Rayakan Kata, Bumikan Ilmu — Bangga Di Banggai

 

Di kepala, sebuah perjalanan adalah bagaimana kita menyerahkan diri untuk menikmati alam, menyesap pelan tiap bagiannya untuk menjadi cerita di kemudian, tempat dimana semua ingatan berada dan beradu diantara langit yang membentang lapang, jejak langkah, rasa gelisah ketika melihat lokasi yang sama sekali baru kita injak, lalu mengenang bahagia setelahnya, tulisan note kecil pada senja pukul enam, lagu lama, edukasi nusantara dan beberapa serpihan kemauan kita yang terlalu panjang.

Entah apa yang tertulis mengenai perjalanan di kepalamu?

Mari kita bercerita, sampai ingatan lelah dan kaki-kaki tak kuat lagi melangkah.

Dalam tulisan ini, saya akan mengangkat bagaimana alam bekerja, kisah, sejarah, kuliner, keindahan lokasi yang menjadi rahasia di kepala sebagian orang yang pernah berkunjung kesana.

Menggali lebih banyak pengalaman banyak orang, sampai kemudian saya mengerti bahwa tulisan mempunyai ruh yang kelak mencoba mengangkat kita kembali dengan caranya. Sebagai misteri bagi alam dan Tuhannya.

Tuan dan puan. Merapatlah sebentar, saya akan membawa fantasi kalian berjalan-jalan ke Luwuk Banggai dan menyelami lebih dalam agar mampu mengambil nafas sebentar pada kalimat di akhir cerita untuk membangun hari kalian menanam kata “Bangga di Banggai

Jangan heran, di Banggai luas perairannya mencapai lima kali luas wilayah daratan. Jika kalian searching mengenai eksplore Luwuk Banggai di instagram, maka saya yakin hati kalian akan meleleh seperti ice cream melihat betapa indahnya Banggai. Luwuk merupakan ibu kota Kabupaten Banggai yang berjarak hampir 610 km dari Palu. Sebuah kota dan sekaligus ibu kota dari kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Tempat wisata di Kabupaten Banggai beragam, terdiri dari pantai yang indah dan menakjubkan bahkan banyak diantaranya yang belum terjamah, sehingga keasrian dan kearifannya tetap terjaga, perbukitan yang unik, air terjun yang eksotik, padang savana yang luas serta pulau-pulau yang cantik.

Jika hidupmu panjang umur, pergilah berpetualang ke Luwuk Banggai, lalu lihatlah bagaimana indahnya Wisata Luwuk Banggai seperti; Pulau Dua (Balantak), Air terjun Laumarang, Air terjun Salodik, Air terjun pelangi, Air terjun Piala, Pingo Beach, Hutan Pinus Salodik, Pantai Kilo 5, Air jatuh mini Tontoan, Bukit Lombuyan, Bukit Lenye, keindahan malam hari di bukit Kasih Sayang dll.

Luwuk dapat dicapai dengan perjalanan melalui darat, laut, dan Udara. Terdapat 2 terminal di kota Luwuk, terminal Boyou dan terminal Luwuk selatan.Terminal Boyou yang melayani bis antar kota di sulawesi dan antar kecamatan. Pelabuhan atau Dermaga Teluk Lalong terdapat 3 pelabuhan. Pelabuhan Tilong difungsikan sebagai Pelabuhan utama untuk kegiatan ekspor dan Impor serta penumpang. Sedangkan untuk mendukung kegiatan pelayaran antar pulau-pulau di Banggai Kepulauan, Banggai Laut, dan Taliabo tersedia Pelabuhan Rakyat dan Pelabuhan Ferri yang berfungsi sebagai pelabuhan lokal antar Luwuk-Banggai yang dikelola oleh PT. PELNI.

Kalian bisa melihat eksplore luwuk melalu video ilustrasi yang saya buat di sini

Eksplore wisata Luwuk

Air terjun Laumarang

Air terjun ini sendiri juga dikenal dengan air terjun Ayus terletak 2 Km dari Air Terjun Piala di kelurahan Hanga-hanga, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Keindahan yang Tuhan sembunyikan rapat di balik bukit. Walaupun perjalanan ke air terjun Laumarang tidak terlalu lama sekitar 20 menit dari kedai Rimba Ayus, namun perjalanan ke sana dari beberapa info yang saya dapat sangat sulit dan terjal, belum lagi track perjalanannya tertutup pipa air yang menuju ke Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) Hanga-hanga. Namun semua akan terbayar ketika kalian telah sampai di sana dan melihat keagungan air terjun ini dengan ketinggian hampir 30 M dan lebar 20 M sehingga hantaman air angin dari curahan air terjun yang jatuh sanggup membuat badan kalian basah tanpa harus nyebur manja dulu.

Air Terjun Salodik

Lokasinya berada di kawasan cagar alam salodik, yang berjarak sekitar 20 kilometer arah utara Kota Luwuk. Kawasan ini dapat ditempuh dengan sepeda motor atau mobil tidak lebih dari 1 jam perjalanan dari pusat kota.

Seperti halnya kita melongok Banggai Kepulauan Pulau Peling, saya pernah mendengarnya dari seorang teman, biasanya saya akan bertanya kepada seseorang mengenai suatu tempat yaitu dengan mencari informasi mengenai keunikan dari lokasi yang hendak saya tulis.  Pulau Peling merupakan nama pulau yang menjadi mutiara bagi kabupaten Banggai Kepulauan. Tidak hanya hanya harus memiliki kecintaan yang besar terhadap laut, namun di butuhkan sedikit jiwa petualang bila ingin mencicipi panorama alam yang di suguhkan oleh pulau yang belum banyak terjamah ini.

“Sayangnya, akses untuk transportasi kesana belum begitu baik, tentunya jika kesana kalian akan mendapatkan sensasi berdesak-desakkan dengan penumpang lain di atas sebuah kapal, mencium aroma asinnya angin laut berhembus kencang dan tarian ombak yang tak biasa, yang mungkin sesekali akan membuat perutmu mual seketika.” Ujar seorang teman dengan khas tawa renyahnya bercerita.

Uniknya lagi, di pulau ini rupanya terdapat ‘Luwuk Panenteng’ sebutan yang digunakan masyarakat untuk menamai mata air alami yang airnya menggenang dan membentuk sebuah kolam renang dengan pemandangan indah yang tak biasa, seperti hijaunya tanaman yang mengelilingi kolam ini.

Yah, walaupun keindahan luwuk sampai hari ini hanya menjadi keindahan yang saya dengar melalui telinga dan foto-foto milik orang lain. Tapi setidaknya, tulisan mampu mengemban tugas baik yang lain untuk dapat menjelajah ke dalam kumparan otak manusia agar hanyut mencintai banggai seperti saya.

Kuliner

Hal yang tidak kalah penting dalam sebuah perjalanan adalah berburu kuliner, lelah perjalanan akan ada waktunya kita berhenti sebentar untuk mencecap dan memanjalan lidah dan tenggorokan. Nah, jika kamu ke Luwuk Banggai ada kuliner khas ketika kamu menjejak ke sana. Makanan khas di sana ada Kaledo, yang merupakan makanan dari olahan berisi potongan tulang kaki Lembu donggala, daging yang menempel ditulangnya langsung membuat lapar. Baunya yang khas dari uap sup yang masih mengepul segera membangkitkan selera makan. Disajikan dengan taburan bawang goreng di atasnya, makin menambah gairah ingin mencicipi. Semakin pas dengan sepiring nasi putih hangat yang juga masih mengepul. Selain kaledo juga ada Sop Konro,  jika kalian singgah ke luwuk di sepanjang pantai Teluk Lalong juga menyediakan pisang Louwe, uniknya pisang bakar ini dinikmati dengan sambal terasi pedas (walaupun untuk menikmatinya bisa dengan cara lain seperti disiram dengan Susu kental manis). Sedangkan untuk minumnya kita bisa menyuruput Saraba, sejenis minuman seperti bandrek dari susu dicampur jahe kental. Hidangan laut juga melimpah di sini, seperti menu ikan bakar dari ikan kerapu, sotong, kwe, kakap merah,bobara, dan lain-lain dengan sambal dabu-dabu atau sambal rica rica.

Adat Istiadat

Telur Penolak Bala ‘Monsawe Tumpe Mamuha’, demikianlah nama prosesi adat yang kerap di selenggarakan masyarakat Banggai sekali dalam setahun nya ini. Upacara adat Tumpe merupakan upacara penyerahan 100 telur burung maleo (Macrochepalon maleo), burung endemik Sulawesi yang memiliki telur 4 kali lebih besar dari telur bebek kepada Raja Banggai. Monsawe Tumpe Mamuha dimulai dengan penyerahan telur oleh warga Batui kepada seorang ‘Dakkanyo’ atau sesepuh adat setingkat Lurah. Telur-telur yang besarnya kira-kira 3 kali ukuran telur bebek ini di bungkus dengan anyaman khas daun ‘Komunong’ atau dedaunan lontar.

Sebuah arak-arakan yang dilengkapi dengan tetabuhan berupa gong dan gendangnya kemudian mengantarkan rombongan ini ke tepian pelabuhan. Setiap bertandang ke daerah-daerah, biasanya yang saya tanyakan lebih dulu adalah bagaimana adat istiadat dan prosesinya. Agar kita bisa belajar menghargai alam dan kebiasaan penduduk sekitar. Telur-telur burung Maleo memang di antarkan ke Banggai dengan menggunakan perahu kayu. Hiasan berupa umbul berwarna-warni menjadi penanda perahu yang akan digunakan untuk menyebrangi laut dalam beberapa hari tersebut.

Kalian akan melihat bagaimana tiga orang sesepuh adat dan empat orang pendayung menempuh perjalanan mengarungi lautan. Di sebuah desa yang bernama ‘Tolo’ yang berlokasi di Pulau Peling, rombongan ini akan mengganti Komunong pembungkus telur. Pembungkus lama nya pun dibuang ke tengah lautan.

Kearifan lokal di setiap daerah yang berbeda selalu menarik untuk kita bahas agar kita tidak pernah lupa, bahwa kehidupan modern yang dijalani sekarang merupakan sebuah proses perjalanan kehidupan tanpa harus melupakan unsur adat yang baik di hari kemarin.

Semoga tulisan mengenai banggai ini mampu menjadi pelopor banyak hal baik yang menyapa kita setiap hari, seperti tagline sederhana Festival Sastra Banggai “Rayakan Kata – Bumikan Ilmu” Mari kita angkat sejarah, budaya, pariwisata, agar kehidupan, perasaan, tindak-tanduk kita selama ini, sama-sama berjalan baik — Beriringan.

Untuk meramaikan Festival Sastra Banggai 2017, ada sepenggal puisi yang saya ciptakan.

Silahkan dengarkan suara saya lewat soundcloud di sini–>

Ketika Banggai Memiliki Ibu Kata

Di kota besar, ada harapan yang merunduk tertutup diantara leher-leher yang mendongak.

Di sini, Banggai memiliki ibu kata dan suara.

Anak-anak kata menjelma unggun pada ritual suci sastra Banggai.

Melingkari sejarah, diantara hangat nadi yang paham bahasa.

Riuhnya, mencoba memintal sebaris nama berwarna darah dan secangkir kisah.

Mengepulkan cerita, mendengungkan bahagia di gemuruh jantung peristiwa.

Kita berdiri di atas tanah kota berair.

Menghidangkan doa-doa, yang dibacakan nasib pada sebuah pertunjukkan.

 

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

 

2 thoughts on “Rayakan Kata, Bumikan Ilmu — Bangga Di Banggai”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *