Skip to content

Mencegah Bullying Dengan Kecerdasan Emosional

Menyingkapi kasus bullying mahasiswa difabel di Universitas Gunadarma menjadi tamparan keras bagi generasi muda lain yang hendak dan akan melakukan hal yang sama.

Dengan begini, semoga kesalahan kemarin mampu mendorong mereka menjadi pribadi yang lebih baik di hari ke depan tanpa harus gantian dengan adanya kasus bullying lanjutan, sebab tidak semua mahasiswa Gunadarma memiliki perilaku yang sama. Masih ada Lutfi Ali salah satu Mahasiswa Gunadarma yang tahun ini menjuarai Catur Mongolia Open serta masih banyak Mahasiswa gemilang lainnya yang tak terekspose.

Bullying tidak bisa dianggap remeh, karena dampaknya meninggalkan bekas luka yang tidak dapat terhapus di kehidupan baik itu anak-anak, remaja, hingga dewasa. Ada beberapa jenis bullying, ada yang termasuk pack intimidasi, intimidasi individu, intimidasi fisik dan emosional. Intimidasi emosional seperti penghinaan, merubah nama panggilan dll. Hal yang berawal dengan mengganggap ejekan teman yang sepele, menjadi kebiasaan, berlebihan dan kebablasan.

Dulu, saya sering diejek karena perawakan badan saya yang kecil, “Heh bocil (Bocah Kecil) ngapain sekolah di sini lu, pantesnya sekolah TK.” Awal-awal rada empet bin enek sih dengernya, untungnya saya termasuk tipikal orang yang mau dikatain kaya apa juga, cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Anak saya juga pernah cerita dan ngalamin hal yang sama. Mencegah bullying juga bisa dengan menanamkan kecerdasan emosional.

Pelajaran untuk stop bullying kalian bisa tonton di film Before I Fall. Film ini buat saya pribadi memberikan gambaran dan petikan yang mengubah mindset hidup kita untuk lebih positif. Bahwa hidup dari bangun tidur seharusnya memberikan banyak hal untuk menyenangkan orang lain, bukan sebaliknya.

Sebanyak apa pun hal-hal yang kita lakukan jika dikalikan nol maka hasilnya akan nol. Maka kita harus mencari angka satu untuk menyempurnakan apa yang kita kerjakan, satu itu adalah Tuhan.

Kecerdasan emosional adalah bagaimana cara kita menanamkan pembelajaran akidah, iman, agama. Belajar tanpa akidah yang benar akan beresiko menjadikan jiwa-jiwa yang miskin empati, tidak memiliki rasa belas kasihan sehingga tumbuh menjamurnya degradasi moral. Pendidikan tanpa adanya kecerdasan emosional hanya akan memberikan celah sistem pendidikan, seperti petikan yang kerapkali kita dengar bahwa “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati, adalah bukan pendidikan sama sekali.”

Hakikinya, senyum dan tawa keluar dari hati yang bersih dan penuh syukur, paling tidak mampu memiliki ideologi yang memberikan ketenangan dan kedamaian hidup, baik itu dengan cara menertawakan kesedihan dan kesusahan diri sendiri, sehingga semua hal dianggap gembira melalui hal-hal sederhana dalam sebuah candaan ringan sehari-hari, bukan sebaliknya. Sibuk menertawakan kesedihan dan kesusahan orang lain.

Setiap hal yang kita lakukan selalu saja ingat bahwa apa yang kita lakukan akan kembali ke diri kita sendiri, sebab kita diciptakan Tuhan untuk belajar “Pandai Merasa” bukan “Merasa Pandai”. Dua kata yang sama ketika dibalik maka arti dan maknanya, akan menjadi jauh berbeda. Seperti petikan tulisan berikut;

“Aku adalah pemilik karmaku sendiri, mewarisi karmaku sendiri, lahir dari karmaku sendiri, berhubungan dengan karmaku sendiri. Apa pun yang aku lakukan baik maupun buruk, aku akan mewarisinya.”

Sebelum kita menjerit mengenai sistem pendidikan di luar rumah, maka setiap hari kita pasti akan menyadari betapa kotornya diri kita sehingga perlu membersihkannya dengan air yang mengalir, begitu juga hati, agar dapat mengasah pandainya rasa, menimbulkan rasa empati, maka katakan pada buah hati kita, bahwa hati juga harus seringkali kita bersihkan dengan merasa kecil di Mata Tuhan, sebagai kunci mengajarkan anak-anak untuk memahami kecerdasan emosional lebih dulu, di dalam keluarga.

 

 

dessyachieriny@yahoo.com
Published inTulisan

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *