Skip to content

Siti Nurbaya, Lemang, Nasi Kapau, dan Wisata Padang yang Rancak Bana

Kita kerapkali berdialog dengan semesta yang semakin tua. Namun, kumparan pikiran kita justru kerapkali baru. Menciptakan sebuah pertanyaan atau sekedar mempertanyakan hal-hal yang menarik untuk membuat hidup kita kembali semakin asik dan menyerap hal-hal baik lebih banyak.

Kekasihku wahai Syamsul Bahri, Siti Nurbayamu hendak keliling Kota Padang dalam sebuah tulisan.

Jika kasih kita tak sampai, kalian bacalah tulisan uni, masa tak jua merasa tertarik menjejakkan kaki ke Padang?

Oh amboi.. Kota Padang rancak bana uda…

Apa yang sudah kita berikan, kalimat sederhana yang seringkali lupa kita tanyakan pada diri sendiri, sebelum menanyakan apa yang sudah semesta berikan pada kita selama udara masih dapat kita hirup puas-puas.

Semesta bagian mana yang sudah kalian kunjungi?

Laut? Pantai? Gunung? Hutan?

Sendirian atau dengan sekelompok orang?

Kamu, sudah pernah ke Padang?

Nasi Kapau
Nasi Kapau

Keelokan padang sudah pernah saya jamah ketika diundang dalam event tertentu saat menang dalam blog competition serupa, keindahan alam yang berbukit dan berbatasan langsung dengan laut membuat saya merindukan kota Padang kembali. Bersantap makan siang dengan dentingan pemusik jalanan yang memperdengarkan alunan dari tembang-tembang minang, berpadu dengan dentangan piring-piring kuah gulai, sambal, dan aneka lauk-pauk yang menggugah selera pengunjung di Nasi Kapau Los Lambuang Pasa Lereng, yang saya harapkan dapat menjadi pasar wisata kuliner bagi masyarakat. Kebetulan saya kesana, sempat juga mampir untuk mencicipi santap siang di nasi kapau Ni Er yang memang sudah terkenal dengan kelezatannya sampai ke telinga petinggi seperti Jusuf Kalla, Hatta Rajasa, Irwan Prayitno, para mentri  yang singgah ke Sumbar dan beberapa artis seperti Nurul Arifin, Iis dahlia dan masih banyak lagi yang sempat menyantap Nasi kapau Ni Er saat usai kampanye di Bukit Tinggi. Tak hanya itu, Nasi Kapau Ni Er juga terdengar sampai di telinga para wisatawan mancanegara dan  masyarakat pendatang, hal ini saya dengar ketika berbincang dengan masyarakat lokal di sana usai kenyang mencicipi gulai tambusu.

Ngarai Sianok

Pesona Indonesia tak akan habis kita menceritakannya dalam sehari, keeksotikan dan ragam budaya Indonesia akan mampu membuat mulut berbusa dan jari jemari kalian akan keriting jika bersikeras menceritakan semuanya. Wisata Padang khususnya, akan banyak kita temui keindahan alam di Padang yang membuat kalian menginginkannya untuk terbang dan menginjakkan kaki di tanah minang ini.

Selain pantai, laut dan gunung saya juga mencintai museum, entah sudah berapa tulisan yang saya ulas mengenai museum. Kalian bisa mengunjungi Museum Aditya Warwan yang merupakan Taman Mini-nya Kota Padang dan Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Untuk Pantai sendiri, kalian dapat mengunjungi Pantai Aie manih, Pantai Nirwana, Pantai Pasir Jambak, Lembah Anai, Sitinjau Lauik, Jembatan Siti Nurbaya dll.

Nah kali ini saya akan mengajak kalian untuk melihat-lihat wisata yang pernah saya kunjungi antara lain:

Jam Gadang

 

foto by: Ikhwan Arief
foto by: Ikhwan Arief

Rasanya, belum sampai ke Padang jika tidak mengunjungi landmark-nya dari Kota Bukit Tinggi ini. Lokasinya juga tidak jauh dari Pasa Lereng Los Lambuang. Daerah Bukit Tinggi banyak spot wisata keren yang kalian mampu kunjungi dengan sekali jalan hingga menghemat waktu dan biaya. Panorama Ngarai Sianok yang terbentang dapat kita lihat juga dari sini sekaligus bersentuhan langsung ke Lubang Jepang. Bangunan jam Gadang memiliki desain yang serupa dengan bangunan bergaya khas Eropa di zaman kolonial. Beberapa tulisan sejarah mencatat tugu Jam Gadang dibangun tahun 1826 setelah Ratu Belanda menghadiahi mesin jam ini kepada Controleur  atau Sekretaris Kota Bukittinggi waktu itu, Rook Maker. Waktu yang paling tepat ke sini adalah pagi, sore dan malam hari. Sehingga matahari sengat cahayanya tidak membuat kita kepanasan.

Ngarai Sianok

ngarai sianok
Ngarai Sianok

Kontur alam yang tersaji alami membuat kita mengagumi pahatan alam yang disuguhkan oleh Maha Pencipta, pemandangan dari sebuah lembah sempit yang dikelilingi oleh bukit-bukit bertebing curam dihiasi dengan aliran sungai kecil di tengahnya. Lembah Sianok terbentuk karena proses turunnya sebagian lempengan bumi, sehingga menimbulkan patahan berwujud jurang yang curam. Membuat keindahan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan termasuk saya, yang berkali-kali berdecak kagum melihatnya.

Ngarai Sianok

Saya sempat naik ka atas bukit dengan banyaknya anak tangga sebagai perjuangan untuk melihat Ngarai Sianok lebih luas lagi dari ketinggian. Kelelahan selalu saja terbayar dengan hamparan lembah yang mungkin tak semua orang juga dapat melihatnya secara langsung.

Kamu, pecinta fotografi rasanya harus kesini.

Ngarai Sianok membentang sejauh 15 km dari sisi selatan Nagari Koto Gadang hingga Nagari Sianok Enam Suku, dengan kedalaman tebing mencapai 100 meter dan lebar celah sekitar 200 meter. Patahan di Sianok ini merupakan bagian dari Patahan (Sesar) Semangko yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua bagian memanjang dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Sesar Semangko sendiri merupakan lokasi patahan yang membentuk Pegunungan Bukit Barisan.

Ah, udara yang bersih dan keindahan alam yang tersaji di depan mata, masyarakat lokal dan guide yang ramah, tetesan gerimis hujan selalu berhasil membuat saya merindukan hal-hal yang lain dan kelak akan merindukan Ngarai ini kembali.

Lubang Jepang

Lubang Jepang
Para Blogger Mengabadikan Lorong di Lubang                                         Jepang

 

Lubang Jepang

Wisata Lubang Jepang juga tidak kalah menariknya nih guys, kita hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk jalan kaki sampai ke sini. Kamu akan dipandu untuk melihat dan mendengar sejarahnya, ada beberapa spot foto keren yang pantas kamu abadikan dan lorong yang di tutup karena keselamatan pengunjung adalah hal yang paling utama. Saya sempat menyayangkan beberapa dinding yang digores oleh jejak tulisan pengunjung yang sama sekali tidak menghargai sejarah dan alay yang setingkat dewa. Serta beberapa retakan dari langit-langit lubang jepang karena sempat terjadinya gempa dan puing-puing dari bangunan yang runtuh.

Pada lorong Lubang Jepang yang dibuka hanya kurang dari 1,5 kilometer sehingga hanya membutuhkan paling lama 20 menit untuk sampai di ujung jalan. Sedangkan lubang yang mengarah ke Ngarai diberi teralis. “Ada 21 lorong kecil yang fungsinya bermacam-macam, ada yang sebagai ruang amunisi, ruang pertemuan, pintu pelarian, ruang penyergapan serta penjara. Namun yang menyeramkan adalah ruang dapur yang juga difungsikan untuk memotong-motong tahanan yang sudah tewas lalu dibuang melalui lubang air ke bawah”  Saya sempat mengabadikan moment untuk berfoto di ruang dapur dan melongok ke arah lubang air yang memang ada di bagian bawah ujung kiri dapur. Dan diatas juga terdapat lubang yang diberi teralis yang berfungsi sebagai menara pengintai.

Lubang jepang

Suasana lembab lebih terasa di sini dan di dekat ruang penjara, yang oleh petugas di sana kita tidak diijinkan untuk foto bertiga di lokasi itu. Karena satu atau lain hal agar tidak ada kejadian ganjil yang kelak hadir di sana. Sebab, entah sudah berapa ribu orang yang tewas dalam pembangunan lubang Jepang ini.

Lubang ini dibuat atas instruksi Letjen Moritake Tanabe Panglima Divisi ke 25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Konon menurut sejarahnya mampu menahan letusan bom seberat 500 kg. Konstruksi lubang ini dikerjakan sejak Maret 1944 dan selesai pada awal Juni 1944 dengan total pembuatan selama kurang lebih 3 tahun dengan kedalaman mencapai 49 meter di bawah permukaan tanah.

Jadi sebagai pecinta dan pengagum sejarah, Lubang Jepang adalah wisata yang patut untuk kalian kunjungi. Agar kita, kerapkali mencintai dan tak melupakan sejarah.

Istano Basa Pagaruyung

istana-basa-pagaruyung

Bangunan megah yang membuat saya berkali-kali menekan tombol di kamera slr yang setia menemani  kemana-mana. Bangunan ini berlokasi di Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Propinsi Sumatera Barat, Padang. Istano Basa Pagaruyung adalah bangunan rumah tempat tinggal raja sekaligus tempat raja menjalankan pemerintahan. Jika ditelisik lebih dalam, rupanya Istano Basa Pagaruyung sekarang merupakan replika atau duplikat dari istano yang dibakar oleh Belanda tahun 1804. Pada tahun 1976 Istano Basa Pagaruyung dibangun kembali yang lahir dari pemikiran pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh adat Sumatera Barat dalam rangka melestarikan nilai-nilai adat, seni dan budaya serta sejarah Minangkabau.

Pakaian Minang

Saya sempat memakai pakaian minang yang kerapkali disewakan di sana. Berada di bawah bangunan yang lengkap dengan semua atribut pelengkap dan berfoto puas di sana.Istano Basa Pagaruyung merupakan objek wisata primadona di Kabupaten Tanah Datar khususnya, dan Sumatera Barat pada umumnya. Foto-foto yang apik akan kalian dapat di Istano Basa Pagaruyung sebab bangunan ini terdiri dari 3 ( tiga ) lantai, 72 tonggak serta 11 gonjong. Dilihat dari segi arsitekturnya bangunan Istano Basa Pagaruyung mempunyai ciri-ciri khas dibandingkan dengan bangunan Rumah Gadang yang terdapat di Minangkabau. Kekhasan yang dimiliki bangunan ini tersirat dari bentuk fisik bangunan yang dilengkapi ukiran falsafah dan budaya Minangkabau. Istano Basa Pagaruyung dilengkapi dengan Surau, Tabuah Larangan, Rangkiang Patah Sambilan, Tanjung Mamutuih dan Pincuran Tujuah.

Jajanan khas di sana, ada Lamang. Sebab, lamang sangat identik dengan ranah minang. Berupa beras pulut dan dimasak dengan santan dalam bungkus pucuk daun pisang dengan cara dibakar ini membuat khas rasa dan wanginya berbeda dari jajanan pasar yang lain. Ada beberapa jenis lamang, antara lain: Lamang tapai, lamang baluo, lamang pisang, lamang kanji, lamang kundua. Namun yang paling diminati adalah lamang yang terbuat dari ketan putih. Bisa disajikan tersendiri, atau dengan tapai, bisa juga dimakan dengan rendang atau pisang.

Semakin banyak perjalanan mengunjungi wisata negeri sendiri, maka semakin banyak budaya dan tradisi yang patut kalian tulis untuk dapat melestarikan budaya para tetua, mencintai adat, dan masuk menjadi bagian dari masyarakat yang kerapkali mempertahankan kearifan lokal di satu daerah.

Pembahasan wisata dan pesona Indonesia saat ini saya rasa sedang melonjak tajam. Bukti nyata dari pemerintah daerah dalam menaikkan sektor di bidang wisata dan memajukan daerahnya masing-masing adalah dengan menyelenggarakan beberapa festival, seperti Festival Siti Nurbaya 2016.

Tulisan saya berikutnya akan memunculkan sensasi mengagumkan dari perhelatan Festival Siti Nurbaya 2016 yang kelak diharapkan menjadi ikon event budaya padang pada tanggal 7-10 September di Kota Padang.

Cintailah adat, budaya, wisata negeri dan mari ke Padang!

*Diikutsertakan dalam Lomba Blog Festival Siti Nurbaya 2016

 

Dessy Achieriny

Published inEventTravelling

6 Comments

  1. zakki zakki

    Tulisannya segar dan renyah…
    mudah dicerna..
    Gurih…
    Padang memang Rancak Bana (^_^)

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Ahaha… Haturnuhun uda zakki. Aku jadi bingung ini tulisan apa chiki, gurih, renyah, mudah dicerna. *emut momogi. Ayo ke Padang. Padang itu selain indah juga kaya akan budaya.

  2. Ternyata saya punya hobby baru sekarang…yaitu kalo buka fb saya lngsng meluncur ke berandanya mba dessy utk baca2 tulisannya mba dessy.walaupun gk komen tp rajin baca lho…suka bgt sama tulisan mba dessy

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Happy reading bunda riza…
      Hobby barunya bikin aku ge’er…
      Salam kenal dan salam sayang dari sini. 🙂

  3. Aditya Susanto Aditya Susanto

    Tulisan yang sangat menarik dan menginspirasi orang untuk mencintai budaya bangsa ini

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Semoga semakin marak orang-orang yang kelak juga tak hanya mencintai budaya negeri, namun juga mau berbagi walau sekedar lewat tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *