Akar Dosa, Asmara, Narni dan Dhana

Sebab kita manusia kerapkali hanya berencana mengikuti alur hidup, namun bukan berarti tak bisa memilih pilihan yang tepat.

Tak ada hati yang benar-benar putih ketika kita melewati perjalanan yang singkat namun lama di benak masing-masing.

Kita hanya sebuah gelap yang disamarkan oleh cahaya

 

Tuhan maha baik, itu sebabnya banyak hal buruk yang kita lakukan — tertutupi.

“Ooooorang gilaaaaa… oooorang gilaaaaa…” Sekumpulan anak-anak sekolah dasar menyoraki perempuan tua, melewati tempat ia berjongkok di depan rumah. Tangan keriputnya tak henti-henti menampar pipi dan kaki sendiri dengan mulut komat-kamit mengucap sesuatu tanpa arti. Di luar, anak-anak tetangga seringkali bertingkah keterlaluan, mereka mengusir dan melemparinya dengan batu. Aku kerapkali berteriak menasehati mengenai tata krama dan sopan santun.

….

“Kelak, rumah tak perlu pendingin udara jika di dalamnya terdapat seseorang wanita yang penuh cinta, menghargai, dan menghormati. Seluruhnya akan sejuk. Iya, seluruhnya. Hati yang nyaman adalah sebenar-benarnya — Rumah” Gumamku dalam hati.

“Kapan nikah, mas Andi?” Pertanyaan mang Karjo membuyarkan lamunan.

Mang Karjo sudah bekerja hampir 8 tahun, sebagai sopir pribadi, juga bantu bersih-bersih kebun, bila sempat. Selain baik dan ramah ia kuanggap saudara sendiri, karena berasal dari kampung yang sama. Hanya saja akhir-akhir ini kelakuan genitnya mulai terlihat dengan Mbak, Ani. Pembantu baru yang datang 3 bulan lalu sebagai pengganti Mbok, Nah. Karena Mbok Nah sudah sepuh dan ingin istirahat di kampung bersama anak dan cucunya. Mereka berdua kepergok, sering main mata. Mungkin semacam morse di dalam kode telolet jatuh cinta diantara mereka. Ah, entahlah.

“Nanti malam, calonnya akan kubawa ke rumah, mang. Akan kuperkenalkan dengan ibu. Doakan saja.” Aku menimpali pertanyaan Mang Karjo dengan sumringah.

Sebagai seorang pengusaha, aku sudah memiliki segalanya. Rumah, mobil, dan pemasukan yang lebih dari cukup. Tinggal menunggu jodoh datang dari Tuhan. Lelah rasanya pacaran hanya untuk menjaga jodoh orang lain, namun tak pernah sempat benar-benar dimiliki sepenuhnya. Belajar mengenal kemudian menikah. Target sekarang di benak hanya itu. Tanpa pacaran.

Sebut saja Dhana, nama lengkap dari Nardhana Mahendra– Sekretarisku, pemilik kaki jenjang mulus yang aduhai. Walaupun aku termasuk pria yang melihat wanita bukan dari paras dan tubuh, melainkan hati. Namun, ia tak dapat kupungkiri termasuk wanita cantik dengan fisik nyaris sempurna. Tinggi langsing dengan rambut lebat bergelombang yang dapat membuat pria menelan ludah ketika melihatnya.

“Kenal dimana toh, mas? Sudah berapa lama kenal? Tumben gak cerita-cerita. Pantesan akhir-akhir ini suka tak mau dianter dan bawa mobil sendiri. Rupanya ada yang ditaksir.” Berondong pertanyaan Mang Karjo membuatku hampir tertawa terbahak.

“Pertanyaanmu itu kadang kaya list belanjaan ibu-ibu, Mang. Banyak, tepat sasaran dan ribet.” Aku meledeknya tanpa memberikan jawaban yang berarti

Selang kemudian perempuan berkerudung hijau muda melintas melewati rumah. Manis.

“Mang, itu siapa?” Tanyaku singkat. Penasaran.

“Oh, itu Mbak Narni. Kenapa? Naksir juga? Janganlah mas, dia itu janda anak dua. Sepeninggal suaminya yang sakit-sakitan pernah kepergok jadi pelacur sama orang sini. Alasannya buat membiayai hutang rumah sakit suaminya yang gagal ginjal. Karena ngelamar di mana-mana ditolak dan gak ada modal jualan. Tapi sekarang udah tobat mungkin. Dia aktif di masjid. Ikut pengajian. Tapi tetap saja pernah melacur. Cari yang perawanlah.” Mang Karjo ngoceh panjang lebar dengan tawa khasnya yang terkekeh.

“Aku berangkat, Mang. Tak usah dianter. Jaga rumah dan ibu saja.” Kemudian aku masuk ke mobil. Nyetir sendiri.

Sesampainya di kantor, aku langsung menyapa Dhana seperti biasa. Seolah tak ada yang spesial diantara kami. Kami menutupinya di kantor agar karyawan lain tidak heboh dan tetap bekerja secara profesional. Itu sudah kesepakatan. Lagi pun memang tidak ada komitmen hubungan yang jelas diantara kami. Hanya pendekatan untuk mengenal pribadi masing-masing. Ia seorang anak tunggal dari keluarga berada. Ayah Dhana pejabat eselon 2 di Kementrian Keuangan.

Sesampainya di ruangan, aku duduk. Buka line sebentar. Klik profile Dhana kemudian mengetik sesuatu.

“Selamat pagi, hari ini kamu terlihat manis dengan blazer biru. Sudah sarapan? Gimana nanti malam, sudah siap kuperkenalkan dengan ibu?”

Setelah berpikir sejenak, tulisan tadi aku hapus… agak lebay, kurang menjaga imej,tidak berwibawa, terkesan mata keranjang dan murahan. Kemudian aku mengetiknya kembali.

“Gimana, nanti malam. Jadi?” 4 kata ini bahkan aku sempat baca berulang kali sampai akhirnya aku memutuskan untuk klik enter.

5 menit aku membolak-balikkan ponsel tak ada balasan. Kemudian di menit yang ke 6, ia membalasnya.

“Ok” Aku cuma melongo, kenapa jawabannya hanya “ok” aku mengharapkan ia menulis lebih panjang. Biasanya wanita lain akan menulis panjang supaya menarik perhatian pria, kemudian aku bisa melakukan tak-tik pencitraan untuk terkesan cool dan membalasnya dengan singkat, menarik perhatiannya kembali sehingga timbul rasa penasaran lebih jauh mengenal. Kalau begini apa yang harus aku balas. Sial. Bisa-bisa aku yang mati penasaran dibuatnya. Ah!

Dalam perjalanan ke rumah bersama Dhana, kita tak banyak bicara di mobil. Agak canggung memang, karena aku memang tak begitu pandai bicara banyak dan cenderung pendiam. Aku suruh menunggu di ruang tamu sampai aku berkemas ganti pakaian dan memanggil ibu.

Aku tak sabar dan agak kikuk. Semoga ia mampu mencintai tulus ibuku. Setelah selesai ganti pakaian aku ke kamar ibu, namun kamarnya terbuka dan hanya ada suster Ririn ketiduran di karpet.

Lantas aku bergegas ke ruang tamu hendak menyapa Dhana agar ia tak terlalu lama menunggu.

“Mas, tadi ada orang gila masuk ke sini. Memangnya tidak ada yang menjaga di luar?” ujar Dhana ketakutan.

“Lalu kemana sekarang?”

“Sudah aku usir ke luar, Mas. Oh ya, Ibumu mana?”

Aku terdiam, terbayang wajah ibu yang selalu tersenyum padaku, dulu. Namun sekarang kerapkali kutemukan segaris guratan kesedihan di wajahnya, atau sepercik rasa gelisah yang kerapkali datang tiba-tiba setelah sepeninggal bapak. Kesedihan yang selalu ia ingat sampai sekarang ketika bapak meninggalkan kami dan pergi dengan perempuan lain.

Dengan nada terbata aku jawab: “Yang barusan kau usir itu, ibuku. Awalnya aku hendak mengenalkan dan menceritakannya padamu malam ini. Semoga kamu mampu mencintai aku dan juga ibu. Tapi sepertinya jawabannya sudah aku dapatkan. Akan aku suruh Mang Karjo mengantarmu pulang nanti. Karena aku harus mencari ibu sekarang. Maaf.”

Dhana hanya diam… aku bahkan tak bisa menebak isi kepalanya. Entah dia merasa bersalah, menyesal atau bahkan justru bersyukur karena tak jadi mengenal lebih jauh dengan aku yang notabene anak dari ibu yang tak waras. Ia hanya mengeluh panjang dan duduk di sofa.

Tak perlu pikir panjang aku langsung berlari keluar rumah. Sedikit sumpah serapah sepanjang jalan kepada Mang Karjo dan Mbak Ani yang entah dua orang ini ada di mana. Supir dan pembantu yang jatuh cinta bahkan lebih ribet dari hidup majikan yang kerapkali jomblo menahun. Serta seorang suster yang kutugaskan menjaga ibu bahkan ketiduran nonton sinetron.  Argghh.

Namun di ujung jalan dari arah tikungan ke kanan, aku melihat bayangan dua orang terkena sinar lampu jalanan. Ada ibu di sana, dan seorang wanita yang tak memakai alas kaki. Dia Mbak Narni, aku hanya memandang kembali ke arah bawah, aku yakin ibu pergi tak memakai alas kaki. Mbak Narni menuntun ibu pulang dengan merangkulnya. Rupanya, sendal miliknya ia pinjamkan kepada ibu. Tak ada rasa risih tentang ketidakwarasan ibu di matanya. Ia lalu menghampiri, menyerahkan ibu kepadaku dan merapihkan rambut ibuku sesekali.

Mata bulat beningnya memandangku dan berkata; “Ini ibunya mas Andi kan? Hati-hati menjaga ibu, Mas. Untung bertemu saya, ibu hampir pergi ke arah sana. Dia menunjuk ke arah tikungan lain yang lebih jauh dari sini.”

Narni… nama itu kuulang-ulang kesekian kalinya dalam tidur.

Setiap kuingat nama itu aku selalu tersenyum. Aku tak melihat akar-akar dosa masa lalu yang tumbuh lebat dalam dirinya. Masa lalu adalah paket hidup yang menjadikan ia bercahaya seperti sekarang. Bukankah, setiap manusia memiliki dosa yang terus tumbuh.

Memenuhi dunia.

Terlalu banyak orang-orang yang sibuk menceritakan kisah hidupnya paling baik tanpa merasa peduli mengenai kisah pahit orang lain di kehidupannya yang lampau. Hidup memang punya cerita, namun hati orang — Siapalah tahu?

Entahlah, yang jelas aku menyukai cara ia menatapku, juga ibuku. Lalu kusempatkan bertanya dalam doa sebelum kantuk benar-benar membuatku terpejam.

“Tuhan, apakah Narni adalah jawaban dari sebenar-benarnya rumah bagi aku dan juga ibu?”

 

Dessyachieriny@yahoo.com

18 thoughts on “Akar Dosa, Asmara, Narni dan Dhana”

  1. Salam kenal mb enchii..slma ini ak follow fb ny tk.gk.bs d add over bertemanan mungkin heheh..soalnya menginspirasi skli post2 ny..sukaa..tp endingnya bkin pnasaran ihh…

  2. Bagus banget mba cerpennya.. smoga bsa menghasilkan karya yg mnjadi inspirasi terus… sangat bagus menginspirasi, ditunggu kelanjutannya mba.. hehè

  3. Kebangun sehabis ngeloni sikecil, baca tulisan mb. Dessy jd g ngantuk krn dibuat penasaran sm endingnya si ibu yg jd nya dpt menantu siapa inih….. Buat cerpen yg bnyk ya mbk dessy, saya syuka sy syuka

  4. seseorang boleh jadi melakukan kesalahan besar dimasa lalu, semoga Tuhan senantiasa memaafkan, dan menutupi aib kita 🙂
    Kebawa perasaan banget cerpen ini.
    Kereeenn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *