212

0
Shares
Puisi,

212

Ibu kota penuh dengan kepala yang mengeja Tuhan ditiap jengkal. Layaknya laut, mereka menciptakan gelombang yang baru. Doa langit kepada yang Satu.

Sebut saja kita bernama “Singgah”. Kita tak memiliki apa-apa, namun mengagumi hal2 fana, tak nyata & berdekatan dengan nafsu ingin segalanya.
 
Sunyi tak pernah meminta kita diam. Puisi, dingin & khidmat Desember yang menjadikan hujan turun merata. Lalu kita jatuh cinta, padaNya.
 
Kita memiliki kata mengenai-Nya, yang berat atas nama Tuhan, yang menyimpan kekuasaan, keluasan, kebesaran — Tak terkira.
 
Doa-doa yang terinjak kemarin bukan sudah mati. Ia hanya mencoba bangkit, memohon pergi — Untuk terlahir kembali.
 
Dessy Achieriny
04 comments

4 Comments

Dhanang Sukmana Adi

Reply

212 tetep damai sejahtera 🙂
salam

Dessy Achieriny

Reply

Salam hangat kembali, Mas Danang…

Awit Dhihan

Reply

Puji syukur pada Tuhan… 7JUTA umat Mu bersatu dan bisa mewujudkan tujuannya… Tuhan memang maha …

Dessy Achieriny

Reply

Walaupun sebelum dan sesudah menjadi perdebatan. Tuhan hanya melihat sisi manusia dari niatnya.

Leave a Reply