Skip to content

Sekampret-Kampretnya Persahabatan Bagian 4 (Move On)

Kalian mungkin juga pernah mengalami hal yang sama seperti apa yang gue rasakan, dimana ada saat kita pernah mendambakan seseorang diam-diam. Tanpa perlu ada yang tahu, tanpa perlu banyak pertanyaan mengenai kenapa dan bagaimana.

Gue hanya mencoba merubah mindset untuk berhenti mencintainya, karena pertimbangan ke depan ada banyak hal baik yang terceklis, dibanding gue memilih hal sebaliknya. Ini, yang gue namakan pilihan hidup.

Berhenti mencintai, bukan harus berhenti menyayangi. Iya kan?

Entah gue seorang pengecut atau apapun yang lu pikir, bahkan untuk memperjuangkan cinta dalam hidup aja, gue harus mikir seribu kali. Pilihan di otak kerapkali bilang. Nggak! Gue gak mau hanya karena wanita, persahabatan jadi hancur, gak ada di dalam kamus gue terjerumus hal drama kaya begitu.

Gue lebih percaya atas cerita yang Tuhan tulis dan kehendaki, bahwa cinta yang baik sepantasnya akan bertemu dengan cara yang juga baik, bukan dari hal-hal buruk yang secara kebetulan lalu kita sibuk mengatasnamakan cinta tanpa memperdulikan perasaan orang lain serta memaksakan kehendak paling kacrut bernama ambisi.

But well, namanya manusia, kita tetep butuh jeda untuk bisa merasakan dan melepaskan sesuatu. Wajar! Sebab mengubah pola pikir juga butuh proses, gak segampang balikin emping saat emak lu lagi ngegoreng. Dalam hidup gue, rasanya gak butuh perjalanan lama untuk pergi atau menghindar hanya sekedar mencoba menjauh dalam hal melepaskan. Seperti yang kalian tahu, kisah hidup percintaan gue dipenuhi banyak hal pengkhianatan dari barisan para mantan. Entah karena gue yang terlalu polos, terlalu baik dan terlalu percaya, sampai bahkan mereka tidak lagi menemukan sebuah tantangan dalam menjalin sebuah hubungan yang dirasa terlalu flat, terlalu datar, terlalu rata kaya dadanya para model Ukraina.

Namun justru gue merasa bersyukur, dengan banyak kisah patah hati yang singgah dalam hidup gue, gue setidaknya belajar  untuk maju selangkah lebih memahami, arti dari memiliki. Kemudian naik level untuk memilih hal baik dari banyak luka yang mendewasakan, contohnya adalah luka yang mengajarimu banyak hal. Tidak ada yang pasti untuk hari esok, dan selama kita percaya bahwa tidak ada yang datang dalam hidup ini  entah itu berupa kekecewaan dan kehilangan untuk singgah dengan alasan yang baik. Selama kalian percaya kalimat itu — Maka lu akan kerapkali merasa baik-baik saja.

3 tahun gue benahin diri gue, mencoba memahami sekeliling dan berusaha untuk benar-benar memilih seseorang ternyaman menurut versi hati gue sendiri, kesalahan terfatal selama ini, gue terlalu banyak memakai otak. Bukan hati. Ada banyak hal di luar yang kita pikir buruk, setelah dijalani ternyata tidak seburuk itu. Banyak hal indah yang kita bayangkan, ternyata setelah kita lalui tak seindah apa yang terlintas di benak selama ini. Hidup di dunia itu, kita harus siap dengan segala macam tipu daya yang terlihat menarik, walau pun kenyataannya tak semenarik itu.

Kita memasuki jaman dimana banyak manusia yang bertingkah sebagai penyebar virus Pemberi Harapan Palsu. Memberikan banyak perhatian lalu tiba-tiba — Menghilang. Manusia penganut prinsip “Jalangkung” Datang tak dijemput, pulang tak diantar” Sebagai pria sejati, gue melaknat hal demikian. Wanita itu dipenuhi dengan rasa baper, perasa dan terlalu peka, jika lu gak mencintainya, tolong berhenti untuk memberikan perhatian ke mereka terus-terusan. Sebab akan menambah deretan cewek beradegan drama lagi di muka bumi ini. Cinta itu abstrak, setiap orang akan punya standard mereka sendiri untuk bilang sayang, cinta dan perhatian. Jika memang gak ada kepastian, kalian gak usah buang-buang waktu menjebloskan diri untuk bersedia dikadalin oleh para buaya darat yang kelakuannya kaya bunglon kebon.

Kita kerapkali terlalu meributkan tentang hari esok, sejatinya kita sendiri pun tahu. Bahwa hari esok adalah hal paling rahasia dariNya, sedangkan kita hanya diberikan waktu untuk menunggu, kemudian memilih — Sebagai penentuan seperti apa endingnya. Kita hidup hanya untuk singgah melihat silaunya dunia sampai kemudian dimatikan sementara dan dihidupkan kembali, hanya manusia beruntung yang diberikan rasa takut atas banyak hal yang dilakukannya ternyata salah di kehidupan ini. Dan itu juga, mengapa alasan Tuhan memberikan akal dan pikiran untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Pertebal iman bahwa; Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan tak pernah menutup matanya.

Selama ini, kita terlalu repot mengubah orang untuk jadi apa yang kita mau, sampai lupa bahwa ada jawaban yang lebih simple, yaitu dengan mencari yang sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan. Banyak hal di dalam hidup ini yang sebenarnya mampu diselesaikan tanpa harus dengan suara yang memekikan telinga. Berulang kali sudah beberapa hal paling ribet dalam hidup gue yang mampu diselesaikan justru dengan waktu paling tenang–Seperti sekarang. Bicara dengan diri sendiri, lalu mempertanyakan banyak hal pada Tuhan. Membiarkan sepi untuk menang sehingga otak dan hati sama-sama memberikan wejangannya sendiri lalu meng-iya-kan atas apa yang memang sudah sepantasnya berjalan digarisNya dan lewat begitu saja.

Kita harus berpikir secara dewasa, dewasa yang mampu memafkan dan memandang segala hal dari banyak sisi. Gue termasuk orang yang tidak mudah merubah penilaian dan pandangan untuk orang lain atas apa yang telah salah ia lakukan, kemudian melupakan banyak kebaikan di hari yang kemarin.

Kenangan masa lalu, emang bikin kita susah tidur.

“Tuhan, gue mau pergi kerja besok pagi-pagi, karena cuti yang kemarin udah habis. Tolong hambamu ini… Ya Tuhan. Ngantuklah. Ngantuklah.” Doa gue dalam hati, sambil melakukan hal gila mengucap mantra setan abrakadabra di mata gue sendiri pake gayanya Pak Tarno.

Waktu menunjukkan pukul 22.05 WIB. Hujan tiba-tiba turun tanpa permisi, tidak ada khas bau tanah ketika ia turun tiba-tiba malam ini, lagian gue juga ada di kamar bukan di luar. Padahal, saat hujan gue suka nyium harumnya bau tanah dan ngeliat daun-daun basah semua. Berasa seger aja, tanaman seolah dipaksa Tuhan mandi dan keramas malem-malem, untung tanemannya pada gak kena rhematik.  Entah tanamannya abis ngapain coba, sampai-sampai dipaksa mandi, mereka kan belum nikah resmi, cuma nikah siri di stek dan penyerbukan oleh belalang dan kupu-kupu.

Gue bergegas ke dapur untuk nyari pertolongan mengisi perut gue yang lapar. Sebab galau malem-malem juga butuh tenaga shaaaayy. Jiwa dan raga gue sepakat untuk ngorek-ngorek kulkas di dapur. Tapi kebiasaan manusia kerapkali justru nyari yang gak ada, di kulkas ada pisang, gue malah kepengen jeruk, ada opor beku di mangkok, gue malah kepengen soto. Akhirnya gue memutuskan untuk bikin mie instant, pake cabe rawit sama telornya dua, pake telor dua bukan karena laper banget, tapi biar samaan aja sama punya gue. Biar hidup gue harmonis.

Belum sempet gue jerang air di panci, terdengar bunyi genderang Mang Caca, tukang nasi goreng yang dengan ikhlas lewat malam hari, menurut gue nasi goreng Mang Caca adalah nasi goreng ter-enak yang lewat di rumah gue, karena cuma dia satu-satunya yang lewat di sini. Karena rumah gue jalan buntu. Mang Caca juga termasuk tukang nasi goreng yang rempong versi Infotainment Silet. Kalau lu beli nasi goreng di dia, kuping lu harus siap-siap panas membara, bukan karena kena penggorengan, tapi dia curhat panjang gak berhenti mengenai istri dan anaknya di kampung tiap kali lu pesen nasi goreng, ceritanya ngeluuuh melulu, seolah hidupnya gak pernah ada bahagia-bahagianya. Gue buru-buru matiin kompor dan bergegas buat beli nasi goreng aja, udah bawa piring, sambil mikir ngerayu Mang Caca minta ditambahin acarnya yang banyakan.

Sampai di pintu depan…

Eh, gue lupa kalau lagi hujan. Gue memutuskan balik lagi, nyalain kompor lagi, ngiris cabe rawit lagi, karena males keluar hujan-hujanan.

-___-!!!!???

Hidup gue emang ribet banget malem ini.

Setelah mie instant mateng dengan asap masih mengepul, gue bermaksud untuk ngademin dulu sambil rebahan dengerin musik sebentaran. Biar lidah gue ini gak melepuh-melepuh banget saat gue sosor itu mie sama kuah-kuahnya sekaligus. Gak tahunya, gue malah ketiduran sampe pagi.

Kampretos!

Lu sekarang percaya kan? Kalau hidup gue emang ribet banget?

Pagi-pagi setelah bangun, gue cuma menatap nanar mie instant yang mekar gue tinggal tidur semaleman berikut bonus semut-semut yang berenang ngambang pake gaya bebas selama hidup di atasnya. RIP semut. Semoga tenang di sisiNya.

Matahari, pagi, dan rasa terburu-buru ikut menjadi bagian dari lalu lalang ramainya jalanan kota, cuaca yang labil selabil perasaan gue sekarang. Di mobil gue selalu sedia payung sebelum hujan, bukan sedia hujan sebelum payungan. Lah apa’an. Terserah mau hujan atau nggak, yang penting gue udah persiapan kalau hujannya tiba-tiba ngeguyur jalanan kota pagi ini. Tapi rupanya, cuaca hari ini terang benderang walau pun masih ada sisa genangan malam tadi. Karena semalem hajat laper tak tersalurkan, gue memutuskan untuk berhenti di sebuah kedai kopi sambil sekalian sarapan yang enak-enak. Sarapan balas dendam namanya. Gue masuk seiring derap kaki orang-orang yang juga melangkah mencari tempat duduk, mungkin mereka memiliki niat yang sama, yaitu nyari sarapan karena kelaperan. Kantor gue udah deket dan waktu menunjukkan masih kepagian. Oke, dengan leluasa gue bisa santai sejenak di sini. Percakapan gue semalem dengan Mytha seharusnya gak terbersit saat ini, tapi justru malah keingetan dan berputar-putar ulang. Hal sederhana semalem menjadi malam panjang yang kita lewatin berdua. Eh salah deng, lebih tepatnya gue lewatin sendiri, karena dia terlanjur ketiduran duluan.

Sesekali gue biarkan perasaan nyaman untuk ngelamun sementara sambil nunggu pesanan datang di meja kedai nomor 23, yang berada tepat di samping kaca dan langsung berada di bawah pendingin udara. Gue membiarkan dingin dari alat pendingin ruangan made in China itu menembus pori-pori kulit, untung hape gue gak ikutan made in China. Bisa-bisa mereka pacaran, karena serasi. Mata gue berkeliling memandang sisi luar yang hanya dibatasin kaca panjang dan lebar di kedai ini berbalut tanaman-tanaman plastik yang jatuh menjuntai di atasnya, membuat terkesan lebih sejuk dan hijau, namun dengan begitu gue masih bisa memandang leluasa aktifitas orang-orang di luar sana. Ada yang sibuk tertawa, gelisah menunggu, mimik muka datar yang biasa saja, kemarahan orang-orang, dan lalu lalang sebagian manusia yang melintas di jam sibuknya orang Indonesia.

Mereka tenggelam oleh kesibukannya masing-masing. Sedangkan gue tenggelam dan melakukan hal-hal jorok. Seperti ngupil yang kemudian gue peper di pinggiran bawah meja. Supaya gak ketauan, tentunya gue lakukan ini secara profesional. Pelan tapi pasti.

Gue dan tempat ini masih begitu asing. Ini pertama kali gue memasuki kedai kopi Vietnam, oke gue perjelas, kedai kopi Vietnam tanpa sianida ya guys. Walau pun dekat dengan kantor dan sering lihat lokasinya serta jadi recomended teman-teman yang lain, gue selama ini hanya sekedar tahu dan melintas, tanpa pernah sekali pun memilih untuk mampir. Kegemaran gue dengan kopi rupanya mampu membunuh rasa asing pada tempat yang bahkan baru pertama kali gue injak ubinnya.

Sebagai penggemar kopi, tentunya tempat ini menjadi surga. Kita bisa melihat langsung para barista yang menyajikan kopi dengan pilihan biji kopi terbaik. Barista merupakan  ‘jiwa’ dari sebuah coffee shop. Mereka adalah faktor penting yang menjadi ‘wajah’ bagi sebuah kedai kopi. Sebagai pecandu dan penikmat kopi gue kerapkali belajar dari bokap yang memang memiliki kesukaan yang sama, bokap bilang kopi yang nikmat tergantung bagaimana cara meraciknya. Cara meracik yang tepat akan menghasilkan kepekatan dan keasaman kopi yang pas di lidah serta aroma kopi yang mantap. Sebab kualitas kopi yang baik dibagi menjadi 3 hal yaitu; biji kopi, mesin pembuat kopi, serta orang si pembuat kopi. Jaman gue masih sekolah SMA nih, ketika temen-temen gue kursus mata pelajaran Mate-matika, IPA, IPS, dll. Gue malah beda sendiri, gue lebih milih sepulang sekolah kursus untuk menjadi barista. Kelas barista dibagi dua, yaitu basic dan latte art. Nah di kelas basic ini, kalian akan diperkenalkan dengan teori dasar mengenai kopi, mulai dari berbagai jenis kopi, alat pendukung dalam pembuatan kopi yaitu mesin pembuat kopi, cara pengoperasian mesin, hingga ke metode penyeduhan kopi. Gini-gini otak gue paling encer soal menghapal, urusan praktek sih fifty-fifty.

Setelah lu mahir di kelas basic baru ke tahap kelas latte art atau seni menggambar dalam minuman kopi, gue juga sempet mempelajari cara penguapan sehingga menghasilkan buih kopi dengan ketebalan yang pas, serta proses penuangan ke dalam wadah hingga menghasilkan lukisan cantik diatas buih kopi. Proses penuangan ini merupakan yang paling sulit karena membutuhkan keahlian ayunan tangan, ayunan tangan yang pas, akan menghasilkan gambar yang bagus, asal lu tahu, gue butuh waktu panjang belajar mengenai ayunan tangan kala itu. Ayunan tangannya harus halus, beda kalau kita nampar orang. Semenjak kursus barista, gue baru sadar bahwa di dalam secangkir kopi yang gue pesan, membutuhkan proses panjang dari para petani kopi hingga bisa tersaji cantik di sebuah meja-meja di kedai kopi.

Seorang barista di ujung sana baru saja selesai meracik sebuah pesanan, dengan sigap wanita cantik mengenakan apron yang berbeda dengan pelayan yang lain membawanya menuju meja nomor 23 dimana gue bertapa di situ. Senyum yang menawan dibalut profesionalitas kerja yang gue tangkap menjadikan cewek ini seolah memiliki kharisma yang baik di mata gue.

“Satu Quiche lorraine dan Coffee Latte di meja 23, silahkan dinikmati” Senyumnya ramah

“Thank you” Jawab gue singkat. Hal pertama yang gue lakukan adalah nyeruput kopinya langsung. Setelah gue telen sebentar. Pelayan wanita tadi gue panggil lagi.

“Mbak, sorry. Secangkir kopi yang disajikan di cangkir ini lebih ke arah Caffe Machiato bukan ke Coffee Latte.” Rasa yang gue tangkap di lidah gue berkata demikian. Memang hampir mirip rasanya. Kemudian gue menjelaskan panjang lebar bahwa Coffee latte merupakan sejenis kopi espresso yang ditambahkan susu dengan rasio antara susu dan kopi 3:1 yang seharusnya dia lebih paham mengenai hal ini, sedangkan yang gue minum adalah perpaduan kopi espresso yang ditambahkan susu dengan rasio antara kopi dan susu 4:1 jadi jelas lebih ke Caffe Machiato.

Setelah minta maaf, dia malah tertarik untuk ngobrol sama gue. Kita ngobrol mengenai kopi panjang lebar, banyak hal yang dikupas dan dia exited. Ada beberapa hal juga yang gue sarankan ke dia, bahwa dedikasi dan profesionalitas barangkali adalah salah satu alasan mengapa barista di luar negeri cenderung dihargai begitu mahal. Karena sejatinya profesi barista bukan hanya sekedar ‘tukang bikin kopi’ lalu selesai. Mereka adalah seniman yang tahu betul seberapa banyak takaran dan campuran yang diperlukan untuk menyajikan espresso dan variasinya. Jika pelanggan memesan Coffee Latte, maka mereka akan benar-benar meramu Coffee Latte, bukan Caffe Machiato. Dan sebaliknya. Hanya butuh waktu sekejap gue merasa kita banyak persamaan, kemudian dia terkesan dengan penjelasan gue. Cuma gara-gara kopi, kekerenan gue jadi meningkat. Tapi gue berusaha gak baper sama keadaan yang bahkan baru saja mampir pagi ini. Gue sampai lupa mengenai kegalauan gue kemarin setelah hadirnya Mytha tiba-tiba. Ternyata memang bener, move on hanya butuh seseorang untuk melengkapi cerita dan kisah kita yang baru sebagai cara pengalihan atas pikiran kita, supaya berhenti mengulang-ngulang kejadian kemarin.

Setelah 15 menit kita ngobrol panjang, gue baru sadar ternyata dia adalah owner dari pemilik kedai ini. Bukan Pelayan. Kita bertukar kartu nama sampai akhirnya kita save nomor telfon masing-masing. Akhirnya gue tahu, bahwa cewek manis dihadapan gue yang berambut panjang ikal, berkulit putih, pemilik mata yang lebih ke arah coklat muda dengan alis tebal alami tanpa harus takut goresan pensil alisnya luntur kena hujan, perawakan yang tidak begitu tinggi ini rupanya bernama “Malika”

Seperdetik dia memperkenal diri bahwa namanya “Malika” gue langsung ngakak. Hampir kopi yang gue minum muncrat semua, ke mukanya. Dia bingung dan tanya langsung ke gue, apa ada yang salah dengan namanya? Gue cuma jawab ngasal sepolos-polosnya, gak ada masalah, cuma nama kamu itu mirip dengan nama kedelai hitam di iklan kecap Bango.

Dia malah gantian ngakak — Gak berhenti.

Gue ngeliat jam, lalu pamit buru-buru karena waktunya gue berubah jadi Megaloman di kantor dengan tumpukan pekerjaan yang gue tinggalin setelah cuti kemarin.

Dan lu tahu? Kejadian sesederhana ini, rupanya membawa gue terjebak untuk mampir ke sini — Setiap Pagi.

 

….

 

Bersambung

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

Published inFF & Cerpen

4 Comments

  1. Ria Ria

    Arghhhh ga sabar tgu next episode nya mb ci

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Siap.. lagi ditulis…

  2. Fhitri Fhitri

    Indahnya hidup kalo malemnya galau, besoknya move on…..
    Hehehehhe

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      move on cepet, berkah juga namanya ya.. ahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *