Warjiman dan Pelet Pemikat

 

Nikmat rasanya duduk di balai-balai bambu, dua potong sisa gethuk dan adukan kopi hitam dengan ampas penuh mengambang sampai ke bibir cangkir.

“Sial, baru minum seteguk. Serbuk kopi sudah membuat tenggorokan rasanya tersendat” ujarku dalam hati. Aku rasa, Sastri menyeduh kopi hanya menggunakan isi termos dengan air yang tak lagi panas seperti kemarin. Istri Warjiman memang tak begitu pandai membuat kopi, namun tubuh semok miliknya yang membuat aku justru rajin kemari.

Kuhisap dalam-dalam sebatang rokok yang semenjak datang ke sini diletakkan di asbak samping, aku layangkan pandangan keluar dan melihat Aba Marjani mulai membuat janur. Aktifitas yang mulai ia tekuni setelah pensiun menjadi PNS. Dari jendela, pohon-pohon cengkeh yang berderet itu, rupanya banyak yang sudah mulai berbunga. Ah, tapi pinggul Sastri adalah hal paling madu dari bunga mana pun sebagai iklan penglihatan paling manis akhir-akhir ini.

Aku mulai mengamatinya kembali…

Sastri sejak tadi keluar masuk dapur memasak untuk suaminya, gak kelar-kelar. Lebih parahnya lagi, yang aku rasakan bahkan masakan miliknya selalu keasinan. Tapi Warjiman bodoh itu selalu bilang, bahwa masakan Sastri adalah masakan paling enak di seluruh alam semesta. Kegeblek-geblekkan yang dipelihara sejak ia menikah.

Buatku, memuji wanita adalah hal paling bodoh yang tidak perlu aku lakukan. Sebab wanita akan menjadi besar kepala dan tingkat menguasainya akan masuk ke dalam taraf paling nyebelin sedunia.

Wajah Warjiman kurasa hitam legam mirip dakocan dengan perut buncit menyembul keluar, nafas yang seringkali memburu dan pemilik keringat paling bau di kampung. Namun, tetap saja aku iri padanya. Ia satu-satunya orang yang sama sekali tak mendapatkan jatah tampan dari Tuhan namun di sini, ia pemilik istri paling cantik di Desa Sukaresi.

Aku sering mengamati kehidupan mereka, sampai sekarang tak pernah habis pikir bagaimana dan betapa istrinya sangat mencintai Warjiman. Hal yang paling tidak masuk akal. Entah pelet memikat yang seperti apa yang sudah ia kasih?

Dering ponsel berbunyi…

Awalnya aku enggan mengangkatnya, tapi ponsel terus saja berbunyi berulang kali. Kulihat nama yang tertera sebentar; Dari Asih, wanita paling bawel yang aku nikahi, dengan rasa enggan aku mulai mengangkatnya. Ia mulai bicara dengan nada perintah dan sebagian di isi dengan ceramah. Tentang beli susu, beras yang habis, buku anak belum terbeli dan masih banyak lagi. Aku hanya mendengarkannya tanpa menjawab sepatah kata pun. Lalu sengaja aku matikan. Aku yakin ia akan menelpon kembali.

Dugaanku benar saja…

Tak butuh waktu lama, selang beberapa detik ponsel itu kembali berbunyi. Kali ini aku benar-benar tak ingin mengangkatnya. Sebab, aku sama sekali tak memiliki jawaban yang pantas aku sampaikan.

Bagaimana mungkin aku pulang. Pipi saja masih biru dihajar massa… rahangku seolah terasa remuk. Sama sekali tak ada sisa ketampanan, wajahku sekarang seolah hilang tertutup memar. Sial, lagi-lagi sial. Warjiman adalah temanku saat SMP dulu. Orang paling bodoh namun paling rajin. Sedangkan istrinya Sastri adalah mantanku. Bagaimana mungkin ia dulu tak terpikat padaku, banyak wanita yang memuji ketampananku sejak lama. Hidup paling ngehek adalah ketika kita tetanggaan dengan mantan pacar dan suaminya adalah teman masa kecil dulu.

“Kau, mulai maling lagi Dhar?” kata-kata Warjiman membuatku sempat tertawa miris. Aku mengangguk lemah. Ia rupanya hafal kelakuanku ketika terdesak dengan peliknya kehidupan seperti sekarang.

“Demi hidup, aku hanya mengambil beberapa kardus susu di toko paling besar di kampung seberang” Jawaban paling jujur yang aku katakan padanya.

Warjiman lalu membuka sarungnya dan mulai mengambil dompet di kantong celana pendeknya.

“Ambillah, belikan susu anakmu dan sebagian lagi berikan ke istrimu untuk dibelanjakan. Sudah berapa kali kubilang jangan pernah kau ulangi. Segala hal yang berawal dari tak baik tak akan pernah mampu menyelesaikan masalah”

Aku diam. Hanya kecanggungan diantara kami.

“Sok pintar. Si buntelan bodoh ini mulai ceramah juga rupanya.” Aku mengumpat dalam hati tak habis-habis.

Entah kenapa aku lagi-lagi mulai tertawa. Menertawakan nasib. Menertawakan hal-hal yang menyedihkan sebagai hal paling baik saat ini. Percakapan-percakapan yang meluncur dari Warjiman yang berlaku diantara kami kerapkali aku nikmati. Namun, entah kenapa dia selalu berhasil membuatku semakin dekat dengan kesahajaannya.

Aku mencari pemantik, untuk menyalakan rokok lintinganku ketiga. Tapi, kerapkali tak kutemukan. Aku mengeluh berulang kali dan menyebut kata-kata kotor yang membuatku lebih nyaman karena terbiasa.  Warjiman kemudian memanggil Sastri.

“Dek, tolong ambilkan pemantik abang di lemari kaca!”

Sastri kemudian keluar kamar dengan rambut lebat yang terurai ke depan, wangi harum lavender, daster hijau tosca yang ia kenakan nampak membuatnya menjadi lebih manis. Sangat manis.

Tanpa sadar, aku mulai berbisik ke telinga Warjiman

“Pelet pemikat apa yang kau berikan pada Sastri hingga ia tergila-gila padamu?”

Dari arah ruang tengah Sastri menjawab, rupanya bisikanku terdengar. “Pelet pemikat yang sanggup membuat wanita lemah adalah, rasa hormat pria kepada wanita, rasa sayang pria, rasa yang membuat kita merasa sangat dihargai, dicintai begitu besar, sebuah kesetiaan dan rasa tulus yang diberikan. Selebihnya tak ada yang sanggup memberikan jaminan kebahagiaan, namun abang memberikan saya semuanya, yang dulu tak pernah saya temukan padamu”

Saya diam. Kesal. Kemudian pamit pulang.

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

 

 

16 thoughts on “Warjiman dan Pelet Pemikat”

  1. Bagus banget..kata2nya..n ceritanya bikin penasaran dan ceritanya ringan tapi makna n kesimpulan ceritanya luar biasa…

  2. Rasa hormat pria dan rasa sayangnya kepada wanita adalah pelet sederhana ramuan pengikat sukma.
    Masih penasaran sama nama panjang tokoh utamanya itu Dhar siapa ya? hehee..

  3. like it dah … trs berkarya ya mak . cp tau bs go internasional n nongol d tv” ….

    ud cantik,sexy,pinter sglanya . bahagia y suami mu …..

  4. Lama skali hobi baca saya hilang… Setelah ketemu sama semua cerpen cerpen mu.. Mba…. Aku jadi muali hobi baca lagi mba… Ga tau kenapa… Rasanya ikut terbawa dng suasana alur cerita dr setiap cerpen mu mba…. Haaah bahagianya….. Saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *