Sekampet-Kampretnya Persahabatan Bagian 12 (Today I’m Sad)

2 tahun berlalu….

Mytha dan Angga sudah menikah, cinta pertama dalam masa lalu gue lagi hamil 6 bulan, mereka bahagia, gue sendirian, akan ada hari di mana lo akan merasa kesepian jika sahabat terdekat sudah menikah semua. Isi kepala lo akan terisi kalimat pertanyaan latah yang fenomenal.

Kapan gue juga nikah?

Kapan gue bahagia kaya mereka?

Well, jika pertanyaan demikian gue ulang-ulang kembali. Itu pertanda alarm iman berbunyi dan gue lupa bersyukur.

Sebuah pertanyaan paling manja sebagai manusia yang kepengen minta ditolong, kepengen minta dihibur, kepengen mendapatkan jawaban secepatnya dari harapan yang belum di-iya-kan Tuhan. Padahal kehendak Tuhan di hari ke depan jauh lebih baik untuk kita, namun kerapkali kita lupa menyadari hal itu, karena terlampau asik memilih mengeluh.

Sebagai seorang cowok gue terkesan lebih baperan, seringkali terbawa perasaan, suka kasihan sama orang, gak tegaan, dengan sifat gue yang demikian gue sama sekali gak merasa lemah, gue justru kembali bersyukur. Sebab gue meyakini bahwa kelebihan manusia dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang lain, salah satunya adalah diberikannya “Rasa” terutama berbagai macam rasa takut, rasa kasih sayang, rasa malu, rasa peduli dll.

Segala macam cobaan, ujian, kenikmatan yang diberikan Allah di dunia adalah untuk mengajari kita bagaimana mengasah “Pandainya rasa” bukan justru sebaliknya yaitu “Merasa pandai”. Sebab iman seseorang akan terlihat bagaimana ia menyingkapi rasa kasih, rasa sayang, rasa takut terhadap Tuhan, rasa khawatir mengenai singkatnya hidup di dunia, rasa was-was apakah ibadah kita sudah cukup, serta mengasah rasa peduli yang mereka punya terhadap lingkungan dan sekitarnya.

Bicara memang gampang, prakteknya yang susah, Boy…

Sesekali gue mulai berulah menjadi sahabat paling manja yang membuat mereka ribet versi majalah Hidayah, karena tiap gue libur kerja dan bingung mau ke mana, gue mulai leyeh-leyeh di rumah mereka; ngacak-ngacak isi kulkas, nonton tv  lalu tiduran. Gantian si Angga ngerasain gimana ribetnya jadi gue dulu yang digangguin terus sepanjang hidup semasa muda.

“Pulang sanah! Gimana mau dapat jodoh kalau hidup lo di isi dengan nonton film di rumah gue setiap libur kerja, ribet lama-lama gue liatnya.” Ucap Angga sambil nyeruput kopi di gelas yang udah gue minum juga, barusan. Minum kopi segelas berdua, romantis. Preet…

Sampai di sini, kalian pasti mikir gimana nasib cinta gue sama Malika? Setelah waktu lewat 2 tahun lamanya.

…krik…krik…

…krik…krik…

Cinta gue kandas….

Ciee, kalian pasti pada ngarep ini cerita bakalan kaya drama korea yang bahagia, romantis selamanya. Udel kuda!!! It’s Life, gak selamanya cerita hidup selalu ngikutin apa yang kita inginkan dan rencanakan. GAK SELAMANYA.

Cinta gue kandas sebelum berkembang… Kita memang sempet pacaran, cuma hitungan bulan. Lebih tepatnya 8 bulan.

Setahun lalu, Malika melanjutkan study mengenai barista di Aussie sekalian nerusin cafe milik kakaknya yang duluan tinggal di sana dan buka kedai kopi, namun untuk komunikasi kita masih berhubungan sampai sekarang, nanya kabar, cerita mengenai perjalanan hidup, macem-macem.

Cinta gue dan Malika adalah cinta yang dewasa, tak bersama bukan berarti kita harus jadi musuh bebuyutan di muka bumi, melainkan saling support kehidupan masing-masing. Seminggu yang lalu gue masih video call dengan perempuan yang pernah singgah di hati gue itu untuk ngenalin pacar barunya ke gue, bokinnya sekarang orang bule yang punya kumis tipis persis kaya anak lele, alisnya kaya stang BMX, bibirnya tebel kaya hak sepatu wedges wanita sosialita, keliatan rada sangar karena tattoan di lengan kanan tapi tetep aja perawakannya rada culun, mungkin karena badannya terlalu kurus, menang putih doank tapi perawakan tubuhnya setipis rumput laut Tae kai Noi yang sering banget jadi cemilan gue hari-hari.

Lagi-lagi pemikiran gue ini didasari dengan rasa iri, -______- kemudian mulai cari pembelaan dari pepatah lama, sebab kesempurnaan hanya milik Allah. Gue ngelus dada lagi, ketamakan dunia memang suka merajai hidup, hati, dan pemikiran kita sebagai manusia yang kerapkali merasa paling benar dan paling sok sempurna. Susah banget memang setan dalam diri untuk diusir, dengan mengasah rasa.. gue yakin ini adalah cara paling benar mengusir si setan pelan-pelan.

Di jaman sekarang, cewek lebih seneng cari cowok yang bertatto dibandingkan yang cowok polos kaya gue, padahal cari cowok yang gak pernah ketinggalan sholat Jumat dan sholat lima waktu tanpa posting untuk dijadiin status kan udah jarang.

-____-!!??

Awalnya sebelum berangkat ke Aussie, Malika masih berharap untuk hubungan jarak jauh dan menyuruh gue menunggu, kita pisah karena gue yang mutusin.

Saat itu gue hanya berfikir, gue sama sekali gak ingin berjanji kepada seseorang yang menggantungkan harapannya di bahu pria yang ia sendiri pun bahkan belum tahu apakah kelak mampu menepati janjinya atau nggak.

Namun, ketika waktu telah sampai pada detik ini, semua keputusan gue kemarin adalah langkah paling tepat dalam kehidupan percintaan gue yang sekarang.

Gue yang kemarin hanya bagian dari kumpulan orang yang salah mengenal arti cinta yang sesungguhnya. Cinta gue terlalu murah dan mudah untuk dikatakan, terlampau terbawa perasaan seperti lazimnya trend orang-orang lakukan sekarang. Melupakan arti penting bagaimana jatuh cinta secara elegan menurut kaidah agama. Seolah jika sudah menyatakan cinta saat usia remaja telah menjadi pria utuh dewasa yang mampu melindungi dan menjaga wanita yang dicintainya dengan dalih paling ruwet untuk mencoba saling mengenal.
Sehingga gue pun menjadi jiwa-jiwa yang dipaksa dewasa belum pada waktunya….

Buat kalian yang merasa masih muda, dengerin nasehat gue: “Jangan pernah ikut-ikutan menjadi dewasa terlalu cepat, karena ketika saat gue dewasa sekarang, sungguh gue justru merindukan masa kanak-kanak kembali yang belum pernah mengenal cinta dan segala macam kerumitannya.” Nasehat gak selamanya harus terlontar dari para tetua, dari orang yang pernah menjadi brengsek dan mencoba dekat kepada Tuhannya juga termasuk nasehat.

Cinta yang baik akan melalui proses perjanjian yang Agung, berjanji atas nama Tuhan, disaksikan malaikat.

Sedangkan gue yang kemarin melihat cinta hanya sekedar nafsu dan memperbanyak dusta, yang selama hidup penuh dengan mengobral janji. Berjanji untuk terus mencintai, berjanji untuk saling menjaga, berjanji untuk selalu sama-sama, dengan wanita yang gue sempat yakin akan mencintainya seumur hidup gue. Nyatanya, putus satu…tumbuh seribu, gue justru mudah berganti wanita lain kembali, dengan dalih kata MOVE ON dan termaktub dalam bab yang dicintai setan “Pacaran dulu untuk saling mengenal”.

Padahal gue sendiri sadar, waktu berulangkali memperingatkan bahwa setelahnya kita hanya akan terperangkap dalam ruang bagi perasaan kita masing-masing untuk menjadi sosok seseorang yang kemudian seolah tak pernah saling kenal. Mau lu berusaha keras untuk mencoba gak kenal kaya gimana juga, tetep aja hati lo akan bilang, bahwa kita pernah saling kenal.

Entah di mana Agungnya cinta menurut gue saat itu… Sama sekali gak ada.

Muliakanlah cinta dengan mampu menjadi sosok yang dewasa, berani, bertanggung jawab. Sebab definisi cinta atas seseorang yang sama sekali belum halal bagi kita tidak mencangkup dalam tiga kriteria di atas.

Di umur yang dewasa sekarang, gue hanya menunggu cinta baik mendekat, merekah sendiri di waktu yang sudah dijanjikan Tuhan. Sebab gue enggan meng-Agungkan hal-hal semu yang orang-orang menyebutnya menjadi sebuah “Kesenangan berumur pendek” tanpa ikatan perjanjian pernikahan.

Pernikahan adalah ikatan yang Agung. Sangat Agung.

Hidup gue cukup mencari sesuatu yang diridhoi, bahwa cinta yang baik menurut Tuhan, tidak akan pernah menyengsarakan pemiliknya.

Setiap malam sebagian manusia termasuk gue, akan menjadi santapan bagi kabut-kabut kantuk yang tiba sebelum jam 12 malam, lalu kita bermimpi banyak hal yang menjelma menjadi khayalan ketika kita sudah bisa membuka mata. Di pagi hari seperti biasa, gue akan menemui kopi pahit pertama kali, jalanan yang sama, kantor yang sama, dunia yang sama di waktu yang berbeda dan kejadian yang bisa saja sama dan bisa juga tidak.

Kita saat ini hanya bagian manusia yang terlalu sombong, yang melupakan kisah penciptaan dan melupakan kisah jatuhnya Adam dan Hawa. Kita hanya menjadi manusia yang sibuk mencari, lupa berbenah diri, lupa belajar bagaimana berinteraksi, mengupas hal yang paling rahasia antara makhluk langit dan kita penghuni bumi.

Setelah diusir Angga, gue balik ke rumah. Itu juga ogah-ogahan. Angga siang ini ada project film di Bandung makanya gue balik, kalau dia gak kemana-mana walaupun diusir seribu kali gue tetep bandel gegoleran di sana seharian.

Seandainya gue bisa cuti semudah gue buka resleting celana kalau mau pipis, gue udah ikut Angga. Gue suka kota dengan udara yang dingin, walau pun ketika di sana gue biasanya mandi dengan sistem dicicil. Hari ini ngelap muka, besok ngelap ketek, besoknya lagi ngelap selangkangan. Air daerah Bandung Selatan tiap pipis bikin semua bulu gue jadi beku. Kalau gue keramas pake sampo yang banyak, bilasnya gak pake air tapi pake susu murni, gue yakin air bilasan sampo kemungkinan langsung jadi ice cream.

Di kamar, gue dengerin musik instrumental Turki. Hari ini perasaan gue merasa gak enak, kaya ada yang ngeganjel tapi gue bingung kenapa dan ada apaan. Gue sempet pernah ngerasain hal kaya gini sebelumnya, ternyata gue dapet kabar buruk, kucingnya mama lahiran, tapi di lemari baju gue. Parah!!!! Sebel!!!!

-_____-!!???

Semoga kali ini firasat dari perasaan resah gue gak sampe seburuk itu….

Hampir 3 jam mata gak juga bisa merem. Gue mencoba pake mantra sulapnya pak Tarno “Simsalabim ayo merem prok prok prok…” Tapi mata gue malah lebih melek dari sebelumnya. Fiuuh. Mantra sulap abal-abal yang gak ngebantu sama sekali.

Baru mau merem, pintu kamar diketuk keras dan cepat. Gue kaget, nyokap pas masuk juga ikutan kaget. Kita sama-sama kaget. Halah. Nyokap bilang Mytha nelfon gue berkali-kali tapi gak diangkat, ponsel memang sengaja gue silent dari pagi. Di sini gue masih biasa aja nanggepinnya, sampai nyokap melanjutkan lagi bicaranya bahwa Mytha butuh gue di sana karena Angga kecelakaan di tol Cipularang, kondisi mobil terbalik dan sebagian kru banyak yang terluka parah.

Gue bengong, lemes, gak bisa ngomong apa-apa karena shock, gue meraih ponsel di meja komputer, di sana tertera 12 misscall dari Mytha dan puluhan wa mengenai kronologi kecelakaan dan pemberitahuan lokasi Angga di RS.

“Ya Allah…” Hati, jantung, semuanya rasanya terbakar, bercampur rasa gemetar satu badan, bonus rasa bingung dan panik. Gerimis hampir turun di pelupuk mata, namun gue tahan.

“Ayolah, boy… Jangan nangis. Kuat… Kuat, boy. Angga gak akan kenapa-kenapa.” Gue mulai menenangkan diri gue sendiri.

“Please jaga Angga ya Allah, Gak ada Angga hidup ini seperti layang-layang tanpa angin, seperti sepasang sepatu yang ditinggalkan pemiliknya, juga seperti spongebob tanpa patrick.” Bathin gue yang lemah kembali berdoa.

Kaki dan tubuh gue seolah memiliki remote kontrol otomatis untuk bergegas ganti baju dan melaju ke lokasi yang ditulis Mytha di wa. Gue gak sanggup nelpon Mytha langsung, karena gue gak ingin mendengar isak tangisnya diponsel yang hanya menambah rasa khawatir gue mengenai Angga berlebihan.

Apa yang lu rasain jika sahabat lu dari kecil, yang sering tidur bareng, becanda bareng, brengsek bareng, sampe tobat bareng, kabarnya kecelakaan?

Ingatan masa lalu langsung berputar, Angga pernah nemenin gue dulu waktu masih sekolah buat ngapel malam Minggu ke rumah cewek yang gue taksir, saat itu disambut bapaknya, yang tadinya kita gak pernah sholat tiap denger adzan langsung sholat pamit pergi ke masjid biar dibilang anak Sholeh, persis kaya pemeran utama manusia karbitan di sinetron Para Pencari Tuhan film besutan Dedi Mizwar.

Dan sekarang, sahabat karib gue itu terbaring lemah di Rumah Sakit dan gue sama sekali belum tahu kabar lanjutnya.

Sedih… Banget.

Sampai di depan RS gue langsung telpon Mytha, gue gak ngebayangin di usia kehamilan 6 bulan dia harus denger berita kaya begini, dering ponsel berhenti dan terdengar suara Hallo lemah dengan isak tangis.

“Gue udah di depan RS, Myth… Menuju ke sana…” Ucap gue dengan nada sok tegar yang dibuat-buat karena perasaan gue sama paniknya dengan Mytha, mungkin lebih.

Sampai di sana, Mytha lagi meringkuk duduk di bawah bersender tembok rumah sakit, nangis sejadi-jadinya yang dia bisa. Gue sama sekali gak memperhatikan lalu-lalang orang-orang, gue hanya sibuk bertanya mengenai Angga gimana kabarnya, di mana sekarang, serta tuntutan pertanyaan yang semuanya ingin di jawab sekarang.
Mytha gak jawab, dia hanya nangis. Papinya Mytha cuma nunjuk ke kamar jenazah.

Gue langsung bengong lagi. Jantung gue seperti digenggam Tuhan untuk berhenti berdetak, kepala gue pusing, mata berkunang-kunang.

Gue jatuh….

Dan semua…. GELAP.

……

……

Bersambung

Dessyachieriny@yahoo.com

6 thoughts on “Sekampet-Kampretnya Persahabatan Bagian 12 (Today I’m Sad)”

  1. Kok malah makin sedih ya.
    Awalnya sedih liat dhika being alone, udah rada santai saat ngeliat dhika perasaannya udah mulai tegar, malah tambah sedih lagi liat perasaannya ancur kehilangan sahabat, tambah sedih lagi mikirim mytha yg lagi hamil enam bulan, ini kumpulan kisah sedih di hari minggu

  2. Ahelahhh.. lagii puncak2nya trs bersambung. Kek lagi makan ayam, kulitnya sengaja d singkirin buat gong taunya malah diambil orang next chapter nya kapan rilis ni mba Des

    1. Ditunggu aja ya… walau pun saya tahu menunggu itu serba gak enak. Kalau mau enak, nunggunya sambil makan gorengan.

    1. Udah terlanjur aku bikin dia meninggal. Kalau mati cocoknya buat kucing, tikus dan semut rang-rang. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *