Skip to content

Jika Cinta Bilang Iya

Saya melihat kata seperti kamu, buku gambar dan juga crayon warna-warni. Sama-sama butuh waktu untuk dipelajari, dilukis dan diwarnai.

 

Catatlah baik-baik setiap perkataan dan kisah ini, sebelum akhirnya nanti saya menutup mata, meninggalkan ucapan selamat pagi yang sejak dulu telah lama berhenti, saat-saat menakutkan ketika kau tak pernah lagi melihat cahaya matahari pagi atau senja, semua seolah hanya ada di ingatan yang mengapung di kepala.

Saya adalah Marni…

Siang yang gersang di pukul 13.39, di sini tidak ada yang istimewa dan memang sedang tidak ingin apa-apa. Di depan saya, hanya tersedia setablet obat sakit kepala, secangkir kopi dan hidup yang berjalan seperti biasa. Esok hari cuaca mungkin saja berubah, cuaca yang kelakuannya terlalu imut itu membuat tanah lembab sehabis hujan dengan caranya yang begitu tiba-tiba serta pikiran yang dibungkus banyak keinginan.

Sayang, Tuhan bilang sepasang kita seperti peran perpustakaan. Segala yang dipinjam ada rasa tanggung jawab yang harus dikembalikan. Semua memang sudah tertulis di awal. Kita, hanya mengikuti cerita dan selesai.
Mungkin kau dulu pernah ingat? Saya pernah bilang bahwa kita jangan pernah menjadi sepasang mereka. Kehidupan keduanya terlalu menyimpan pertanyaan, lalu berpisah dengan banyak sekali mengajukan pertanyaan.

Namun entah kenapa, kehidupan justru menuntun kita menjadi bagian dari sepasang mereka yang pada akhirnya memilih berpisah untuk belajar tak lagi saling menggenggam dan lebih nyaman dengan tangan masing-masing. Saya pernah berpikir, bahwa saya adalah manusia paling bahagia di dunia. Saya juga pernah berpikir, bahwa harta bukan segalanya, asalkan rasa cinta dan setia tetap ada. Kerapkali saya kembali berpikir, bahwa telah banyak hal baik yang saya harapkan kepadamu, memohon untuk di-iya-kan Tuhan di hari yang terus berjalan ke depan. Namun harapan saya yang terlalu tinggi itu, kini menjatuhkan saya sendiri. Ke tempat yang jauh lebih sakit dari yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Merobek hati dan jantung saya sekaligus.

Jika kepalamu dan kepalaku terbuat dari kerumitan. Kupikir hanya cinta yang berperan menjadikannya sederhana. Penghalau semua — Pengatur segala. Ternyata pemilik semua kerumitan itu adalah Ia, yang dengan sesuka hati hendak menyerahkannya kepada siapa. Mungkin, kita sedang dipilih oleh-Nya. Hingga CINTA sendiri yang rupanya menampar KITA sekeras-kerasnya.

Gambar terkait
Sampai akhirnya saya lagi-lagi berpikir bahwa kau adalah bahaya, terbuat dari bara api yang tiba-tiba menyala. Setiap hari rasanya kepala ini seolah dipeluk matahari, cahaya yang tak mampu membuat kita sembunyi. Sebab tak pernah saya menemukan hal yang lebih sakit, ketika seseorang yang amat saya cintai, justru mencintai orang lain. Seorang perempuan yang sama sekali tak ada satu pun yang sanggup saya irikan padanya. Seorang perempuan yang saya kenal, yang bahkan jarak rumahnya saja masih sanggup saya tapaki dengan berjalan kaki.

Dulu, saya adalah satu-satunya orang yang bersedia melindungimu meski kecerobohan selalu menjuarai adaku. Saya adalah perempuan yang kerapkali menunggumu pulang dengan senyum paling lebar dari milik siapa pun dan menanyakan setiap hari hal bodoh yang sama; Mau dibikinin teh atau susu? Sudah mau makan atau belum? Sayang aku kangen, kapan pulang? Atau pernyataan-pernyataan paling alay tentang; Sayang.. aku mencintaimu, sayang.. sayang.. rumah sudah rapih, sayang.. anak-anak lagi belajar, dan kata sayang-sayang yang lain yang bahkan jika dituliskan, mungkin tak akan pernah cukup.

Dulu, saya pernah tinggal lama diantara kedua alismu, diantara kedua kecup bibirmu, dan diantara hal-hal yang tak pernah sanggup orang lain sentuh. Kini, tak lagi.

Jika kau tanyakan apakah saya marah? Jelas saya marah, itu sebabnya saya mendatangi perempuan yang kau cintai, berkeluh-kesah kepada suaminya, lalu marah dengan cara yang baik, untuk mengingatkannya, juga mengingatkanmu. Saya bisa saja membeberkan kisah percintaan kalian di sosial media tapi saya tak melakukan hal demikian hanya untuk mendapatkan perhatian semu dari banyak orang. Jika kau tanyakan kembali mengapa saya tak melakukannya, sebab kau adalah orang yang selama bertahun-tahun saya lindungi. Ini adalah hadiah paling manis dari saya untuk meringankan langkahmu mencintai seseorang yang ternyata, bukan saya.

Hal kekanak-kanakan yang ada pada diriku apakah sekarang kau merindukannya? Bagaimana waktu saya menyambutmu sepulang kerja dengan menyembunyikan diri dan kita bermain petak umpet di umur kita yang tak lagi dewasa, mengagetkanmu tiba-tiba sepulang kerja adalah caraku mengajakmu bermain-main agar kepenatan yang ada lepas begitu saja ketika kau mendengar tawaku yang mungkin dulu kau anggap sangat biasa. Apakah kau ingat juga bunyi bising mixer ketika aku berusaha menyajikan dirimu berbagai macam sajian kue manis di meja makan? Lalu mungkin sedikit membuatmu kesal dengan rengekanku yang memintamu untuk menggendong tubuhku yang tak lagi seringan dulu, atau teriakanku yang terkadang meminta bantuanmu karena takut beberapa hal, termasuk membersihkan kerangka hewan melata yang sudah kering menempel disela-sela pintu dan kusen kamar kita karena terjebak dan terjepit.

Apakah kau masih ingat?….

Berkali-kali saya mencoba belajar memaafkan dari sakit hati yang memperburuk keadaan, tapi kenyataannya, rasa sakit dikhianati jauh lebih patah, jauh lebih pecah, jauh lebih rapuh.

Kekecewaan yang teramat berat itu sanggup mengajakku ingin berlari sejauh mungkin dari keadaan yang menyirami benih kesedihan tumbuh subur, lalu berhenti mendengar alasan pembenaran dan minta maaf dari kau yang mengecewakanku tak berkesudahan tanpa ada sinyal tanda jera. Kali ini, entah kenapa kaki begitu cepat memberikan sinyal itu untuk melangkah begitu saja meninggalkanmu, diantara pikiran kemarin yang bahkan sama sekali tak pernah saya berpikir dapat meninggalkanmu seorang diri sendirian.

Tak ada lagi kata “Iya” pada maaf-maaf tulus yang telah kuberikan sebelum ini. Semoga setiap perjalanan membuat kita semakin banyak belajar mengenal kehidupan.

“Sebab kehidupan sepahit apa pun tak pernah menghakimi. Jika kau pernah berpikir demikian, maka kau akan terpenjara selamanya di sana. Tuhan yang baik itu, sedang mengajarimu sesuatu. Bahwa kebenaran, akan selalu menemukan jalannya sendiri. Karena kita di mata sang pencipta hanyalah dua manusia yang baru saja menjadi manusia.”

Dulu, aku selalu berpikir bahwa kau adalah satu-satunya milikku. Namun Tuhan sedang menegurku, bahwa segala yang kuakui di dunia sebagai milikku, sebenarnya bukanlah milikku. Jika Tuhan ingin mengambilnya, maka mau tidak mau kita pasti memberikannya. Entah itu kita serahkan sendiri, atau bahkan diambil paksa oleh-Nya. Hingga kita belajar mengerti sebenar-benar cara yang baik untuk memulangkannya. Begitu pun dengan — Engkau.

Seperti pertemuan kita yang tak pernah direncanakan, maka kehilanganmu mungkin akan persis sama kembali seperti itu. Engkau adalah bagian dari kamus paling lengkap, seorang pria yang pernah mencintaiku, memberikan buah hati padaku dengan tawa riang mereka memanggilku “Ibu”  Kau juga memberikan rasa sakit sekaligus. Kau membuat saya belajar dengan baik bagaimana rasanya dicintai, menelan rasa kecewa dan menjadi kuat setelahnya.

Mari kita rayakan kesedihan dengan sejuta puisi, Tuan. Agar kekecewaan terbang mengepakkan sayapnya dan memberitahukan kita cara mengingat sebagaimana mestinya.

Hasil gambar untuk love favim

Jika cinta bilang “Iya”

Maka, kau akan menemukannya. Sebab cinta dan kata punya rasa dan bahasa. Keduanya bisa seasin air laut dan semanis merundingkan hal entah paling hening. Seperti; rindu, kita, dan segala kemungkinan yang sanggup menuturkan dirinya sendiri dalam ruang paling sunyi.

Mungkin, itu sebabnya kata “Tinta” dan “Cinta” memiliki kemiripan kata.

Cinta adalah hal paling liar yang tumbuh di mana pun. Ia tak tersembunyi oleh apa-apa yang terlihat dan tampak. Cinta adalah sesuatu yang mudah terjatuh dan patah seketika. Cinta juga pernah membuat kita saling menuntun bibirku dan bibirmu ke pinggir telaga, dan kepada birahi malam, kita menyerahkan diri, untuk tenggelam dan menikmatinya.

Di sudut jalan, kita sampai pada suatu peristiwa, hadir dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya.
Lara dan luka memberikan kita sebuah makna.

Jika daun yang jatuh saja tak pernah membenci angin dan cinta sesederhana hujan bulan Juni Sapardi, maka percayalah bahwa kebahagiaan pun tak pernah bosan menjatuhkan dirinya esok hari.

Biarkan kehidupan yang memberikan kita jarak kepada cinta. Agar kita senantiasa bahagia, tanpa perlu menyalahkan siapa-siapa. Untukmu dan semua hal yang pernah kita namai “Cinta” — Saya pamit.

 

Dari perempuan yang pernah mencintaimu, Marni….

.

.

 

Dessyachieriny@yahoo.com

Published inFF & Cerpen

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *