradisi menggiling cabai ini merupakan hal sederhana namun menarik. Karena orang padang selalu memasak dengan aneka yang kaya akan bumbu terutama cabai. Uniknya, batu gilingnya berbentuk bulat sebesar kepalan tangan orang dewasa. Dibutuhkan tekhnik khusus tidak hanya sekedar menggiling cabai agar cabai lebih cepat halus. Wanita minang harus pintar menggiling cabai kata orang tua dulu.

Pawai Bendi

Di daerah saya, kita menyebutnya delman. Kendaraan khas minangkabau yang ditarik oleh seekor kuda. Bendi adalah warisan budaya yang patut kita lestarikan juga. Arak-arakan bendi memeriahkan acara Festival Siti Nurbaya dengan euphoria masyarakat yang tak kalah serunya menyambut arak-arakan ini.

Lomba Mangukua Karambia

Pict by: @wahyuamuk
Pict by: @wahyuamuk

Tradisi memarut kelapa ini menggunakan parutan kelapa khas minang, banyak diikuti oleh wisatawan asing yang lebih exited menjadi salah satu pesertanya. Event ini memang sengaja mengajak wisatawan asing untuk berperan serta aktif agar mereka memiliki kesan dalam perhelatan ini. Lalu pulang membawa cerita ke negeri mereka, sehingga gaungnya sampai ke luar negeri.

Penutupan acara Festival Siti Nurbaya 2016 Pict by: @gitaollyviaa
Penutupan acara Festival Siti Nurbaya 2016
                  Pict by: @gitaollyviaa
Pict by @wahyuamuk Pemenang Juara 3 Festival Siti Nurbaya
Pict by @wahyuamuk
Pemenang Juara 3 lomba foto Festival Siti Nurbaya

Selain itu ada lomba Panjat Pinang, aneka permainan Anak Nagari mulai dari Enggrang, Sepak Rago, Tarompah dan Tampuruang. Serta masih banyak aneka lomba lain yang sangat sayang kalau dilewatkan.

Semoga dengan diadakannya Festival lain seperti ini, kelak tradisi budaya dan keunikan di negeri kita tidak lekas menjadi asap yang menguar ke langit. Masuk dalam himpun jerit semesta kekinian dan pikiran congkak yang menggerus seni budaya lalu hilang dimakan zaman. Namun kerapkali mampu menjadi lintas generasi, lintas etnik, yang melebur dalam tanah kehidupan di ranah minang ke depan.

 

Dessy Achieriny

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Festival Siti Nurbaya 2016 yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang

8 thoughts on “Memunculkan Sensasi Mengagumkan Mengenai Tradisi dalam Kemeriahan Festival Siti Nurbaya 2016”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *