Skip to content

Sekampret-Kampretnya Persahabatan Bagian 7 (Kisah, Kopi, Kita dan Cinta)

Oke. Fix. Alhasil gue sampe rumah dengan perasaan awut-awutan. Nonton filmnya “Kaga” keselnya “Iya”.
 
Di rumah udah malem begini, nyokap sama bokap gue masih kedengeran ngakak berduaan. Nonton Tv acara Bang Haji Bolot di ruang keluarga. Mereka adalah pasangan paling serasi dan paling kompak versi Majalah Hidayah. Mungkin, ketika gue menikah nanti, akan berkiblat kepada mereka berdua. Bokap gue adalah orang yang paling sotoy se-Indonesia dan paling gak jelas sedunia. Sedangkan nyokap gue, orang yang paling tabah sebumi dan paling baik segalaksi.
Makanya mereka cocok….
 
Nyokap gue waktu muda cantiknya gak main-main, kulit putih porselen selicin batang pinang, dipastikan kegantengan gue adalah anugerah yang diturunin dari gen nyokap. Bokap gue dulu kalau diliat dari foto mudanya menurut gue biasa aja, tapi tiap hari di depan nyokap gue, bokap selalu ngerasa paling ganteng bertahun-tahun selama hidupnya. Mungkin, karena bokap merasa di atas angin karena dimanja sama nyokap berlebihan. Kadang gue pernah berfikir, sihir hitam apa yang bokap gue punya sampai nyokap segitu cintanya sedemikian rupa. Kalau beneran punya, kan gue juga pengen minta. *eh kemudian dijitak malaikat.
 
Ternyata, ya itu… cuma modal joke paling garing yang kriuknya kaya kerupuk udang. Kesholehan dan kesantunan bokap juga yang selalu sholat tepat waktu membuat nyokap dan keluarganya luluh menerima bokap se-ada-adanya.
 
Dan yang perlu kalian tahu, bokap kalau sakit, manjanya udah kaya bayi raksasa. Gak ada pantes-pantesnya amat.
 
Entah udah berapa kali bokap gue bilang, bahwa nyokap adalah wanita yang amat beruntung dapetin bokap, gue rasa sebenernya terbalik, yang ada bokap gue harusnya sujud syukur hati nyokap bisa luluh karena hal sepele, jatuh cinta cuma gara-gara karakter bokap gue yang lucu. Seumur-umur nih, gue baru sadar setelah ngeliat dan ngedenger ceritanya sendiri, adakalanya ya, orang ganteng ternyata bisa kalah juga sama orang lucu. Karena jika dilihat kecantikan nyokap yang wajahnya kaya artis hollywood blasteran Jerman, udah pasti cowok cakep pada ngantri. Lah, ini muka bokap gue biasa banget, hidungnya minimalis gak jauh beda sama telor cicek. Gue bukan lagi belajar jadi anak durhaka, tapi ini fakta.
 
Hal yang paling gue salut dari nyokap adalah walaupun dia keturunan ningrat yang dari orok udah terlahir dengan kekayaan yang gak abis-abis sampai 7 turunan jika duitnya dibeliin chiki momogi dan choki-choki doank, tapi kepribadian nyokap amat sangat sederhana, gak mencerminkan orang kaya yang serba manja dan tukang perintah pada umumnya. Nyokap setelah menikah, langsung resign dan rela tinggal di rumah serta jauh dari segala macem urusan sosialita kaum sekarang. Lebih seneng di rumah, menanam pohon dan ngurus bokap sepenuh hati, kalau lu lihat lantai 3 di atas rumah gue bahkan ada sebagian yang dibuat semacam kebun hidroponik yang nyokap rawat sendiri. Rumah gue sampe kaya hutan hujan tropis tau gak. Di rumah walaupun ada mbak yang bantuin, tetep aja urusan ngambilin nasi, bikin kopi, masak, bahkan sampai-sampai sebesar gini, ketika gue tugas di luar kota atau berlibur ke luar negri, gue mesti rindu masakannya dan kue-kue buatan nyokap. Selain masak, nyokap gue memiliki banyak prestasi. Prestasi yang diukir juga gak main-main, pernah juara 1 lomba makan kerupuk, balap karung, sama tarik tambang. Gimana gak menang coba, udah biasa latihan narik karet kolor bokap gue, sebagai hukuman kalau bokap punya seribu alesan paling males gak mau bantuin motong rumput. Padahal ada Mang Saswi yang suka beresin kebun, tapi tetep aja sesekali nyokap suka kerajinan turun tangan sendiri.
 
Selain nyokap jago masak, segala urusan nyemir sepatu dan segala macam yang berurusan sama bokap gue, nyokap langsung yang ambil alih, alasannya ada banyak kebaikan yang bisa dipetik satu-satu jika kita mampu menyenangkan, membahagiakan dan membanggakan pasangan sendiri. Alasan yang sepele — Tapi menurut gue keren.
 
Agak miris juga ketika cewek jaman modern sekarang, banyak yang cuma modal kulit bening muka pas-pasan aja yang di otak isinya duit transferan, nyuruh baby sitter ngurus anak, ke salon, jalan di mall dan ngangkang, tanpa mau sibuk dan capek-capek ngurus suami. Asal bikin hati senang, dipastikan ranjang bergoyang, yang di otak udah kaya diracun film panas bioskop di terminal jaman dulu, judulnya gak jauh-jauh dari “Geliat Sarung Bergerak dan Ranjang Ternoda.” Hadeeh.. Woy… Pernikahan gak melulu berfikir soal seks!!!! Pernikahan jika hanya dilandasi nafsu duniawi ya begitu. Lupa bahwa dunia adalah halte, tempat singgah sementara. Lupa bahwa hal sesederhana bagaimana cara kita membahagiakan pasangan adalah tips jitu membuat seseorang jatuh cinta pada kita terus-terusan.
Rasanya seperti menjadi anak nelayan yang jatuh cinta pertama kali saat ia mengenal lautan.
Di bawah langit, pernikahan bukan sekedar dua jiwa yang saling bertautan dan memadu kasih seadanya, sibuk mempertahankan keadaan, menertawai kesedihan dan menangisi kebahagiaan, lalu terkurung dalam lingkup yang menyatakan dirinya seolah-olah bahagia. Setiap orang butuh seseorang dengan cinta yang baik yang membawa kita untuk memandang hidup menjadi lebih indah, agar kita tidak pernah mengutuk kehidupan setiap pagi. Memeluk seseorang yang memiliki energi positif, menulari pikiran-pikiran yang optimis, yang mengajari kita makna lain dari kehidupan, bahwa berbagi tidak akan pernah membuatmu kekurangan, justru menjadi pelengkap hidup untuk sama-sama berjalan bergandengan sampai tujuan. 
Jika sampai pada akhirnya, kau telah menemukan cinta yang baik, maka kata “Aku mencintaimu” tidak akan pernah cukup untuk bisa kita katakan setiap hari. Kata itu akan tertanam, terus tumbuh, semakin besar dan berkembang, menjadikan tunas baru yang lain, yang membuat sepasang bahagia sampai kepadamu, lalu kau memetik hasilnya, tak hanya untukmu, tapi juga untuk ia, untuk semua yang dekat dengan kalian dalam lingkup circle kehidupan.
 
Bokap pernah bilang, laki-laki kodratnya memang mendua, godaan wanita di luar itu adalah tantangan perang syahwat paling berat. Kita akan silau melihat liuk tubuh dan paras cantik perempuan. Sebab hakekatnya, mata manusia tidak akan pernah puas kecuali tertutup tanah kuburan. Secantik bagaimana pun wanita di rumah, cewek di luar entah kenapa akan terlihat lebih seksi. Seandainya kalian nikahin semua wanita di bumi sampai habis, mungkin rumput hijau yang bergoyang pelan akan terlihat lebih seksi dari istri-istri di rumah. Padahal ketika telah hidup sama-sama, semua keseksian yang dimiliki akan terlihat biasa aja. Belum tentu menjadi tempat sandaran paling nyaman juga untuk kita mampu bercerita banyak hal, dari bahagia sampai hal-hal pahit sekalipun. Bersyukur dalam tiap hal, melatih diri melihat ke dalam hati seseorang dan bagaimana pengorbanan waktu seseorang menemani kita sepanjang hidupnya adalah anugerah dari Tuhan yang akan membuat kita melihat banyak hal menjadi lebih baik, lebih indah dan menyempurnakan.
 
Itu kunci, ujar bokap gue kalau lagi nasehatin pas sifatnya lagi bener, karena biasa nasehat bokap suka diseling bercanda ngelantur. Gak ada hal yang lebih bahagia ketika nyokap tersenyum girang saat bokap pulang kerja dan candaannya yang sepele. Itu yang selalu dijaga. Berani coba-coba bermain api di luar hanya akan melenyapkan senyum yang ada sebagai penerang kebahagiaan. Senyum dan perlakuan manis perempuan di rumah adalah hal paling surga yang Tuhan tunjukkin sebelum benar-benar melihat arti surga yang sesungguhnya.
 
Saat lewat ruang tamu, gue walaupun segede gini tiap balik kerja dan papasan sama orangtua, ya harus salim. Mau segede bangkong kita tumbuh berkembang, tetap aja di mata orang tua, kita terlihat dan dianggap sebagai anak kecil yang lebih besar dari kecebong kolam sepanjang hidupnya.
 
“Balik kok malem amat, mas. Habis menumpas kejahatan memangnya?” Bokap gue mulai dengan pertanyaan konyolnya.
 
“Biasa, Yah. Anak muda. Diajak nonton bioskop sama Ninja Hatori, Saras 008, dan si Buta dari goa hantu” ucap gue menyambut celotehan bokap gue. Perbincangan kayak gini udah biasa di rumah. Kan lu sendiri tahu, bokap adalah orang pemilik joke paling garing sekarung goni. Gue sebagai anak, hanya mengimbangi.
 
“Anak muda jaman sekarang, otaknya pada kegerus radiasi sama keluhan macet ibu kota. Jadi begitu.”
 
“Lah emang kenapa?” Ucap gue nanya balik penasaran
 
“Lah itu, si Buta dari goa hantu kalau diajak nonton bioskop apa yang ditonton? Kan gak bisa diliat. Paling cuma makan popcorn sama minum soda. Kecuali pake jurus membuka mata batin.” Ujar bokap sok asik.
 
-______-!? Auk ah… “Dhika ke atas yah. Ngobrol sama Ayah lama-lama bisa nelen kipas angin.”
 
“Berarti pusernya kalau Ayah pencet, langsung muter donk ya? Kan ususnya berubah jadi baling-baling” ujar bokap gue sambil ngakak sendiri.
 
Nyokap gue sih cuma senyum-senyum. Udah paham endingnya — Mesti — Gue milih kabur. Karena kalau diterusin, percakapan gak jelas bokap akan berlanjut sampai bedug shubuh.
 
Kalau gue teliti, kelakuan bokap persis sama kaya Bossman di film Stupid Boss. Perkataannya harus dianggap paling benar, se-nggak lucunya bokap ngelawak, dia akan menganggap lawakannya itu hal paling lucu bagi dirinya sendiri, kemenangan absurd bagi bokap adalah ngeliat lawan bicaranya udah kesel sampe ubun-ubun. Pekerja keras dan optimis. Gaya penampilan santai kaya om Bob Sadino yang demen pake celana pendek dan kaos pantai gombrong bermotif paling rame. Sifatnya gue rasa cocok banget kalau main sama Cak Lontong. Sama-sama ngeselin.
 
Bokap kalau diomelin sama nyokap, triknya cuma satu, diem. Diem bukan berarti takut. Tapi lebih ke upaya penyelamatan dari serangan ocehan seribu kata kedepan dari nyokap gue yang lebih bahaya dari serangan negara api, ngomelnya gak akan reda kalau mulutnya belum kesumpel mie ayam. Tapi sama gue mah kagak, nyokap bawel cuma sama bokap doank. Di rumah nyokap dan bokap udah kaya Tom & Jerry, kadang kaya Beauty and The Beast, kadang-kadang juga kaya Galih dan Ratna. Situasinya gak bisa diprediksi. Tapi akur.
 
Kelakuan nyokap dan bokap gue yang terkadang kaya anak kecil dan sok romantisnya gak abis-abis adalah hiburan, ada aja yang mereka kerjain berdua yang kadang bikin gue pengen ngakak gak berenti sampe besok. Apalagi kalau denger cerita kisah dulu saat mereka pacaran sampe nikah. Paling keinget di kepala gue saat bokap cerita waktu berkunjung pertama kali ke rumah nyokap, namanya rumah gedongan pasti kan selera makanannya juga elite. Ngapel udah sok kece bawa spaghety, pizza, pokoknya makanan selera orang bule-bule. Pas kesana disediain sayur asem, ayam goreng, sambel, lalap, pete, jengkol dll. Lah ini mah sama kaya di rumah. Di sana, bokap gue baru sadar, bahwa kenyataannya hidup orang kaya rupanya gak semua persis seperti sinetron yang gayanya sepa’ banget, hobby ke salon dengan pilihan rambut di sasak gaya jambul burung cendrawasih dengan bulu mata lapis 4 khatulistiwa dan mencuih-cuihkan orang ndeso. Kehidupan keluarga nyokap, walaupun duit gak ada serinya, tapi kelakuan mereka tempe tahu oncom banget, kalau lu bingung maksudnya apaan, itu artinya — Sederhana.
 
Dengan begitu, gue bersyukur, banyak hal baik yang gue rekam di kepala sehingga karakter gue pun terbangun dari mereka.
 
Sampai di kamar. Kepengen mandi, tapi males karena keburu nyalain AC. Akhirnya gue berdoa, bahwa debu-debu ibu kota cuma nempel sedikit di badan gue, kemudian cuci muka, sikat gigi dan ganti baju. Gak lupa, kacaan sebentar untuk mastiin kegantengan di wajah belum memudar. Dua bantal gue tumpuk tinggi ke atas, kalau terlalu rendah perasaan leher berasa pegel besok paginya. Kemudian nyetel beberapa list lagu di ponsel. Lagu lama “Perahu kertas ~ Maudy Ayunda.” Seperti biasa, ritual sebelum tidur suka iseng buka-buka sosmed, bacain keluh kesah para manusia di bumi berikut jejak langkah dan cerita bahagianya. Dengan sekejap, sosial media membuat gue banyak tahu aktifitas mereka tanpa perlu repot bertanya. Liat lokasi si A beberapa menit yang lalu lagi di Iceland, si B lagi ada perjalanan kantor ke Turki, si C lagi galau, si D putus cinta, Si E lagi ada masalah rumah tangga, ada yang lagi ngerayain anniversary dll. Gue nyari yang lagi di kamar mandi belum ada yang posting. Gak lama gue kaget karena ngeliat beranda isinya foto selfie si anu tiap 5 menit sekali. Berasa ngeliat layar komputer studio cetak foto, isinya muka dia doank selebar gaban. Tanpa perlu baper dengan sumpah serapah. Gue klik tombol unfollow. Kelar.
 
Bengong sebentar gue jadi keinget Malika, owner cafe tadi pagi. Gak ngerti kenapa, ada rasa penasaran untuk mengenal dia lebih banyak. Jika gue bilang suka, mungkin ini kesimpulan yang terlalu dini. Namun cinta juga gue rasa, bisa tumbuh dari hal semisteri ini, berawal dari rasa penasaran mengenal seseorang.
 
Gue beranikan diri untuk ngetik…
 
“Selamat malam, Malika” tapi gak jadi, huruf-hurufnya satu-satu gue hapus lagi. Kesannya kaku banget kaya tukang somay ngajak kenalan mbak-mbak warteg. Gue urungkan niat ngetik dan beralih untuk zoom foto dpnya dulu di whatsapp. Terpajang foto wanita dengan syal biru, kaos putih paris dan topi chaplin bludru. Makin ada rasa penasaran lebih untuk nyapa. Gue lihat last seennya. Baru online semenit yang lalu. Oke. Kemungkinan besar dia lagi megang ponsel sekarang.
 
Gue ketik lagi, kali ini kalimatnya beda. “Hey.. Kamu, wahai kedelai hitam” gue langsung ketik enter. Kalimat sotoy begini terasa pas. Membuat gue berasa gak terkesan lagi nyapa ngarep banget ke cewek.
 
Gak butuh waktu lama, tulisan gue di-read. Malika is typing….
 
“Hey kamu yang uuh… Aku bukan kedelai hitam wahai cowok abal-abal”
 
Gue baca balasan dia jadi ngakak sendirian. Sotoy juga niy cewek, pikir gue berulang kali.
 
“Muka polos gini dibilang abal-abal. Muka gue termasuk muka yang gak punya dosa banget tau gak? Sering dipalakin preman dulu waktu pulang ngaji. Hehe” Reply gue langsung ke Malika.
.
.
“Hahaha, masa…”
.
.
“Dih, suer. Gue dalam 1 hari hari bisa nyelesain 8 juz, dari subuh ke dzuhur 4 juz, dari dzuhur ke ashar 2 juz, dari Ashar ke isya 2 juz. …………….Juz mangga tapi. hehe”
 
Malika cuma bales pake emot nyengir. Kemudian chat masuk lagi. “Kapan mampir ke cafe lagi?”
 
“Tergantung situasi, kalau ada yang nyariin atau ada yang kangen, maka hujan badai gue pasti ke sana. Kecuali gerimis, kemungkinan gue gak bisa. Takut pilek”
 
Si malika lagi-lagi ngasih emot ketawa sampe 5 biji.
 
“Kamu suka espresso kan dhik? Nanti pagi kamu mampir ke cafe deh. Cobain ristretto buatan aku, gratis.”
 
“Oh, half espresso ya. Maunya Yuanyang. Pernah coba? Minuman romantis perpaduan antara kopi dan teh yang bercampur dalam satu tegukan. Kaya kita”
 
“Lebaynya bisa di-enyah-kan dulu gak? Ahaha. Kamu gak ada keinginan buka cafe juga dhik? Pengetahuan kamu mengenai kopi, lebih luas dari aku kayaknya.”
 
“Suka kopi kan gak harus buka cafe. Hanya pengen jadi penikmat. Kita cocok, kamu yang buka, nanti biar gue yang nikmatin.”
 
“Ahaha, auk ah… Nikmat palalu dirubung semut”
 
Kali ini gue ngasih emot ketawa sampe 5 biji. Kemudian Malika nanya lagi.
 
“Lagi apa?”
 
“Mmm… Lagi terjun payung! ehe… ehehe”
 
“Seriuss ah”
 
“Lagi chat sama anak kesayangan dari kecap bango sambil rebahan, dengerin musik, kepengen ngantuk tapi sayang. Nunggu ada yang ngucapin selamat malam dulu. Coba, ucapin… Udah lama gak baca ritual begituan. Biar malemnya jadi beda aja, kaya ada manis-manisnya gitu.”
 
“Ahaha. Dasar. Sebentar… mmmm…. Kamu adalah pikiran paling liar yang singgah di otakku saat ini. Semoga malam hari tidak mengurung percakapan kita dikemudian hari, Selamat tidur, Dhika. Gimana? Udah manis?”
 
“He eh… Udah…………………………….. Sampe diabetes malah.”
 
-___-!?#
….
….
Bersambung
Dessyachieriny@yahoo.com
Published inFF & Cerpen

2 Comments

  1. Andre Andre

    Aaaakkkkk… Suka suka suka…

    Asli gak nyangka kalau penulis nya wanita.

    Ditunggu kancutan ehh lanjutannya kak..

    #readerbaru

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Tengkyu.. tengkyu.. tengkyuuu… hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *