Pernahkah Kalian Memeluk Dirimu Sendiri?

Niatnya mau bikin cerpen, tapi malah meracau mengenai diri sendiri dalam sebuah document word sepanjang jalan kenangan di umur kita (saya dan kalian yang ikutan baca) yang entah berumur panjang, entah pendek.

Saban pagi, secangkir kopi adalah hal paling menyenangkan untuk menyuguhi sebuah kebahagiaan. Tapi tidak hari ini, sakit membuat saya berpikir ulang hendak menyeduh kopi sebagai hal paling membahagiakan di hari kemarin-kemarin. Teh hangat, beberapa kapsul, tablet pereda nyeri dan antibiotik.

Ah, rupanya hidup sekeren ini menikmati rasa pahit dengan teh manis dan bubur gandum.

Saya harap, ingatan tak pernah memaksa kita untuk meminjam kenangan orang lain dalam hal menyebutkan nama tiap orang. Selama saya masih ingat satu-satu setiap nama untuk dipanggil berarti saya masih sehat dan merasa muda. Begitu pikiran saya selalu bilang.

“Mari kita berlibur ke dalam sebuah pemikiran dunia di hari libur”

Merasakan sensasi ketakutan ketika kematian menyapa kita pelan-pelan. Agar hidup kita tidak pernah lupa. Bahwa kita hanya se-titik kecil yang tak terlihat di bumi. Lahir telanjang tanpa membawa apa-apa bahkan ingatan sekali pun.

Pernahkah berpikir apakah langit di atas langit memang menyediakan tempat untuk kita? Di dalam sebuah kematian tidak ada pintu yang mampu kalian buka untuk menghindar. Kamu yang paling mulia, tukang selfie, paling nyinyir di pesbuk, pecinta debat, gemar PHP online shop dan cowok jomblo yang kerapkali berdoa bahwa hari sabtu selalu hujan agar martabatnya terselamatkan, semua berkumpul jadi satu.

Tidak ada alamat paling jauh di kota pikiran kita yang sekarat. Di sana, pintu kematian hanya menyediakan surga dan neraka.

Kemudian saya memeluk diri saya sendiri.

Ada rasa takut — Berdiam di sana.

Niat hendak merenung sebentar.

Tahun 2017 akan datang dan mengajari kita hal-hal yang paling rahasia, resolusi menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya hendak saya usahakan dalam lamunan berenergi postitive hari ini. Namun, tape recorder dari abang tahu bulat yang lewat barusan terlalu nyaring dan diulang-ulang. Saya keluar dan membawa pulang seplastik tahu bulat yang digoreng dadakan, anget-anget, 5 ratusan.

Kemudian, nafsu tak bisa dibendung.

Renungan resolusi tertunda. Saya jadi lupa, mau nulis apa.

It’s Life. *mamam tahu bulat *arghhh

 

Dessy Achieriny

 

3 thoughts on “Pernahkah Kalian Memeluk Dirimu Sendiri?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *