Skip to content

Rindu Juga Bagian dari Warna

 

(Dengarkan suara saya membacakan puisi ini, di atas)

 

Kita membutuhkan banyak sesuatu, untuk mengerti sesuatu. Agar segala yang dibenturkan bernama kesedihan. Tidak kita lakukan secara berulang. Kau kerapkali berada dalam tempat yang tersembunyi. Seperti kopi, sepi dan puisi. Matamu yang jatuh cinta itu sewarna dengan jingga, waktu-waktu dimana langit penuh nada dan paling bahagia. Sedangkan bibirmu adalah bahagia paling abadi, dunia paling surgawi, menyala di sepi-sepi.

Kita hanya membicarakan perumpamaan, tentang gelombang harapan di lautan dan cinta yang selembut gambut laut. Tentang biru, tentang merah jambu dan warna lainnya. Sebab katamu, rindu juga bagian dari warna. Serupa dengan abu-abu tua dari ingatan nakal yang lelah berlari, namun tak juga mau berhenti. Entah kenapa, aku mulai akrab dengan kesendirian dan menjalar mencintaimu pelan-pelan.

Aku kerapkali menahan tubuhku agar tak terlalu jauh terjatuh, kecupanmu mengikat ulang seluruhku. Lampu jalanan, tiang-tiang taman kota, telah aku namai atas dirimu. Supaya kau dan aku, ikut menyala di ruang paling sepi yang tak pernah terjangkau siapa pun.

Hingga aku, akan selalu membacakanmu sebagai bagian dari aku.

 

Dessy Achieriny

 

Published inPuisiTulisan

3 Comments

  1. widi widi

    Kyaaaaaa…..
    Baper sayanya mak dengerin suaramu

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Emang sengaja bikin kamu baper… ehehe..

  2. aku aku

    nice..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *