One Day

Hari itu…

Matahari seolah pergi meninggalkan kita jauh-jauh. Tak ada terik. Aku tak perlu berteduh, karena cuaca rupanya sudah benar-benar teduh di bawah parasmu itu. Hingga mungkin, ia juga ikut mendengarkan semua coletahanmu atau bahkan celotehanku yang bertukar untuk sama-sama kita dengarkan di sebuah kedai makanan cepat saji.

Aku sudah melihat semuanya, kebekuan yang menembus dingin yang asing dari masing-masing kita. Memaparkan segala ruang, di waktu-waktu lampau sebelum pintu, jendela, dan  udara yang mampu memasukkan aku, telah Tuhan tutup rapat-rapat. Aku tak perlu memerankan apa-apa, aku hanya menyiapkan diriku untuk kau cintai dengan cara paling sederhana. Dengan membolak-balikkan ponsel agar rasa kikuk, segera mereda.

Cahaya matamu, menandakan kemeriahan kita masih belum usai, mari bersenang-senang! Seru suara dalam hati yang kerapkali terjun di bawah akal sehat waktu itu. Aku menangkapnya dari senyum paling bisu, yang tak bicara, tapi aku mengerti artinya.

Diamlah, tuan. Ijinkan aku menatap matamu lama-lama sampai waktu dan hujan berhenti dengan sendirinya

Kala itu, aku anggap waktu paling baik sebagai istirahat panjang dari segala kesulitan hidup yang aku sembunyikan dari kepala orang-orang. Lalu pergi kepadamu, ke dalam kota yang penghuninya sama sekali tak mengenal kita dan tak pernah mempertanyakan kenapa kita berada di sana.

 

Hari ini…

Aku sudah berhenti untuk menghitung detak seberapa kencang di hari kemarin. Kita tak benar-benar menjadi lelah. Malam kerapkali membuat kita terjaga untuk merekam segala hal, agar yang bernama lupa —  tak perlu kita bawa pulang.  Ada waktu usai bagiku dan tiba waktunya kita pergi. Tanpa pamit dan aku tak perlu lagu-lagu pengiring yang sengaja membuat kita patah di tengah setelahnya, hanya menyisakan genggaman tangan hujan yang sengaja aku tahan sebentar untuk kita, mengingat-ngingat hal yang sama.

Pikiran rasionalku — kadang ada, kadang tidak.

Apa yang kau lihat dibalik jendela itu?

Apakah sesuatu yang gagal kau ingat, bangku-bangku yang memajang kita untuk bermimpi sebentar, pola password henpon yang sama, atau burung-burung yang membawa nasib kita jauh-jauh dengan sekantong harapan yang semakin padat dan susah terangkat?

 

Sekarang…

Aku hanya ingin kembali melihat kamu.

Menjadi butir hujan.

Dan semua selesai.

 

Dessy Achieriny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *