Kerendahan Hati dan Dekadensi Moral

Setiap orang tua pasti bangga jika anaknya mendapat nilai yang baik. Sebelum hasilnya keluar saya selalu berulang kali bilang ke kk vasya, Seandainya nanti nilainya kecil pun nggak apa-apa ya kak. Karena yang ada dipikiran saya cuma satu, jangan sampai suatu saat dia berfikir bahwa semua kerja kerasnya sia-sia. Sebab saya sendiri sudah melihat bagaimana dia berusaha belajar dengan giat terus-terusan menjelang UN. Walau pun tidak dapat dipungkiri, bahwa besar harapan ketika suatu anak kita mendapatkan nilai akademik yang baik adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Siapa coba yang tidak bangga jika mempunyai anak yang mendapatkan nilai sempurna, tertinggi di sekolah untuk mata pelajaran MTK dan IPA. KK Vasya tahun ini mendapat nilai Mate-matika sempurna, dengan nilai 100, untuk IPA 95, nilai bahasa indonesia dan inggris hampir 8.

Namun di sini, saya tidak ingin berbesar hati mengupas tentang nilai, lebih ingin mengupas bahwa jangan sampai ketika anak sudah berusaha keras, kita sebagai orang tua justru menjadi orang pertama yang sama sekali tak menghargai usahanya, memarahi mereka hanya karena nilai akademik yang rendah, menyalahkan guru, menyalahkan sekolah, hingga lupa caranya berterima kasih. Jika nilai mereka kecil, mereka sudah cukup terpukul, kecewa dan menyesal, tanpa perlu ditambahin dengan sumpah serapah seperti drama di sinetron. Berapa banyak saya baca hari ini di line kk vasya tentang curhat mereka mengenai dampak nilai kecil dan perlakuan orang tua mereka masing-masing, macem-macem, ditambah saya termasuk ibu paling kepo perihal anak-anak termasuk semua sosial media mereka. Hikmahnya adalah, saya jadi lebih banyak tahu apa yang ada dipikiran anak remaja sekarang tentang geliat keresahan dan permasalahannya. Di jaman sekarang tidak hanya anak yang mengalami Dekadensi Moral, Orang tua pun sama.

Saya akan marah, ketika nilai mereka kecil tanpa ada usaha belajar, namun ketika sudah belajar giat tetapi masih saja ia mendapatkan nilai kecil, kita sebagai orang tua lalu marah-marah, maka…mungkin perlu dipertanyakan kembali Dekadensi Moral di diri kita sebagai orang tua.

Saya sebagai ibu rumah tangga dan kerapkali berada di rumah setiap hari, amat sangat mengerti kelemahan apa yang ada di diri anak kita sendiri. Kk vasya termasuk yang agak lemah di Bahasa dan lebih cenderung tertarik di MTK dan IPA, bahasa indonesia itu biasanya memang butuh penalaran dan pemahaman. Kuncinya adalah, jika kita tahu kelemahan anak kita, maka sebisa mungkin kelebihan itu harus diupayakan secara maksimal untuk mendongkrak kelemahan tadi.

Ilmu seperti pohon keimanan, hadir untuk tumbuh dan memberikan manfaat. Pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim seizin Tuhannya. Agar kita selalu ingat. Bukan justru sombong dan sebagainya. Sebab di atas langit, masih ada langit.

Anak-anak yang baik juga tumbuh dari teman-teman di lingkungannya, tugas kita sebagai orang tua pun memperhatikan lingkungan tempat ia tumbuh bersosialisasi. Berkumpul bersama teman-teman yang cerdas, rajin, baik dan sholeh juga sebagai cara mendidik, maka dengan cara yang juga baik, mereka akan berjalan sama-sama untuk visi misi yang juga sama. Percaya deh, di saat anak mulai puber, mereka akan gampang terpengaruh terhadap nasehat teman dibandingkan orang tuanya, jika kita sebagai orang tua agak sulit mengajak anak kita giat belajar, maka ajakan teman akan mampu mengubah mereka lebih cepat ditangkap dibandingkan puluhan perkataan yang hampir kita ucapkan tiap hari.

Sebab metode pendidikan yang baik dalam kegiatan belajar mengajar harus:

  •  Menggunakan perumpaan yang baik-baik agar mendapatkan contoh yang baik sehingga anak kita dapat menirunya.
  • Menggunakan kata-kata yang baik agar mampu menyerap manfaatnya.
  • Tidak diperbolehkan menggunakan kata-kata buruk yang dapat mempengaruhi dan menjatuhkan mental mereka.
  • Senantiasa menggunakan Al-Qur,an dan Hadits sebagai acuan dalam kegiatan belajar.
  • Terangkan padanya bahwa Ilmu akan berkah juga atas Doa dan Ridho dari orang tua.

Semoga semakin ilmu kita tinggi dapat mampu menanam banyak kerendahan hati, seperti petikan puisi dari Taufik Ismail berikut ini;

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

 

Dessy Achieriny

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *