Skip to content

Sekampret-Kampretnya Persahabatan Bagian 10 (Because I Love U)

Di hati gue yang kerontang, bibirnya yang mungil lebih basah dari hujan bulan Mei, manis yang sekaligus sanggup membuat gue jadi menggila. Harapan yang terlalu lebar dalam menginginkan sesuatu ini sepertinya harus gue lipat kecil-kecil. Mimpi terkadang bagian dari perjalanan cerita bawah sadar dari keinginan kita yang tak sampai, berhalusinasi dan membuat cerita khayalan kita sendiri ~ Mungkin.

Kepala gue saat ini seolah menjelma rak-rak buku, beberapa bungkus permen dan kotak surat, kau selalu bisa menemukan kosakata paling lengkap, kata-kata paling manis yang selalu tahu kemana tulisan harus di alamatkan.

Malam tadi, pemilik mimpi menghadiahi gue segenggam kata harap, membungkusnya dengan ingatan-ingatan paling ge’er. Mimpi juga sanggup melukis bahagia, seperti kita yang tersenyum di masa kecil hanya dalam pemberian sekotak permen Sugus dan gulali kapas warna-warni tanpa kita sadari. Ia melatih bahagia kecil-kecilan secara sederhana untuk diri sendiri. Hanya di sana, gue bisa membangun cerita paling bahagia yang tak terjangkau siapapun, menambahkan ini itu dan hal-hal yang tak tampak.

 


Dalam mimpi tadi, kita berbagi separuh puisi, berbagi larik, bait, dalam sajak-sajak tengah malam di kepala yang begitu ramai dengan anak-anak pertanyaan. Salah satu sajak yang hakekatnya ada seribu kamu, di dalamnya. Sebuah sajak yang membuat gue seakan berdiri pada dermaga lengkap dengan ombaknya, merasakan rindu diambang kemegahan, rindu yang jatuh satu-satu, tercecer dan mulai gue pungutin sepanjang jalan, berjalan pelan menuju debar dadamu. Debar paling ingin dalam serial doa-doa sekarang dan kemarin.

Berharap, iya… Tapi untuk menentukan apakah mengharuskan ia menjadi satu-satunya wanita yang berhenti di gue, gue rasa nggak. Selama janur kuning belum melengkung di samping tenda biru, gue gak mau terlalu banyak mengira-ngira. Apakah ia menjadi tempat pemberhentian akhir, jika catatan Tuhan hanya mengijinkan ia menjadi salah satu tempat transit untuk gue belajar dewasa. Gue, harus siap dengan kemungkinan seperti itu, sebab gue gak mau jadi manusia paling bego yang nangis Bombay karena wanita, lagian bombay adanya di India, gue takut direkrut jadi pemain film yang mau nangis aja harus nari dulu.

Ah, wanita adalah makhluk paling manis sekaligus membahayakan.

Kehidupan memang selalu mengajak kita main-main. Semoga saja kita menjadi pemilik hati yang mengenal fitrahnya, berusaha mencintai dengan cara yang dicintai-Nya. Sebab, gue sadar bahwa untuk melihat perjuangan seseorang mencintai gue pun gak mudah. Lo mungkin akan melihat kehidupan gue seolah sempurna, padahal gue tipikal manusia paling rumit melebihi jika lo disuruh nyelesain misi nemuin kelereng di Padang pasir, gue orangnya susah diatur, saking gak bisa diaturnya teh tarik aja, gue dorong. Gue tipikal manusia yang gampang berubah mood, gampang luluh akan sesuatu, lembut, peka, baperan dan perasa ngelebihin mecin, Royco dan Masako. Lo akan melihat gue yang ceria di saat yang sama ketika gue merasa hidup gue hancur berantakan. Seandainya lo tahu? Gue sama sekali gak mau satu umat di bumi pun tahu, bahwa hari itu gue amat sedih dan terpuruk. Gue termasuk orang yang berfikir berpura-pura untuk tegar dan kuat di saat masalah hidup yang membuat diri gue compang-camping adalah kewajiban.

Gue berusaha menjadi orang yang low profile, gak pernah berkeinginan bergaya sepak, songong apalagi belagu. Sebab gue sendiri sadar, kegantengan gue ini levelnya gak usah pake belagu juga cowok-cowok lain udah pasti kesel. Gimana kalau gue belagu coba. *kemudian sisiran pake ludah basi.

Gue bisa cerita banyak ke semua orang mengenai hal paling lucu dalam hidup yang memang pantas untuk ditertawakan, namun gue sangat menutup diri untuk masalah pribadi. Gue tipikal yang ketika percaya dan nyaman dengan seseorang maka hidup gue akan tertuju dan suka berteman hanya orang yang itu-itu saja, ibarat gue suka kwetiau maka gue terus-terusan akan pesen kwetiau tanpa beli nasi goreng. Terserah lu pikir kalimat ibarat gue itu nyambung apa nggak, intinya gue laper sambil berdakwah. Gue amat sadar hidup gue terlalu monoton dan lurus. Ketika gue mencoba belok, gue merasa ketakutan numpuk dosa segunung, lalu takut besok mati. Mati dengan nasib paling na’as kejengkang tanpa bisa balik lagi kaya kecoa terbang yang tak mampu mendarat dengan benar di landasan pacu kamar mandi. sebab kita sama sekali gak pernah tahu seberapa banyak kita diberi waktu.

Secinta apa pun gue sama seseorang, gue akan berfikir seribu kali bahwa gue pengen mencintai tanpa harus menyakiti perasaan orang lain, rasa cinta yang baik tanpa gue merasa bersalah dan banyak dosa karena mencintainya, hal-hal demikian yang justru terkadang membuat gue menahan rasa kangen yang begitu besar dalam diam sampai akhirnya membuat jarak antara gue dan dia. Gue gak bakat untuk mencintai dengan cara mematahkan hati orang lain. Sama sekali gak bakat. Even gue amat sangat mencintai dia sampai dada gue berasa sesak dan harus gue simpan rapat-rapat. Ngeliat kakek-kakek jualan koran sampai tengah malem di lampu merah aja gue sedih, apalagi nyakitin perasaan orang coba. Walau pun banyak nasehat paling labil dari temen gue yang bercampur dengan bisikan setan. “Ngapain sih lu hidup lurus-lurus aja, kaya terkurung dalam lingkaran jalan ditempat yang gak bisa kemana-mana. Hidup sesekali harus belok-belok supaya bisa menikmati sepenuhnya wajah dunia.” Gue nanggepinnya paling cuma nyengir, karena gak ada niatan untuk berani coba-coba.

Dengan Malika gue merasa beda. Dia single dan gue pun sama. Kita sama-sama masih sendiri, sama-sama jomblo yang sibuk kerja dan merindukan kasih sayang. Rasa suka yang terhindar dari kemelut perasaan bersalah karena gue menikung pacar orang. Mencintai dengan sebenar-benarnya cinta baik yang dewasa. Sekeren-kerennya hidup lelaki, kita juga makhluk yang lemah, yang juga butuh ditemenin, didengerin, kalau perlu dinasehatin. Wanita dan laki-laki itu pada dasarnya sama, hanya saja ungkapan dan bahasa tubuh wanita tersirat lebih lebay aja menurut gue. Pada dasarnya manusia itu egois tapi sama-sama butuh.

Jika lo sudah siap jatuh cinta, maka harus siap juga untuk kemungkinan patah, jatuh nyungsruk, sampai hati koyak dan tercerai-berai. Karena kita hidup diantara milyaran manusia yang juga sama-sama sedang mencari yang terbaik untuk dirinya, hidup diantara dunia yang penuh kata mungkin dan Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati.

…..

 


Mimpi ciuman doank gue jadi males-malesan buat kerja, ditambah setelah bangun badan gue panas, dari semalem badan gue emang udah berasa gak enak, pusing kepala, mual, rentek, sekarang kepala gue diangkat terasa berat, buat nelen sakit.

Bokap abis ngegetok gue seolah merasa bersalah: “Lah, panas mas, badannya???”

“Gimana badannya gak panas, abis digetok bertubi-tubi gini”

“Lebay, Ayah cuma keplak doank kepalanya karena diguncang-guncang gak bangun-bangun, malah nyosor kepengen nyium, kan jadi geli liatnya, keplak kepala saat situasi genting dianggap sah. Gak usah kerjalah, ke dokter aja nanti!!!” Sebuah kekhawatiran yang berujung nyuruh-nyuruh ke dokter.

Gue cuma ngangguk-ngangguk, nurut. Sebesar ini, gue tetap menganut ideologi kelakuan manja yang ngelebihin kucing persia punya nyokap si Jonet ke ortu gue sendiri, mumpung mereka masih hidup kapan lagi kita sebagai anak berbakti, orang tua kita gak pernah menuntut kita menjadi manusia paling hebat sedunia, hanya cukup menjadi anak manis penurut apa yang mereka bilang adalah sebenar-benarnya cara berbakti paling efektif.

Di saat gue kerja, gue menghamba waktu gegoleran telentang nikmat di kasur. Giliran gak kerja dan cuma tiduran doang, baru 30 menit karena badan panas membara, gue malah bingung sendiri mau ngapain. Celentang kesana udah, celentang kesini udah, tengkurep udah, main game udah, dan berkali-kali juga minum air anget sampai kembung plus makan bubur udah semua dilakuin. Saking bosennya gue pengen teriak dan ngayap ke bioskop, sayang aja badan keliyengan, jadi gue menyabarkan diri berteman ranjang dan dinginnya tembok kamar. Langkah terakhir supaya bosen gue hilang, gue nge-wa-in semua orang, yang tadinya gak aktif di group alumni kini gue ngoceh bercanda panjang lebar selebar karpet musholla, sekalian update status di story wa ganti gambar kartun sakit, dengan niat cari perhatian biar ada yang nulis cepet sembuh. Ngebantu biar sembuh mah nggak, iseng dan seru aja.

Belum ada semenit, si Mytha reply status wa, buseeet aktif amat niy anak. Gue rasa itu hape dikalungin, atau kalung dihapein. Gesit amat langsung dikomentarin.

“Kenapa Dhika???? Sakit???”

“Iya neng, Abang lagi sakit. Uhuk”

“Auk ah… Serius ah, sakit apa???”

“Sakitnya sih gak seberapa, tapi yang parahnya gak ketulungan itu, sebuah rasa manja pengen dijenguk gitu Myth, bosen gue di kamar melulu. Bisa berjamur tiram gue di sini seharian.”

“Lebay. Ya udah gue ke sana ya? Gue bela-belain nih! Demi lo, juga demi rumput yang bergoyang. 😀 😀 Lagian di kantor kerjaan gue dikit. Ini masih di kereta.” Ucap Mytha menimpali keluhan gue.

“Eh Myth, ajak Angga sekalian, udah lama kita gak kumpul bareng lagi semenjak nonton gak jadi, dia kalau lo yang nyuruh pasti cepet, kalau gue yang bilang geraknya kaya bekicot rawa kan, lamaa”

“Iya, gue rencana sama Angga balik kerja emang pengen ke rumah lo, ada yang pengen kita omongin. Hehe.”

“Apaan, penting? Kok gak cerita ke gue?”

“Disuruh Angga nanti malem, biar barengan bertiga. Gitu.”

“Apaan gak???? Rahasia-rahasian ih, malesin!!”

Mytha cuma kasih emoticon nyengir banyak banget. Separagraf. Sebagai teman yang sudah berteman lama dari cincau masih warna hijau sampai sekarang tetep warna hijau. Gak ada satu pun hal rahasia dari kita bertiga, kalau mereka sampai menyimpan sesuatu antara mereka, gue merasa ada hal yang memang ingin dia berikan kejutan entah apa ke gue. Tiba-tiba pikiran gue menerawang panjang, sampai pada titik di mana gue ingin tahu jawaban atas pertanyaan di kepala yang memang sudah lama gue simpan di laci, jauuuh di lubuk hati gue yang terletak di dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.

“Myth….”

“Apa…”

“Dari sekian lama persahabatan kita, siapa yang paling lo sayang diantara kita berdua. Paling ya.. yang paling.”

“Mmmm… Dua-duanya… Susah milihnya. Gue sayang sama lo berdua.”

“Kalau lagi sakit gini, gue kangen ke kalian berdua jadi meningkat masa. Udah ge’er belum Lo myth? Kalau udah, jangan lupa mampir beliin gue buah ya! Jeruk, anggur, apel. Stock buah di kulkas gue kosong. haha”

“Siake.” Ketik Mytha

“Myth…kalau gue tanya tentang apa saja hari ini, sampai ke sesuatu yang membahas hal pribadi, lo mesti jawab ya! Harus! Maksa!”

“Iya…”

“Persamaan lingkaran yang pusatnya terletak pada garis 2x – 4y – 4 = 0 dan menyinggung sumbu x negatif dan sumbu y negatif adalah…?”

“Auk ah, Dhik. Males ngitung, lagian gue lagi di kereta yang gerbongnya penuh dan gue sempetin sama bapak-bapak yang bau keteknya kaya kaos kaki futsal elo yang seminggu lupa dicuci.”

“Ahaha…. katanya semua pertanyaan mau dijawab. Dasar kamu janji palsu. Buruan ke sini, mumpung badan gue juga belum mandi tapi masih tetep wangi berkat anugerah parfum kemaren.”

“Auk ah…”

“Serius nih sekarang, jawab ya? Mmmm…. (Sempet gue berfikir lama, tapi akhirnya gue ngetik pertanyaan ini juga, satu-satunya pertanyaan yang selama ini ngeganjel di hati gue) Lo pernah suka gak sama gue gak myth?”

“Kok nanya gitu, sakit gegar otak kebentur tembok jangan-jangan niy anak.”

“Gue serius nanya myth, udah sih jawab aja…”

Lama gue tunggu, gak dijawab, berkali-kali gue liat Mytha typing tapi akhirnya gak jadi. Sampai butuh beberapa menit dia baru bales.

“Pernah… Bahkan jauh sebelum gue suka Angga.” Saat gue baca ini, gue sempet nyesek sebentar walaupun gak begitu kaget banget ketika tahu jawabannya. Karena sebenernya hati kecil gue sejak awal, gue merasa Mytha terkadang suka merhatiin gue dari dulu dibanding ke Angga. Walau pun pada akhirnya dia merasa gue kurang memberikan respon dan Angga lebih agresif menyatakan rasa sukanya. Gue yakin, akan ada banyak persahabatan diantara kalian yang tergabung cowok dan cewek, yang sebenarnya diantara sahabat lo itu juga diam-diam saling jatuh cinta, namun terkadang pemikiran takut akan sebuah hubungan pacaran merusak rasa persahabatan itu sendiri yang pada akhirnya banyak yang lebih memilih memendam perasaannya, kaya gue sekarang. Terus nyesel.

“Dhika….” Ketik Mytha lagi

“Apa…”

“Gantian gue tanya balik, apa lo pernah sayang sama gue? Gue tanya ini bukan sebagai sahabat tapi sebagai wanita…”

“Bukan pernah lagi, tapi banget cuma keduluan Angga aja… Hehe.”

Kemudian kita berdua diam agak lama, tanpa ngetik apa-apa. Memikirkan banyak hal yang kemarin dan kata-kata seandainya, mungkin, barangkali. Ah, gue kenapa jadi melow pengen nangis gini sih.

“Dhika…”

“Iya, Myth…”

“Semalem gue dilamar Angga… Rencana kita berdua bahkan malam ini sengaja mau ke rumah lo untuk kasih surprise ini.”

Kali ini chat Mytha bikin gue beneran kaget dan shock. Ada bermacam perasaan campur aduk, sedih, bahagia, seneng, kaget, lemes dll. Jari gue cuma bisa menekan tuts pelan-pelan. Harusnya gue seneng kali ini, mereka berdua sahabat gue, tapi gue sadar ada rasa sedih yang gak bisa gue bendung dan gue tahan. Benar-benar sesak rasanya. Pelan-pelan nafas gue atur sedemikian rupa agar terasa lebih lega.

“Semoga bahagia Myth…”

“Makasih, sebenernya gue janji untuk gak bicarakan ini ke Lo langsung sebelum kita berdua yang bicara saat ketemu bertiga, tapi gue pengen lo denger langsung dari gue bukan dari Angga. Terimakasih juga atas semua rasa sayang elo kemarin untuk gue sebagai wanita, semoga Lo bisa dapet wanita kece paling semok top markotop indehoi asoy dibanding gue.”

“Auk ah… Iya, Amin.” Gue kasih emoticon senyum yang banyak 3 baris, biar keliatan ber-genre bahagia untukmenutupi rasa sesak gue dari tadi.

Gue narik nafas panjang berkali-kali, eh.. malah buang angin. Kebiasaan buruk kalau gugup suka buang angin ini kayaknya nurun dari bokap. Moment udah sedih-sedih gara-gara buang angin atau bahasa kasarnya kentut itulah, gue malah jadi pengen ketawa. Reaksi badan gue bahkan lebih pintar, seolah ia memberikan sinyal bahwa lepaskanlah semua kesedihan yang tertahan, agar kita lebih lega, tertawa dan bahagia.

Kemudian buang angin lagi, beruntun, lah… ini sih gue sakit karena masuk angin jangan-jangan kayaknya. Mana baunya bisa menggetarkan umat satu stadion bola. Gila, bau banget. *Cry

 

-______- !!???

 

 

 

Bersambung….

 

Dessyachieriny@yahoo.com

Published inFF & Cerpen

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *