Skip to content

Sekampret-Kampretnya Persahabatan Bagian 5 (Tradisi Paling Kacrut)

Gue mulai memasuki ruangan, siap-siap kembali bertempur dengan tumpukan kerjaan. Terdengar seseorang menutup pintu dengan keras di belakang, gue melompat kaget, lalu cepat-cepat berbalik untuk melihat apakah ada orang yang memergoki gue terlompat dengan lebaynya barusan.

Kalau iya, tengsin juga! Secara orang terganteng di dunia gak boleh memperlihatkan mimik kaget paling kacrut. Bisa hilang wibawa.

-__-!

Syukurlah, rupanya rata-rata orang di sini sibuk dengan kegiatannya masing-masing, berebut potongan pizza dari Ferdi, temen kantor satu divisi sama gue. Ia berulang tahun hari ini.

Kebiasaan orang Indonesia ya begitu, tanpa disadari paling demen nyusahin orang lain. Setiap ada perayaan hari lahir seseorang, seolah menjadi momok menakutkan bagi hamba yang belum gajian untuk memberikan upeti, karena ada tradisi pajak ultah, sehingga setiap manusia yang ultah seolah berkewajiban mentraktir teman-teman hanya untuk menyenangkan hati mereka sesaat sekedar sarapan, makan siang atau makan malam. Jika tidak di-iya-kan biasanya mereka akan berbondong-bondong membuat paduan suara yang harmonis agar bisa melancarkan serangan dalam menjalankan misi ditraktir gratisan terselesaikan. Sampai kemudian, sang punya hajat meng-iya-kan dan mengangguk lemah-lemah terpaksa dengan senyum kuluman paling ngenes dan apes hari itu.

Bahkan gak sedikit, yang sengaja menonaktifkan hari ulang tahunnya di sosial media untuk terhindar dari tradisi paling brengsek yang tidak patut diabadikan.

Sumpah, gue melaknat….

Ada yang ultah – minta traktir, ada yang wisuda – minta traktir, ada yang naik jabatan – minta traktir, ada yang ini ono kucrut – minta traktir, sampai ketahuan pacaran sama temen sekantor aja nih – minta traktir. Giliran fakir miskin yang kelaparan dijalanan, boro-boro kepikiran mau traktir mereka makan!

Kenapa otak orang-orang cuma di isi — Makanan?

Hanya demi menyenangkan perut?

Otak itu butuh oksigen, pada piknik gih mendingan.

Kita pun semua tahu, pada akhirnya semua makanan itu diproses sampai kemudian berubah menjadi kuning-kuning ngambang di kali.

Gue yakin beberapa loyang pizza yang Ferdi beli, tumbuh dari segala hal yang bernama “Gak ikhlas”

Gue sendiri enggan untuk nyomot. Gak tega!

Seperti yang gue ketahui, Ferdi bukan dari kalangan orang yang berada, dia tulang punggung keluarga dan ibunya harus dirawat di RS karena stroke dan jantung. Dia sempet minjem uang sama gue dengan jumlah yang gak sedikit selang 2 hari yang lalu, untuk menutupi hutang dan membantu biaya pengobatan.

Dan mereka semua yang ada disini, malah sibuk minta traktir  makan ke Ferdi? Ini entah dunia yang salah, apa otak gue yang salah?

Rasa kepedulian orang-orang kadang sudah tertutup dengan gaya hidup yang aneh gue rasa, atau bahkan otaknya yang pada rusak kebanyakan jilatin mecin, mumet karena macet, terkikis radiasi ponsel ditambah gegar otak kena bentak para atasan di kantor karena deadline yang gak kelar.

Ciri-ciri manusia jaman sekarang selain bernafas, tumbuh, berkembang biak, makan, minum, ada hal yang lebih penting yaitu “GENGSI”

Bagi orang berduit yang punya inisiatif untuk mentraktir di saat ulang tahunnya, mungkin gak masalah. Tapi ketika sudah menjadi tradisi, ini jatuhnya akan beda. Pada akhirnya masuk kedalam pembahasan dengan judul “Nyusahin Orang”

Apakah kalian juga termasuk Paguyuban Fakir Traktiran bagi teman-teman yang lagi ultah?

Kalau iya, insyaf deh mulai sekarang, belajar bikin orang lain senang — Tanpa menyusahkan. Tradisi di luar negri, siapa yang ulang tahun biasanya justru ditraktir, di Indonesia malah kebalik, yang gak ultah malah pada minta ditraktir.

Belum selesai gue mikir dan ngelamun ngebahas hal beginian sambil jalan menuju meja kerja. Temen sekantor gue mulai pada berkicau dan menggeliat kaya cacing kepanasan di gurun pasir. Apalagi kalau bukan hamba-hamba yang gilak minta oleh-oleh tiap ada orang yang jalan-jalan. Siakenya mereka pun tahu gue abis balik dari Amrik. Padahal gak bilang-bilang, mungkin pada kepo liat ig story gue. Dalam hati nih. gue rasanya pengen banget teriak;

Woy! Bawa koper pakaian sendiri aja ribet, apalagi kalau sekantor pada minta dibawain oleh-oleh? Ada lagi yang tukang sepik hobby nitip barang branded dengan dalih nanti diganti, giliran udah dibeliin, langsung tiba-tiba amnesia dan cuma bilang “Terimakasih”.

-_____- !!!???

Tapi gue cuma santai sambil nyengir dengan gaya bahasa yang terkendali; “Gak bawa oleh-oleh, yang ada cuma pakaian kotor gue yang numpuk, lu mending pada bantuin pembokat gue cuciin gih. Supaya dapet pahala” Reaksi mereka gue udah bisa terka. Gue di Huuuu.. Huuuu-in. Sorak-sorai yang sadis. Membuat penonton kecewa, tapi gue lega. Sebodo amat. Akhirnya gue ambil bungkusan plastik di tas, isinya buah tangan sederhana beberapa lusin gantungan kunci. Gue sebar di meja si Andre.

Gue melirik ke kerumunan Paguyuban Fakir Traktiran itu sambil senyum, melambaikan tangan, beberapa orang yang lagi ngunyah pizza tiada henti mengacung jari dan mengajak turut serta mengambil jatah bagian di beberapa loyang pizza yang masih sisa. Gue cuma menggeleng, gue lihat ada Tony dengan perawakan gemuk bertubuh kecil yang sejak tadi tidak berhenti mengunyah, setelah menyantap satu potongan pizza, dengan cekatan ia langsung mengambil potongan pizza yang lainnya. Lalu mulai menggigit lagi, gue bahkan langsung kenyang ngeliat dia makan, lagian emang udah kenyang beneran juga mampir di Kedai kopi milik Malika. Kalau inget, gue jadi senyum sendiri. Lalu mengingatkan kembali untuk tidak terlalu terbawa rasa Ge’er yang berlebihan.

Gue berpapasan dengan gerombolan aneh yang lain di kantor ini sebelum sampai ke ruangan meja kerja, gerombolan para wanita di divisi gue yang mengatasnamakan diri mereka “Sosialita” Ada Iren, Devi, Syava, Lina dan Tuti, jiwa-jiwa yang tiap hari ada aja yang diomongin, kali ini mereka ngebahas tentang Fosil. Gue pikir kali ini selama gue tinggal cuti, mereka bertobat, lalu bicara hal lain yang bermanfaat dan rada pinteran sedikit mengenai pembahasan fosil-fosil purba semacam bos palaesondaicus, stegodon trigonocephalus, gavialis bengawanensis, pathera tigris dll.

Lah ternyata salah, ini tentang FOSSIL merk tas sama jam tangan! Ya Tuhan…

Istilah sosialita jaman sekarang entah kenapa mengalami pergeseran sebuah makna, di jaman dulu nih… sosialita itu lebih dikenal dengan kumpulan para bangsawan dermawan yang membuat aksi sosial untuk membantu menggalang dana bagi kalangan menengah ke bawah. Kalau sekarang, sosialita adalah komunitas yang mengedepankan cerminan gaya hidup yang glamor, kelas atas, dan hanya untuk kalangan terbatas. Sibuk mencari barang branded hanya untuk terlihat eksis. Makna yang bergeser terlalu jauh, buat gue.

Sungguh sesuatu…

Di meja kerja, gue mulai tenggelam untuk mengerjakan banyak hal. Sampai lupa sekeliling, gue mulai sadar ketika sudah mulai sedikit lagi waktunya makan siang. Pantes laper. Beberapa yang lain lagi sibuk korupsi waktu di sela-sela kerjaan, ada yang bukain path, main game, ada juga yang chatting sama gebetan, giliran atasan lewat, pura-pura sibuk sama kerjaan. Namun ada juga yang masih tenggelam kerjaan kaya gue tadi.

Tepat waktu teng-tong makan siang, orang-orang mulai berkeliaran kembali dengan tujuannya masing-masing. Bergegas makan siang dan sholat dzuhur, begitu pun gue. Semenjak pagi gue gak menyentuh halusnya layar ponsel, baru sadar wa udah ada puluhan. Whatsapp paling ribet dan paling banyak itu dari si Angga.

Segitu banyaknya tulisan di wa, intinya dia cuma mau ngeluh ke gue, kalau lagi sakit batuk. Yaelah. Udah minum berkali-kali obat batuk tanpa pake takaran dan langsung dikelokop dari botolnya masih gak sembuh juga, katanya merengek meraung-raung di chat. Dering hape sengaja gue mute. Mungkin kalau didering bisa-bisa gue dipecat karena buat kerusuhan gara-gara berisik. Gue scroll lagi ke bawah, si Angga kemudian menanyakan hal-hal yang gak penting. Apa harus tenggorokannya dipotekin beberapa bagian biar mereka mengerti bahwa batuk yang ia derita 2 hari ini sangatlah menyiksa? Gue sampe mumet liat WA karena satu layar ponsel, keluhan dia semua. Di bawah dari keluhan batuk, ada keluhan lain, segala curhat waktu pipis anunya kejepit retsleting celana sendiri. Sakitnya ngelebihin putus cinta. Dia mau teriak saat terjepit tapi gak bisa berkata-kata. Sakit yang dikasih judul “Rintihan Tertahan”

Arrgg.. Sumpah, niy anak bikin otak gue berasep. Nyesel gue baca isi wa dari si Angga. Itu anak emang harus punya pacar supaya gak ngeribetin hidup gue.

Gue cuma nulis singkat sebagai balasan “Bodo ah ga, derita luuuuuu….”

Si Angga kalau lagi gak ada job emang begini, hobby gangguan hidup orang, terutama yang kena imbasnya pasti gue. Angga kerja di perfilman, rambut gondrong style kaya orang pengangguran abadi. Keluar dari rumah siang dan pulang pagi pagi subuh. Mirip aktifitas bandar narkoba. Bisa juga lepas subuh udah dijemput oleh sebuah mobil dan berhari hari nggak pernah pulang. Atau kadang gak kemana mana, hanya kelihatan duduk-duduk di teras sambil merokok dan ngopi. Kemudian namu ke rumah gue. Berhari-hari. Makanya kebiasaan kalau nginep di rumah gue, bangunnya juga siang.

Tapi kadangkala, gue iri sama kerjaan si Angga yang gak monoton, bisa bertemu orang yang berbeda, lokasi berbeda, serta ide yang berbeda pula. Bahkan si Angga kerapkali menginjakkan kaki di tempat yang mustahil kita datangi kalau bukan karena pekerjaan. Ia bisa syuting di pelosok papua, ternate, gili trawangan, raja ampat, sampai disebuah gunung bersalju, Titlis di Swiss, di gugusan Pegunungan Alpen dengan ketinggian 3.020 meter di atas permukaan laut. Mantep parah!!!

Lu pasti bakalan pengen ngejilatin layar hape sambil melotot kalau liat postingan instagramnya Angga. Sedangkan gue, mau cuti buat jalan-jalan aja susahnya harus berdoa dulu kepada Dewa Matahari. Resiko jadi karyawan yang kerja kantoran yang kaya gini. Nasib.

Angga pernah cerita ke gue waktu itu, bahwa ia pernah menjadi colourist, tekhnisi operator yang mentransfer film negative menjadi data digital atau pita video yang digaji sama dengan gaji direktur di kantor gue. Orang perfilm-an kalau punya jam terbang tinggi, gajinya bikin karyawan berdasi pada ngiri dengan orang-orang yang stylenya sesuka hati mereka, dengan cuma pake kaos, celana jeans dan sepatu kets atau sendal jepit aja, gajinya gede. Lu bayangin, penulis skenario dibayar biasanya lebih dari 20 juta tergantung dari jam terbang dan secepat apa ia bekerja, namun untuk penulis skenario layar lebar papan atas, rata rata dibanderol minimal 50-75 juta untuk per skenario, sedangkan skenario FTV dan sinetron kisaran 3-10 juta. Apalagi jika stripping yang tayang tiap hari. Jika ambil patokan terendah 3 juta pernaskah, sebulan bisa 36 juta. Belum lagi di bidang teknis seperti Director of Photography, Camera operator, Gaffer, Art Director dll umumnya dibayar per hari syuting ( untuk film iklan ) atau kontrak per judul (untuk layar lebar ). Honor Director of Photograpy atau lebih dikenal dengan sebutan kameramen untuk film iklan bisa 7 – 12 juta per hari. Itu dulu, gak tau sekarang.

Setelah makan dan sholat, notif wa masuk lagi. Siapa lagi kalau bukan Angga. Dia ngajak gue nonton bioskop ntar malem. Berdua. Ya Tuhaaan. Derita apa lagi ini?

Setelah gue pikir-pikir lagi, eh gue malah mengiyakan dan bilang untuk sekalian dia ajak Mytha kalau bisa. Dia tersontak kaget. Karena tulisan di wa cuma “HAAAAHH” pake huruf kapital. Gak tau pake adegan lompat apa nggak pas ngetiknya, karena gue gak bisa liat. Kan cuma di chat. Akhirnya gue jelasin panjang lebar kenapa gue bisa dapet kabar Mytha lalala lilili nanana blablabla. Kemudian gue kirim nomor kontaknya si Mytha ke Angga. Paling nggak untuk sementara waktu gue terselamatkan dari gangguan Angga dan sibuk godain Mytha, mungkin.

Atau kedepannya apakah terjalin CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) kembali. Hal ini bahkan gue gak bisa prediksi walau pun sudah menyelam di kedalaman isi otak mereka berdua.

Rasa cinta gue ke Mytha memang sama sekali gak pernah berharap banyak sejak awal. Jadi untuk hal-hal kedepan yang gak sesuai dengan bayangan dan rencana, gak ada perasaan yang terlalu sakit untuk gue rasakan walau pun ada sedikit rasa-galau-sebentar.

Kembali lagi gue ngetik ke Angga, ngajuin nonton film action, tapi si Angga malah ngajuin nonton film “Kartini”

Alasannya sepele, gue pikir karena kita harus cinta dengan film negara sendiri, tapi nyatanya hanya karena di film itu yang main ada Dian Sastronya. -___- !!

Gue pengen emosi tapi gak jadi, setelah dipikir-pikir ada benernya juga. Apapun cerita dan acting yang disuguhin nanti gak sesuai ekspektasi gue misalkan. Kalau liat muka mulus Dian, semuanya ter-maaf-kan. Ibarat kata,gak usah gue besar-besarkan juga. Karena itu bukan perkara.

Gak lama si Angga ngetik lagi, “Dhik, Perbedaan kartini jaman dulu, sama jaman sekarang itu apa?”

Gue jawab; “Kalau Kartini jaman dulu, memperjuangkan emansipasi wanita, kalau Kartini jaman sekarang, memperjuangkan Alis supaya terpampang nyata.” Si Angga ngakak

Kemudian dia bales “Banyak Kartini jaman sekarang yang pada jago bedain Lipstick Matte dan Lip Balm tapi gak bisa bedain mana merica sama ketumbar ya…” Kali ini gue yang gantian ngakak sekenceng-kencengnya dengan celotehan si kampret satu itu.

Setelah gue sadar dan ngeliat jam. Waktu istirahat gue terbuang percuma dengan ngeladenin chatnya Angga. Sial.

Kemudian gue kerja lagi, berjanji pada diri sendiri untuk berupaya sedikit mungkin mengadakan ucap janji tolak bala dalam hati untuk tidak korupsi waktu saat jam kerja, agar terhindar dari siksa api neraka, sehingga dapat terus bermimpi bermain di desa Konoha bersama Naruto dan makan Dorayaki bersama Nobita. Halah.

-____- !!!???%%##

 

….

 

Bersambung

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

 

 

Published inFF & Cerpen

4 Comments

  1. Riri Riri

    Can’t wait for the next chapters of this story.

    Masih gak habis pikir seorang penulis perempuan bisa nulis dari man’s point of view dan sekeren inii….

    ah sedih baru tau ada penulis sekeren ini dan blognya seinteresting inii….
    Falling in love in the first sight.
    Salam kenal mba Dess. I am a new fan :3

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Salam kenal kembali mbak Riri…

      Ay lop yu.

      Terimakasih sudah main mata di karendis.

  2. Novita Damayanti Novita Damayanti

    Ga sengaja nemu cerpen berseri ini ( cerpen bukan siy?! hehehe), gegara ngeshare status mba dessy ttg emak kudet eksis versus Ibu kantoran setaon yg lalu (notif.red)…Asli superrr banget status nya. Ga kalah super crpen berseri nya teope begete begete walopun bacanya mundur dark bagian 6-2-4-3-5 hahaha lucu, informatif, dikemas apik dan asli kocak abis mba dessy (hormat pake dua tangan…) Ditunggu kelanjutannya…

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Awalnya cerpen mbak Nov, tapi karena banyak yang minta diterusin, aku bikin cerbung. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *