Sekampret-Kampretnya Persahabatan Bagian 9 (Kiss Me)

Apa kalian pernah merasakan seperti apa yang gue rasakan? Bertemu seseorang yang baru, tapi seperti berasa mengenal dia bertahun-tahun. Itu, yang gue rasakan ketika mengenal Malika sekarang. Berasa kaya udah kenal lamaaaaaa banget, lamanya kaya kita abis minum jamu kuat.

Iya, gue merasakan mengenal dia selama itu.

-_____-!!??

Ini bukan masalah apakah semudah itu gue nyaman dengan seseorang, sedangkan hati gue masih terpaut dengan Mytha. Ini masalah menemukan seseorang yang mampu membuat lo nyaman dan itu gak mudah, sedangkan dengan Mytha ada banyak hal dan rintangan untuk menahan dikarenakan tidak ingin mengecewakan sahabat sendiri. Ketika gue berada dekat Malika, kebimbangan itu sirna, gue merasa sudah menemukan hal ternyaman saat ini, maka sebisa mungkin akan gue kejar, walau pun gue sama sekali gak pernah tahu apakah yang gue kejar itu akan membuka hatinya untuk mengerti tentang perjuangan atas apa yang pernah gue usahakan. Setiap orang bisa memberikan persepsinya masing-masing, tapi soal yakin apakah kita mencintai seseorang atau tidak, cuma kita sendiri yang tahu.

Dalam perkara mencintai seseorang, kita harus mengerti, bahwa ada tantangan yang mengajari kita untuk tidak menuntut orang secara berlebihan, ada banyak hubungan yang salah, karena berdasar atas harapan yang terlalu banyak dan tinggi. Sebelum kalian menuntut lebih, berfikirlah bahwa langit saja tak pernah memberikan alasan mengapa ia tinggi. Berani menerima kekurangan adalah sebenar-benarnya langkah awal menjalin suatu hubungan, sehingga di waktu-waktu panjang kedepan sanggup membuat kita jatuh cinta berkali-kali dengan kelakuannya sehari-hari.

Jatuh cintalah sampai lo benar-benar paham bahwa ia dapat menjadi alasan kenapa lo bahagia, kenapa lo gak mudah putus asa, alasan yang sama banyaknya bahwa karena kehadirannya, lo bisa menemukan banyak hal baik, kebaikan yang bahkan jarang lo lakuin dengan mudah tapi dapet lo laksanain. Gue bukan orang yang sempurna, ibadah memang gue lakuin selalu… Tapi gue joroknya Maha Dewa, dengan sikap badmood yang hilir-mudik tiap hari, walaupun gue marah gak sampe kaya orang kesurupan, tapi tiap kesel gue akan diem berlama-lama sampai orang bisa bertapa dulu dalam perjalanannya ke barat di Wu-hsing-shan (Gunung Lima Unsur Alam) untuk mencari kitab suci.

Sebelum segala ikrar pernyataan bahwa gue mencintai Malika di hadapannya nanti, gue akan membuat dia mampu menemukan sosok sahabat dalam diri gue lebih dulu untuk dirinya, ketika rasa nyaman baginya ke diri gue sudah mulai datang, jaga imej sudah mulai berkurang, dan ia lebih memilih untuk melihat banyak kejutan hal-hal buruk dalam diri gue dan tetap menyukainya, maka proses pendekatan ini, gue rasa sudah lulus ujian. Begitupun sebaliknya.

Memang, banyak orang bilang, hal-hal paling nikmat dan membahagiakan adalah masa-masa pdkt kaya gini. Masa-masa kita mengejar sesuatu, ada tantangan dan keasikan tersendiri untuk menaklukkan orang yang kita sayang. Kata takluk yang merujuk dalam hal baik secara sederhana namun asik, tapi pertanyaannya, apakah dalam hidup kita akan begitu terus tanpa mencari kebaikan lain dalam Ridho Tuhan? Pertanyaan dalam diri gue itu yang menjadi alasan utama gue di umur yang semakin bangkotan ini jadi kepengen nikah cepet-cepet. Menikah memang bukan perkara lomba, berwujud piala yang menyerupai buku nikah, siapa yang duluan maka ia yang menang. Menikahlah jika benar-benar siap lahir bathin bukan hanya sekedar latah melihat kebahagiaan orang lain. Hal yang paling gue rekam di kepala kenapa kita harus siap lahir bathin saat menikah adalah karena anak-anak butuh keluarga yang harmonis dan orang tua yang nggak labil. Lo sudah harus siap dengan segala keputusan yang gak cuma lo pikirin baik untuk diri lo sendiri, tapi juga untuk pasangan lo nanti. Lo harus siap memperjuangkan segala perbedaan dan ketidakcocokan ke arah yang kita anggap berdua sama-sama baik. Sebab banyak pasangan yang kerapkali gak sadar, bahwa pernikahan butuh dua orang yang sama-sama berjuang mempertahankan.

Setiap bahas mengenai bahagia dan pikiran yang dewasa, gue selalu inget sahabat paling kunyuk, Angga, Mytha, beserta temen-temen lain yang pada mencar. Kebersamaan kita abadi di album foto, dulu orang-orang hanya mengenal banyak senyum di dalam album foto bukan path atau Instagram. Ada banyak rahasia kebersamaan yang hanya kita simpan di sana ketika itu, melalui jepretan kamera tempo dulu, jepretan yang membutuhkan banyak proses, sampai bagaimana mengajari kita menunggu sama-sama hanya untuk melihat hasilnya, jepretan foto dalam bentuk roll film yang ketika kita menekan tombolnya maka tidak bisa dihapus segampang itu seperti sekarang, hasilnya hanya berupa negative film sebelum menunggu lagi dalam proses pencucian, foto yang ketika selesai dengan proses yang panjang itu, kita nikmati sendirian dan hanya abadi dalam album untuk dibagikan kepada satu lingkup lingkaran orang yang benar-benar kita sayang dan menyempatkan diri bertamu ke rumah. Ya, terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan dengan aplikasi.

Kita yang dewasa, kerapkali berfikir dan memutar arah ke masa sekolah. Masa-masa sikap kita lagi begajulan dan memegang teguh hidup hanya ingin dibawa asik-asik aja, masa-masa cinta monyet, cinta pertama, kenangan yang tak pernah terkubur karena keburukan perilaku namun menjadi pupuk terbaik yang akan menjadikan tumbuhan baru di tanah yang humus, dan hujan selalu membuat ingatan kita menjadi subur.

Sebab untuk melihat seperti apa kita ke depan, kita hanya perlu melihat kembali apa yang sedang dan begitu kita cintai dulu dan sekarang. Karena kita merupakan bagian dari dampak atas apa-apa yang kita cintai saat ini.

……

Ketika gue pulang ke rumah, malam ini mendadak ramai. Tante, adik dari nyokap dan keluarga anaknya yang pertama rupanya bertamu. Beberapa keponakan gue yang lucu dan banyak tingkah gak henti-hentinya berlarian berkeliling dan hampir menjatuhkan gucinya mama. Ada yang berlomba lari ke ujung pintu menyambut gue sambil teriak-teriak:

“Om Dhika, Om Dhika…”

Belum sempat mengulurkan tangannya untuk cium tangan, ia tersandung sepatunya sendiri, jatuh meluncur di atas perutnya dan tepat mencium keset coklat depan dengan tulisan welcome tanpa sempet gue tangkap. Gue pikir ini anak bakalan nangis karena jatuhnya agak lumayan bunyi berdentum dan pasti sakit, eh ternyata nggak. Dia langsung bangun lagi sambil nyengir dengan bibir jeding berdarah karena kepentok. Dasar bocah bandel. Anak pertamanya Tante Lina cewek, umurnya lebih muda dari gue dan sudah nikah punya anak cowok kembar usia 5 tahun sekarang, namanya Nathan dan Fathan. Hanya kehadiran dua ponakan gue ini, gue yakin sebentar lagi rumah akan menjadi tempat paling kacau. Belum sempet gue bayangin, Fathan sudah menumpahkan minumannya ke karpet cendol merahnya mama dan makan potongan cake menggunakan tangan, whipping cream yang hampir celemotan satu muka di lap di sofa. Kemudian dengan sengaja mulutnya dibuka lebar-lebar dan mengeluarkan kunyahan kue yang sudah dimakan agar semua orang bisa melihat potongan kue yang sudah ia kunyah sampai hancur di dalam mulutnya.

-______-!?

Tak henti-henti juga, ibunya marahin mereka berdua untuk bersikap sopan dan manis. Gue rasa dengan kelakuan bandel mereka yang udah tingkat dewa hanya kilat dan samber geledek tiba-tiba, yang membuat mereka diem seketika.

“Hallo Tante, Om. Hy Nay” sapa gue pelan.

“Wah… Ada Dhika. Gimana kabarnya? Si ganteng ponakan Om udah ada calon belum? Kapan nikah?” Sapa Om Herman.

Gue cuma mesem-mesem, dalam hati ngedumel. Kenapa para orang tua gak ada kata-kata lain yang lebih manusiawi tanpa melampaui batas dengan mempertanyakan ada calon belum? Kapan nikah? Empet banget dengernya.

“Hehe.. belum om, lagi gencar mengejar. Umpan udah dilempar, nunggu kail digigit aja” kata-kata gue penuh rasa sotoy.

Kucing mama si Jonet melompat ke badan gue dari sofa. Ngejilat-jilatin muka, lalu mencakar-cakar kemeja seolah ingin bermain mencopot semua kancing baju, buseeet cabul juga nih kucing. Tangan gue hanya mencoba menggaruk-garuk lehernya, biasanya dia suka. Gue membenamkan wajah sekejap ke dalam lembut bulu-bulunya, ia seolah merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan, gue menimang pelan dan jonet semakin hanyut menutup matanya hampir mendengkur.

“Udah cocok jadi Ayah, Dhik” ucap Tante Lia sedikit mengejek.

Lagi-lagi gue cuma senyum. Bunyi berdentum berulang-ulang membuat kami menoleh ke arah yang sama. Nathan dan Fathan melempar-lempar bola ke atas dan saling menangkapnya.

“Udah, diem-diem dulu kenapa sih? Gak usah main bola. Kalian bisa memecahkan stand lamp itu nanti” Ujar Nay memperingatkan anak kembarnya.

Gak butuh waktu lama, bunyi PRAAANG yang keras, tentu saja kedua bocah itu gak perduli. Tinggal Om, Tante, dan Nay yang sibuk minta maaf ke mama, karena stand lampunya jatuh dan lampunya pecah kelempar bola. Keduanya dipukul dan disuruh main di taman belakang deket kolam renang.

Tingkah anak-anak umur segitu memang lagi ajaib-ajaibnya. Bikin pusing tujuh keliling. Hanya selang beberapa menit kedua anak ajaib itu lebih tenang. Nathan masuk ke dalem minta astor, si kembar satu lagi rupanya gak mau kalah minta astor juga, gue kasih satu-satu. Gue pikir minta astor bakalan dimakan, rupanya dikasih ke kucing. Dicolok-colok ke mulut kucingnya. Kalau mama tahu, gue yakin mama pasti marah. Karena mama sayang banget sama si jonet dan kalau lu liat sekarang, itu kucing lagi disiksa sama dua bocah ajaib.

“Eh… Jangan. Kucingnya mana suka astor. Kucingnya gak suka, nanti kamu malah dicakar” ceramah gue ke mereka

“Kalau kucingnya gak suka astor, dia sukanya kue ya Om Dhika?” Yang satu udah lari ke dalem ngambil potongan kue.

“Kucing juga gak suka kue… Sukanya ikan”

“Oh, ikan ya Om Dhika…. Baru selesai ngomong, dia lari ke akuarium ruang tengah, bersiap-siap mau ngobok-ngobok air ngambil ikannya. Gue nyerah, kemudian teriak juga.

“Eh.. eh.. itu juga jangaaaaaaan”

-_____- !!!!????

“Sinih-sinih.. main sama om Dhika aja. Kita main monster tinggi. Jangan nakal-nakal ya! Nanti Om Dhika kasih coklat sama ice cream kalau kamu main kesini lagi.” Gue gendong Nathan dipundak. Tangannya gue suruh pegang kuping. Kondisi Nathan kini lebih tinggi dari gue. Itu anak mulai girang, walaupun gue paham bahwa menit-menit ke depan hidup gue bakal mengenaskan.

“Om Dhika, bisa gendong tinggi lagi sampe ke langit gak?” Celoteh Nathan

“Ya gak bisa…”

“Kalau gendong sampai se-atap rumah bisa gak?”

“Ya gak bisa juga… Segini paling tinggi” ujar gue

“Yaaah… Om Dhika payah”

-____- !!??? Kemudian itu anak minta turun, ngeloyor pergi tanpa bilang terimakasih. Belum kelar kakaknya gue gendong adiknya si Fathan minta naik kuda-kudaan. Gue terpaksa jadi kuda keliling.

“Main kuda-kudaannya sebentar aja ya, pinggang om Dhika sebenernya lagi sakit.”

“Sakit kenapa om?”

“Gak tahu, sakit aja… Ditambah kudanya laper” Ucap gue asal-asalan.

“Om Dhika, kesana tuh.. tuh.. ke sana. Kak Nathaaan, aku naik kuda. Om Dhika jadi kuda…” Teriak Fathan

Nathan menghampiri sambil bawa gelas.

“Om Dhika, makan om…”

“Kok makan, minum namanya kalau bawa gelas…” Sanggah gue

“Yang dimakan gelasnya om, di tipi aku liat kuda lumping makannya beling.”

-_____- !???!!! Dalem hati gue ngedumel lirih, niy anak kembar, udah boleh gue karungin belum?????

Kelakuan anak-anak memang sanggup membuat rumah berbeda 180 derajat dari biasanya. Rupanya mengurus anak-anak gue rasa lebih lelah dibandingkan kerja di kantor seharian. Gue memilih masuk ke kamar, menenangkan diri. Di sini gue baru sadar, betapa hebat ibu-ibu di dunia yang ngurus anaknya sendiri.

Baru sebentar aja gue udah jadi monster dan kuda, gimana ibu-ibu ngurus anak, hari ini jadi kuda, besok jadi buaya, seminggu kemudian bisa jadi kecoa, tapi tiap malem diharuskan jadi wanita nunggu bapaknya anak-anak pulang kerja yang tiap malem kelakuannya berubah jadi kucing garong, mata dan pikiran yang gak bisa liat ikan asin rebahan.

Di kamar sendiri, gue biasanya melakukan segala aktifitas yang gue suka, nyanyi di kamar mandi, push up, sit up, berharap perut gue yang kotak-kotak semakin terjaga menjadi jajaran genjang, kerucut dan trapesium. Kamar cowok biasanya identik berantakan, lalu ketika gue menjadi salah satu pengikutnya, yah gue anggap bukan salah satu dosa besar. Beruntung ada mbak yang beresin, walau pun hati gue tetep berantakan padahal udah gue tata rapih di hati orang lain, tapi bukannya ditangkap oleh orang yang gue sayang justru dilempar-lemparin. Makanya berantakan terus sampe sekarang. Capek beresinnya lama-lama.

Setelah sholat isya, gue rebahan, dengerin musik dan makan biskuit. Lagu satu berlanjut ke lagu yang lain secara otomatis diaplikasi pemutar musik, sesekali gue ikutin liriknya jika hafal, kalau gak hafal gue nyanyi sendiri, lagu yang mencerminkan rasa semangat… lagu Hamtaro. “Tuk ku tuk Hamtaro berlari. A~pa yang paling dia senangi~~~Bi-ji bunga matahari~~~”

……

Disela-sela jendela, cahaya matahari masuk. Sudah pagi, suara musik masih terdengar mengalun, ponsel gue panas karena masih di-charge lupa dicabut dan nyala semaleman…gue kecilkan volumenya, iramanya memudar ke dalam keheningan.

Pintu diketok pelan dan Malika berdiri di sana. Gue hampir memekik kaget.

Gak ngomong A,B,C dia langsung mencium gue ngucapin selamat pagi berkali-kali di pipi, bergerak ke bawah dan merasakan sebuah kecupan lembut di bibir, manis, semanis gabungan marsmallow dan permen yuppie. Ciuman Bangun tidur yang selama ini gue pikir bakal bau bangke, rupanya menjadi ciuman paling manis selama gue hidup. Rasa aneh yang menjalar sanggup membuat lo merasakan hal paling ngambang tapi pengen lagi, gak ngerti kenapa ada dorongan untuk menariknya dipelukan gue dan mengecup kecil belakang telinganya dua kali. Malika tertawa renyah sekaligus malu, pipinya semerah kulit bawang pink keunguan, kecupan paling pelan yang gue nikmatin paling lama dan berasa.

Gue suka hal hangat sebuah hubungan seperti ini, merasakan hembusan nafasnya, wangi tengkuk dan rambutnya, bersandar dan membelai rambut ikalnya yang panjang, tapi gue rasa ini terlalu tiba-tiba, sesak, deg-degan, tapi bahagia. 

Gue bahkan gak bisa mengelak, bahwa pelukan dan kecupan barusan sanggup melipat banyak pertanyaan di pikiran gue yang seabreg dari kemarin. Bibirnya seolah menjadi potongan puisi yang belum selesai, menjadikan gue candu sekaligus liar. Ciuman selalu menyelamatkan kita dari segala hal yang bernama kesedihan. Jantung gue iramanya bersahut-sahutan gak beraturan. Resah, kikuk, panik, enak dan asik.

Hati gue kalau bisa nyanyi, mungkin udah nyanyi lagunya Anji yang judulnya Dia.

“Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
Semua itu karena dia
 
Oh Tuhan ku cinta dia
Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia
 
Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari ku jatuh cinta padanya
Dicintai oleh dia ku merasa sempurna
Semua itu karena dia”
…..

…..

Gak lama, gue bangun karena bunyi pletok yang keras digetok bokap.

“Banguuun… Sholat Shubuh. Gak kerja apa? Guling dicium-ciumin. Pantat panci di dapur yang masih ngepul di kompor tuh, sekalian dicium, disosor tuh sampe gosong. Pasti mimpi yang jorok-jorok ya?”

Gue sontak kaget. Mimpi yang harusnya indah… Jadi kelabu gara-gara perlakuan kasar dan perkataan yang semena-mena bokap. Gue ini anak kandung apa anak pungut sih. Rese nih bokap gue. 

Arggghhhhhh….

Seandainya bisa tidur lagi, gue milih tidur lagi nih buat nerusin mimpi enak yang dibuyarkan bokap.

*Bisa request gak? Kalau mimpi yang enak-enak harusnya ada pilihan diputer ulang, gitu apa kek.

-_____-!!!????

………….

………….

Bersambung

dessyachieriny@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *