Skip to content

Puisi Adalah Hal Paling Ramah yang Dapat Kau Peluk Kapan Saja

Jejak di awal Desember, kita selalu punya lagu-lagu paling merdu.

Aku menemuimu dalam narasi-narasi seribu musim sebagai hadiah paling puitik.

Di sana, tempat keluh-kesah mengendap dan mengatakan;

“Bahwa puisi adalah hal paling ramah yang dapat kau peluk kapan saja.”

kita hidup di dalam sekotak pensil warna. Maka, jadikan aku pesan. Agar kita sama-sama berperan menyampaikan.

Aroma sayur lodeh, harum kopi dan dihadapkan dengan penggalan puisi Sapardi. Pagi saya sungguh wangi. Puisi memang kerapkali mengajarkan kita tentang banyak hal, bahwa kesedihan hanya butuh sebentar melupakan, kemudian kembali bahagia – Tanpa suara.

Di umur kita yang entah masih panjang atau tidak. Ada tik-tok jam kelahiran yang mestinya kita rayakan dengan tepuk tangan paling keras. Sedikit lebih lama sebelum takdir kita ditulis.

Aku adalah ayat-ayat dari separuh puisimu yang belum sempurna. Menjadi bagian dari sejuk angin segar ketika kita buka jendela lalu melengkapi kata-kata yang akan kau tulis dikemudian hari.

Sebab, malam hari pernah kerapkali menuntun kita untuk menjenguk rindu dalam sebuah lagu. Lalu kita sama-sama berlarian menjenguk ingatan di kepala.

Kemudian sama-sama berhenti…

Memelukmu tanpa spasi…

 

Dessy Achieriny

Published inPuisi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *