Aku Pernah

Aku pernah ingin menjadi sebuah bibit yang tumbuh di jantungmu. Menjadi tunas pertama yang melihat dunia di matamu, jauh sebelum pohon-pohon lain menyumbangkan pucuknya lebih dulu. Lalu bermain-main untuk memberikan mekar diantara versi mereka masing-masing.

Aku pernah membicarakan salju pertama yang turun, dingin yang menjalar dalam hidup seolah membutuhkan peluk yang sehangat itu, sebuah hangat yang menyentuhku ketika hembusan nafasmu merubah malam menjadi lembab diantara gugur daun-daun yang bahkan aku sendiri tak pernah melihatnya utuh bersamaan jatuh satu-satu dalam ranting yang sama.

Aku pernah mencoba menjadi alam paling sunyi, dimana kau dan aku pernah tinggal untuk mengenal menyepelekan sesuatu. Mengenai kenyataan, tentang alam bawah sadar di kepala kita masing-masing. Sampai untuk kesekian kalinya, kita hanya akan mencoba mengingatnya – Kembali.

Aku pernah menduga-duga. Kau adalah sosok kunang-kunang, yang terbang tanpa suara namun ditakdirkan Tuhan banyak memberikan cahaya. Seperti ribuan ikan neon kecil yang berenang bersamaan tanpa mematahkan apa-apa dalam arus air. Kau sebut ia, rindu. Terkadang aku menyebutnya, pilu.

Aku pernah menyatukan lembaran kemarin dan menyusun atas apa-apa yang tak pantas aku susun. Kau berasal dari semua cahaya yang padam, nyala kembali di ruang paling sepi, diciptakan kenangan, juga diciptakan hujan. Kau adalah buluh paling nyeri, yang tak mampu dilupakan sama sekali. Kemudian kita tenggelam dalam diam yang menjadi kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya tiada di jantung sajak Sapardi.

Aku pernah mengisi titik-titik yang tak pernah selesai dalam ujian yang kemarin.

Masih terus saja mengigau membicarakan hal-hal yang mustahil.

Tentang sajak dua kata yang kita ciptakan sama-sama “Aku Pernah”

 

Dessy Achieriny

2 thoughts on “Aku Pernah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *