Visit Tidore Island — Menyapa Tidore

Bangkitkan Tidore yang lama tertidur, lalu kabarkan pada semesta bahwa warisan leluhur aman di tangan kami.  Jadikan pelestarian budaya “Tidore Untuk Indonesia” berdetak kembali. Mari merapat, mendekat dan mencoba akrab dengan Tidore, kota budaya dengan semboyan Toma Loa Se Banari yang dikenal banyak orang dengan sebutan “Magic Island” dan Kie Duko yang berarti pulau bergunung berapi.

Tulisan ini akan mencoba membawamu mencintai Tidore pelan-pelan. Mengenal budaya, karakteristik penduduk, kuliner dan wisata, sejuta serpihan yang saya anggap turun dari surga. Setiap orang mampu menulis, memotret hal yang sama, melakukan perjalanan kemudian bercerita, namun sedikit yang benar-benar mencintai, mempelajari setiap hal, sebelum ia menjejakinya lebih dulu.

Mendengar kisah menarik dari pengalaman orang lain, membaca setiap bab penjuru kota mengenai Tidore, merenung dan menggerakkan jari untuk menjabarkan isi kepala. Bukankah hati lebih paham kemana pikiran dan jari diayunkan?

Saya mengenal banyak mengenai Tidore dari teman dan kerabat, kebetulan ayah juga seorang pekerja kapal, yang banyak menghabiskan waktu hidupnya berlayar di laut dibandingkan menapaki daratan. Beliau selalu membawa oleh-oleh cerita paling hangat yang dikemas menarik dengan humor orang timur, mengenai budaya, khususnya Tidore dari para awak dan penumpang kapal saat ia kembali. Oleh-oleh cerita adalah hal yang paling saya tunggu sewaktu kecil, karena cerita bagian dari warisan yang takkan pernah habis dimakan usia.

Tidore, To Ado Re negeri berjuta adat, negeri sagu, negeri di atas awan. Salai jin, bambu gila, tarian cakalele dengan latar belakang panji-panji kebesaran Kesultanan Tidore, kapita, togorebo, tujuh putri, dana-dana, semua kalian bisa temukan di Tidore. Kawan di Ternate pernah bercerita mengenai karakteristik penduduk Tidore, bahwa orang-orang di Tidore cenderung introvert, tertutup dan sulit menerima perubahan, Tidore bersanding dengan Ternate yang memang lebih maju dari segi pembangunannya. Ternate juga lebih ramai dibanding Tidore. Namun, ia mengagumi Tidore yang seolah tetap dengan pendiriannya dalam adat, lebih sunyi, tenang, bersih dan nyaman serta jauh dari hingar bingar dan porak pembangunan. Budaya yang masih terjaga adalah magic Tidore yang membuat kalian merasa rindu ke sana.

Penduduk di Tidore sangat mencintai kebersihan yang kerapkali sebuah kebiasaan yang sangat sulit kita temukan di daerah nusantara lainnya. Pantai yang bersih, jalan-jalan kampung yang juga bersih dan tertata rapih, serta asri bak lukisan. Penduduk yang religius hampir 99,9% mayoritas muslim ini, tak heran jika pulau Tidore juga dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Sebab, di setiap kampung ada lebih dari satu masjid/surau.  Mata pencaharian masyarakat Tidore ada yang bercocok tanam di ladang, menangkap ikan, berdagang, atau menjadi pegawai negeri. Perempuan beranjak dewasa di Tidore dikenal dengan sebutan Jojaru. Perkawinan ideal menurut adat mereka adalah kawin antara saudara sepupu (kufu.)

Tak terasa, kopi secangkir telah tandas di pagi hari, menikmati  hujan dan sarapan ilmu Tidore yang belum menemukan kata selesai. Ragam wisata potret Tidore membuat saya merinding, mengajari kita kebesaran sang pencipta, bahwa alam merupakan bagian dari manusia yang tak boleh terlupakan entah itu sebagian atau pun seluruhnya.

Legenda surga rempah menjadi sejarah Tidore tempo dulu yang membuat nama Tidore bergema di negara tetangga. Pamornya pernah mengalahkan Ternate. Bahkan Tidore juga pernah gemilang di bawah kepemimpinan Sultan Nuku. Nuku yang membawa Tidore mansyur di abad ke-18. Kalian bisa melihat beberapa cuplikan video mengenai Tidore yang sengaja saya buat di sini.

Melirik wisata yang kalian bisa kunjungi di Tidore sangat beragam; Bagi pecinta petualangan, kalian bisa mendaki puncak Kie Matubu, sebagai pecinta sejarah kalian sempatkan juga ke benteng Tore dan Tahulu yang berada di lokasi yang cukup tinggi serta mampir di Museum Kesultanan Tidore “Sonyine Malige.” Selain melumat habis mengenai sejarah Tidore, tentunya kalian juga  bisa menikmati indahnya kota dan keindahan laut serta pulau Halmahera.

Oh ya, untuk kalian para pecinta fotografi harus ke sini, Pulau Failonga adalah pulau kecil di Tidore  yang tak berpenguni. Keindahan alamnya tentu akan menyihir mata kalian. Pikiran kalian akan diajak hanyut bahwa kesana tak lengkap jika tak mengabadikan dalam jepretan kamera sebagai oleh-oleh paling abadi dalam bingkai galery. Pantai Cobo dan Pulau Maitara (pulau uang seribu) serta pantai Ake sahu, Pulau Mare rumahnya lumba-lumba, air terjun Luku Cileng, dan air terjun Goheba, Pantai Rum, Tugu pendaratan “Sebastiano De Elaco” asal spanyol pendiri kota Soasio, ibu kota Tidore, juga tak kalah menarik untuk dikunjungi.

Dengan keindahan dan keistimewaan Tidore, tak ayal jika kalian harus masukkan list Visit Tidore Island ke dalam kamus destinasi perjalanan di kemudian hari. Pengaruh promosi terhadap perkembangan wisata di Tidore juga mempunyai peran penting dan dapat menaikkan grafik wisata di Tidore, kita sebagai generasi dan laskar juang masa kini, kelak mampu membangunkan Tidore yang tertidur agar layak untuk lebih dikenal.

Lokasi yang paling menarik bagi saya adalah Gura Bunga. Negeri di atas awan ini seolah benar-benar menyihir saya. Begitulah kira-kira sejumlah warga Pulau Tidore, Maluku Utara, menyebut tempat tinggal para sowohi (Tokoh Adat), penghubung antara pihak kesultanan dan roh para leluhur. Sowohi juga berperan dalam merestorasi budaya Tidore. Sebab, di Tidore masih sarat akan kehidupan Animisme (Menyembah Roh Nenek Moyang.)

Gura bunga berada di ketinggian lereng Gunung Kie Matubu, gunung dengan tinggi 1.730 meter di atas permukaan laut. Di Gura bunga terdapat Rumah puji yang menjadi tempat tinggal sowohi berada. Semuanya ada enam rumah puji untuk enam sowohi . Rumah tempat tinggal para sowohi ini sangat sederhana. Cirinya berdinding bambu, berlantai tanah dan beratapkan pelepah daun sagu dan hanya mengandalkan pelita. Selain menawarkan keramahan warga, lokasi di sana kerapkali diselimuti kabut. Tidak jarang awan terlihat mengambang di bawah desa. Pemandangan yang seolah mengawinkan alam, manusia dan Tuhannya.

Biasanya kata-kata lebih memilih bertandang sore hari ketika langit mulai redup dan cahaya senja memberikan warna jingga dengan anggunnya. Tapi tidak kali ini, pagi hari yang dingin dan rasa lapar yang membuncah. Angin tolong sampaikan pada Sultan, saya ngidam kuliner tradisional Tidore seperti kue bilolo, mam raha, tela gule, uge ake, nasi jaha, sagu tore, kue abu, menyesap kopi dabe kopi asal Tidore yang kaya akan rempah, air guraka perpaduan air jahe dengan gula merah dan biji kenari membuat saya berdoa.

“Tuhan, panggil saya ke Tidore… ijinkan saya menulis perihalnya lebih banyak, dengan saksi kedua mata, ingatan di kepala dan langkah kaki ketika menjejak di sana.” ucap saya tiba-tiba dalam hati ketika 1 jam lebih mempelajari penuh kebudayaan Tidore.

Semoga kelak, kenyataan dan cerita Tidore dapat kembali dituturkan dengan lebih baik di sini.

 

dessyachieriny@yahoo.com

Pict by: @ VTidore @visit.tidoreisland @MuchlasArkanudin, @mikeitemmm, @dhe_gea, Web wisata indonesia, Web ulinulin, @eksploretidore

 

17 thoughts on “Visit Tidore Island — Menyapa Tidore”

  1. Wuih keren nih tulisan,..
    segar dan bikin pembaca jadi ingin mengunjungi Tidore,…

    mudah2an kami sekeluarga dapat berkunjung kesana…

    (^_^)

  2. Masya Allah bagus banget yah..
    Selama ini karena kepentingan tugas kantor selalu kedapetan ke ternate aja.. Coba tau tentang tidore dari dulu.. Mesti disempet-sempetin kesana..
    Jadi mupeng deh ke tidore.. Ayo bangkitkan wisata kepulauan di Indonesia..

    1. Semoga Tidore jadi kiblat wisata timur ya may. Wah ternyata pernah ke Ternate rupanya, aih… beberapa waktu lalu Ternate menggelar Festival Pusaka Ternate di Fort Oranje, Ternate kan may.

  3. Singkat,padat , berisi, disertai dgn foto ,menjadikan tulisan ini seolah magnet yg menarik pembaca untuk berkunjung ke Pulau Tidore. luar biasa.

    Sukses selalu buah Teteh Dessy.
    Jalesviva Jayamahe.

    1. Wah kanjeng Toto pada akhirnya menorehkan kata di sini. Aku sunggung tersanjung. Wisata Tidore memang menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Dimanjakan keasrian dan kebersihan. Mari kita ke Tidore.

    1. Amin… Amin. Semoga bisa banyak menulis hal baik lagi kedepannya. Akan kupas habis mengenai tidore nanti, kalau Allah ijinin ke sana. 🙂

    1. Amiin.. semoga ya mba Rosanna. Tidore tempat yang indah namun seolah masih tertutup kabut.

      Aku kangen dirimu mba, baik banget.. jadi inget waktu dipotoin dan dipakein Siger saat di lampung.

      i lop yu.

  4. Dulu sewaktu kecil saya pernah tinggal di Ternate, tak jauh dari Tidore dan mengenal bahasa dan budaya disana. Semoga kelak dapat berkunjung kembali kesana dengan kenangan yang pernah tertinggal di tanah Maluku untuk kakakku tercinta (alm)..

    1. Harusnya nanya adit juga ya mengenai Tidore… Supaya tulisannya lebih berbobot lagi karena banyak masukan dari banyak sumber.

  5. Disaat semua sedang demam go internasional atau maraknya anak muda kepengenan jalan” ke luarnegri biar dibilang NGEhits….disitu kadang saya merasa miris. Karna di Negri kita sendiri sebenarnya banyak sekali menyuguhkan pemandangan dan tempat yg kaya akan sejarah.semoga dgn adanya tulisan/artikel seperti ini menyadarkan mereka bahwa NEGRI kita tercinta ini sangat layak di kunjungi tempat” wisata nya. Termasuk TIDORE ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *