Cinta Tanpa Tapi di Mata Seorang Emak

“Pulanglah Nak, rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya masih sama.”

Ketika sakit datang, entah kenapa kata-kata itu mulai bergaung.

Banyak ingatan tentang emak, berjelaga di kepala.

Menjadi runtuh satu-satu.

Mungkin ini yang dinamakan rindu. Rindu emak, juga rindu kampung halaman yang mengingatkanku pada sebuah desa dekat jembatan Kebasen ~  Kedungrandu. Ada bunyi kereta yang akrab di telinga dan beberapa pohon rambutan yang menari tiap kereta datang.  Serta bongkahan ingatan ketika emak mengajak saya, anak lanang emak satu-satunya yang tak tahu terimakasih ini, untuk sekedar berbagi waktu sebentar dalam sepenggal ingatan kecil menikmati pemandangan di sepanjang jalur Stasiun Kebasen sampai ke Stasiun Notog, melintasi Terowongan Kebasen, Jembatan Serayu, dan Terowongan Notog dengan Kereta Api Sawunggalih Utama, kala itu.

Sungguh, sebrengsek apa pun kita dibuat dunia untuk memilih jalan yang berbeda setiap harinya, jalan yang kerapkali tipis berbatas antara benar dan tidak. Namun,  selalu ada gelora cinta tanpa tapi di matanya.

Mata seorang, emak.

Iya…

Mata seorang, emak!!!

Kita, kerapkali menjadi seorang pemimpi, yang mengabaikan hal baik dan sering membuat emak kita kesal dengan tingkah yang sama sekali tak mencerminkan kedewasaan.

Apakah aku masih pantas disebut anak lanang satu-satunya di hati, emak? 10 Tahun sudah berlalu, aku merantau di pulau sebrang, Kalimantan. Menjadi asik dengan penghasilan memadai seorang pengusaha kayu dan batu bara tanpa sehari pun aku pernah mengunjungi emak.

Siaga Tomodiharjo, nama pemberian emak apakah masih pantas aku sandang?

Nama yang paling disegani di sini.

Pesan terakhir yang emak katakan sebelum aku merantau tiba-tiba menjadi hal paling sibuk yang diputar-putar oleh Tuhan secara jelas di kepala;

“Hidup adalah bagaimana memberi arti pada setiap nafas yang kita miliki, nak. Bukan hal-hal yang memberi kepuasan dengan berbau materi.”  Tapi kata-kata itu aku lupa merekamnya di hari yang kemarin, nasehat emak hanya sebentar teringat diperbatasan sungai  Serayu – Lalu hilang.

Terhapus jejak perjalanan, terhapus ambisi dan keinginan.

Aku tahu, langkahku membuat batinnya menangis. Tangisan lirihnya seolah mampu meluluh lantakkan hati pemilik langit. Tapi aku bisa apa? Egois di kepala dan gimingan penghasilan besar kurasa lebih menggiurkan. Mata yang berkaca-kaca, doa-doa yang terdengar selepas sujudnya adalah hal paling kabut dari mata lamurnya tanpa harus aku buat ribut. Pikirku berulang kali.

Lalu esok paginya, kala itu aku pergi.

Dan sekarang, aku menjadi pengusaha paling dihormati di Kalimantan.

Apakah aku sudah berhasil, mak?

Di satu sisi dunia mengatakan kata “IYA” dengan lantang.

Namun, di hati ini justru sebaliknya.

Aku menarik nafas, melegakan dada yang kian menyempit dan terjepit. Tak ada siapa-siapa dan tak ada apa-apa yang harus dibanggakan ketika aku sakit sekarang. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dua kali.

Tok-Tok

“Masuk!” aku berujar pelan, rupanya Bi Asum, yang bertugas membersihkan rumah setiap hari. Ia datang hanya untuk melontarkan kabar bahwa ada seseorang wanita tua yang berada di luar. Emak dari saya.

Saya sempat tersontak, leher rasanya seperti tercekik diantara tuas pompa tua yang karatan, berdecit dan berderik. Tak ada hal-hal rumit yang ingin aku pikirkan selain berlari saat itu — Memeluknya.

”Dengan siapa Mak ke sini?” lontarku penasaran. Ada keinginan yang menyeruak seketika untuk mengulang pertanyaan yang sama, namun malah beralih ke pertanyaan berikutnya.

“Bagaimana Mak bisa tahu, Aga tak pernah beritahu emak alamat ini?” aku mulai menangis lama, tangisan yang sejatinya sudah lama terpendam, tangisan seorang anak lanang emak yang telah menjadi seorang laki-laki tampan yang lebih dewasa. Tangisan sebagai  ucapan minta maaf paling lirih tanpa pernah benar-benar terlontar kata maaf yang terdengar.

Emak hanya tersenyum tanpa menjawab semua pertanyaan yang sudah aku katakan. Memeluk paling erat dari yang ia bisa dengan segala kekuatan otot dan tulangnya yang renta.

Emak mengatakan dengan bisikan paling lembut, suara dan nada yang sama yang seringkali ia bisikan padaku, dulu;

“Pulanglah Nak, rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya masih sama.”

Lampu benderang. Serentak. Warna hitam, kuning, biru dan merah datang bersamaan. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lama-kelamaan menjadi jelas dari sebelumnya. Jelas, makin jelas dan terang dan lebih terang.

Tiba-tiba aku terbangun…

Rupanya hanya mimpi, sebuah mimpi yang menjadi tamparan keras selama bertahun-tahun. Aku bergegas menyuruh Bik Asum untuk mengemasi barang sebagai bekal pakaian perjalanan ke Kedungrandu – Patikraja esoknya, mengunjungi emak.

……………………………………..

Aku menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Beberapa jam lagi sampai.

Membayangkan rindu, sebuah pelukan dan ciuman pipi emak yang dingin sehabis membasuh wudhu, rindu suara nyala TV dengan pilihan volume paling keras, rindu kegiatan semprot hama di samping sawah pak Haji Wahyudi yang sebagian tanah lagi ditanami pohon terong ungu, dan rindu suara kemerosok radio tua saat aku berebut untuk mendengarkan lagu yang berbeda.

Aku menyusuri kampung halaman masa kecil dulu, sekian lama hampir tak banyak berubah. Hanya saja, sekarang lebih banyak jumlah rumah yang dibangun. Namun akses jalanan masih sama, tanpa aspal, liat dan becek. Pembangunan tak merata di sini. Keluhku berulang kali.

Ada banyak harapan dan bekal cerita yang ingin saya sampaikan. Rumah emak sudah terlihat.

Malam di langit mulai merangkak, gerimis turun, bunyi jangkrik, suasana gelap dan sepi. Rumah emak tak sebersih dulu rupanya. Seseorang bersarung menyapa saya dengan membawa lampu petromak dan payung warna biru laut.

“Cari siapa? Mak Kurti? Mak Kurti sudah meninggal seminggu yang lalu” Suaranya khas yang datar tak terlalu mengejutkanku. Raut muka yang masih aku kenal, hanya saja garis tuanya mulai banyak terlihat, Bang Seno. Tetangga emak.  Tapi kabar yang ia sampaikan membuat aku bergidik, marah, kesal dan mulai menyalahkan diri sendiri.

Bathin rasanya sesak, tubuh seolah limbung dan gemetar.

Aku tak sanggup menanyakan di mana emak di makamkan. Tak sanggup.

Aku memutuskan beranjak kembali tanpa istirahat dan menginap di sana, lalu pamit singkat dengan mengucapkan terimakasih. Bang seno hanya diam, heran dan melongo. Sepertinya ia sudah tak mengenali wajah dewasa milikku. Bocah yang dulu kerapkali merengek ikut dengannya hanya untuk diajari memanjat pohon kelapa.

Saat menyeberang jalan. Kepalaku tiba-tiba pening. Diam sebentar. Lalu lampu terang milik Truk pengangkut pasir menyorot di depan.

Ketika banyak orang-orang yang mulai teriak.

Aku hanya mendengar bisikan emak.

“Pulanglah Nak, rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya masih sama.”

Braaaak….

Hanya ada jerit, suara riuh sirine ambulance dan darah yang menggenang.

“Mak, aku pulang. Ke rumah emak dan anak lanang emak satu-satunya yang masih sama”

…….

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

15 thoughts on “Cinta Tanpa Tapi di Mata Seorang Emak”

  1. baguusss bangeet… soo touching…. kenaak bgt… jgn lpa kan orang tuaa kitaa… ibuu… luvv u so much…
    mksh mbak dess utk crta nyaah…

    1. Semua anak pasti ingat orang tua, cuma kadar sayang anak ke orangtua beda-beda. Semoga ayah mba yurma selalu sehat. 🙂

    1. Saya pun yg bikin cerita bahkan belum pernah ke sungai serayu. Saya kalau bikin cerpen lama abis waktu ketika berkutat sama google map dan om gugel. Untuk mempelajari setting lokasi. Agar bener2 masuk ke dalam lokasi yg hendak saya buat ceritanya.

  2. Ahh… eciiii…..
    Tp suamiku sama sekali gk berminat merantau.. bahkan walau hanya keluar kota.. semoga kami bs jadi anak yg terus berbakti

  3. Dear Mba Dessy,

    Jangan lupa hadir ya di acara sharing session Blogger Jakarta yang akan dilaksanakan pada tanggal 29 Januari 2017 besok bertempat di Mozilla Spaces, Cikini Jakarta pukul 13.00 WIB.

    Thanks n Regards,
    Ichsan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *