Ketika Jogja Bukan Sekedar Kota

Yogyakarta adalah geriap titik nol. Senopati hingga Mangkubumi. Jalan kebebasan, perjuangan. Pertaruhan. Puisi ditahbiskan para pejalan sunyi. Penjaga nurani.

~ Otto Sukatno CR~

 

Perjalanan belum usai, tulisan adalah cara kita mengingat dan melompat lebih jauh. Sejauh ingatan yang kerapkali meluncur ke kota seribu candi yang patut untuk kau kunjungi, kota dengan segudang suguhan kesederhanaan yang tak pernah dibuat-buat, senyum tulus masyarakat, arti penting dari keramahan yang di-Agungkan, kearifan lokal yang terjaga, tempat wisata yang mendunia dan kehangatan khas Indonesia.

Di Jogja, senja saja bahkan dapat memberikan pemandangan yang sepuitis ini. Rasa rindu untuk kembali adalah magnet mistis dari Jogja yang akan memanggilmu sebagai kekuatan rasa syukur terhadap indahnya alam ciptaan Tuhan tanpa perlu diiringi dengan tepuk tangan paling lama, sebab kota Jogja memiliki ruh dengan tepuk tangannya sendiri. Kota yang kerapkali menghadirkan bermacam tarian tradisional, contoh kecil seperti pementasan Sendratari Ramayana.

Dalam balutan manisnya kota Jogja, saya akan mengajak kalian singgah sebentar mengingat dan menggali sejarah Yogyakarta melalui cuplikan video yang telah saya buat menjadi cuplikan berikut ini:

Menggali Sejarah Yogyakarta on Biteable.

 

Ah…  Jogja begitu istimewa.

Kota legendaris sejak zaman mataram ini kalian dapat menyebutnya apa saja; kota pendidikan, kota buku, kota penyair, kota pelajar, kota revolusi, kota seniman, kota budaya. Tak heran “Menjadi Jogja Menjadi Indonesia” Tema yang tertulis ini sudah sepantasnya melekat di kota yang mampu mempertahankan kearifan lokal budaya jawa yang Adiluhung bersanding dengan budaya kekinian, sebab hampir semua kota lainnya yang entah sudah berapa banyak kebudayaannya ikut tenggelam dan tergilas zaman.

Eksotiknya Malioboro, lampu jalanan kota, suguhan para pelukis serta musisi jalanan dan riuhnya remaja bercengkrama adalah pemandangan paling mesra. Mata kita akan dimanjakan dengan riuhnya pasar-pasar tradisional, angkringan dan cafe-cafe modern yang ikut berbaur karena perkembangan zaman, semua tumbuh menjamur memberikan dampak ekonomis untuk perekonomian rakyat, tentunya dengan masih melindungi tradisi, dan nilai-nilai budaya yang berakar.

Manisnya Gudeg Jogja, tiwul, bakpia, hangatnya wedang uwuh, kopi joss, Kulonprogo Binangun, Gunung Kidul Handayani, Seleman Sembada, batik, adalah daya tarik yang dihantarkan kota Jogja pelan-pelan.

Layaknya surga kecil yang disuguhkan alam, ada banyak wisata yang dapat kalian kunjungi jika ke sana; Museum Ullen Sentalu, Situs Ratu Boko, Museum Benteng Vrendeburg, Candi Sewu, Pantai Baron, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Taman Sari, Air Terjun Sri gethuk, dan masih banyak lagi list wisata yang ciamik untuk kalian tapaki, sebab tulisan saja tak akan mampu menjelaskan semuanya.

Museum benteng Vrendenburg misalnya, merupakan sisa peninggalan jaman kolonial Belanda di Indonesia. Kita dapat menikmati suasana yang cukup asri di dalam setelah lelah berjalan di sekitaran Malioboro karena lokasinya stratergis berada pada titik 0 (nol) Jogjakarta, yaitu di ujung Jl. Malioboro yang menjadi ikon DIY. Tiket masuk yang ditawarkan juga cukup murah. Apabila kalian hobi fotografi, maka museum ini memiliki spot-spot menarik yang bisa kalian eksplore baik itu di sosial media maupun dalam sebuah ingatan dan cerita. Di kota Yogyakarta banyak sekali kita temui peninggalan-peninggalan sejarah, sebab Jogja adalah kota lama, banyak peninggalan yang dapat ditemukan di Yogyakarta dan sekitarnya. Bukan hanya dari abad XVIII M, namun juga pada abad –abad sebelumnya. Pada abad XVI M, Yogyakarta menjadi pusat Kerajaan Mataram Islam. Sementara pada abad VIII M, sekitar Yogyakarta sudah menjadi pusat peradaban khususnya yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha.

pict by ; @Halohoho

Ada banyak lokasi Candi yang menjadi gaungnya wisata Jogjakarta. Waktu paling tepat untuk berkunjung ke lokasi ini terutama saat pagi dan sore hari, di waktu itulah sinar matahari masih bersahabat dengan kita. Kesan romantis dari terpaan warna merah kekuningan menjadikan candi lebih megah dan eksotik, bidikan kamera, rasa syukur, ingatan baik dari sebuah perjalanan, kelak begitulah caranya alam bekerja untuk memikatmu–Kembali.

Keindahan pantai Pok Tunggal juga menjadi daya tarik lainnya, pantai yang berada di Desa Tepus, kecamatan Tepus, kabupaten Gunungkidul ini dikenal dengan hamparan pasir putihnya. Cerita dibalik Pok Tunggal rupanya terinspirasi dari sebuah pohon yang hidup di pinggir pantai tersebut, yakni Pohon Duras. Pohon Duras yag tumbuh di pantai Pok Tunggang ini hanya satu buah saja, itulah cikal bakal kenapa pantai ini disebut Pok Tunggal.

Ada banyak tradisi yang kerapkali dilakukan di Jogja, seperti Acara tahunan Bersih Sendang Beji dengan sedekah ingkung, acaranya terdiri dari doa-doa dan pembagian ingkung ayam, nasi gurih, buah-buahan hasil bumi dan tani sebagai ungkapan rasa syukur. Acara tahunan bersih Sendang Beji merupakan tradisi turun temurun sejak ratusan tahun. Sendang Beji merupakan mata air atau umbul yang tidak pernah surut airnya, sekalipun musim kering. Air dari sendang inilah yang menghidupi warga selama bergenerasi. Selain untuk sumber air minum sendang ini digunakan warga untuk mengairi kebun dan persawahan sekitar. Ada pula upacara Taur Kesanga, Jemparingan, yaitu seni memanah gaya Mataram yang dulu sering digelar di seluruh wilayah kerayaan kuno Yogyakarta dan yang tak kalah menarik ketika hari raya Waisak di Malioboro sering diadakan Pindapata yang merupakan salah satu rangkaian acara dari Hari Raya Waisak, yang dilaksanakan oleh Bhiku dan Bhikkhuni yang berjalan menundukkan kepala sambil membawa mangkuk makanan tanpa mengucapkan kata-kata meminta. Sebagai cara mengasah umat secara sadar dan ikhlas untuk memberikan makanan kepada Bhiku dan Bhikkhuni.

Hal yang lebih menarik di Jogja, kita dapat menjumpai alat transportasi yang jarang kita temui yaitu becak. Becak merupakan pantulan hidup bernilai, bermakna, dan tujuan hidup mendasar dari wong kabur kanginan: orang tidak berumah, tidur di jalanan. Di kota istimewa Yogyakarta inilah moda transportasi istimewa becak menemukan tempat yang aman dan nyaman dengan falsafah yang membumi “Alon-alon weton kelakon”. Moda Transportasi dengan menggunakan tenaga manusia ini masih mondar-mandir di Jogja, tidak lain adalah berkat jasa Sri Sultan HB X yang menjadi pengayom dan pelindungnya. Siapalah yang berani menghalangi bila Sinuhun sudah bersabda.

Jogja adalah kota kecil dengan multikulturalisme tinggi serta kota yang memanusiakan manusia. Pasar tradisional dan beraneka ragam batik yang dijajakan adalah buah dari budaya yang dilestarikan. Karakteristik warga Jogja yang sederhana dan menghargai seni budaya tentu tidak akan mematikan pasar tradisional. Di era modernisasi dan tekhnologi, pemikiran manusia kian berubah, kota besar contohnya; tawar-menawar seolah tersingkirkan dan menjadi hal paling rancu sehingga mengganggap menawar harga barang adalah hal yang tak manusiawi, hilang empati, dan pikiran lain yang menganggap intoleran kepada rakyat kecil. Terlalu banyak pikiran-pikiran negatif yang pada akhirnya justru menjadi peluru yang kelak mematikan hal-hal yang baik. Padahal di pasar tradisional inilah timbulnya ikatan kuat antar masyarakat, arti toleransi, cara menghargai, dan silahturahmi dapat terjalin. Di kota besar banyak pedagang yang sengaja menaikkan harga barang selangit, lalu apakah menawar harga barang yang dibandrol dengan harga yang tak masuk di akal menjadi simbol kurangnya empati? Di Jogja kalian bisa merasakan kehangatan para pedagang di pasar ketika sedang “tawar-menawar” dan merasakan ketulusan warga Jogja yang tidak ternoda oleh pikiran “mencari untung sebanyak-banyaknya”. Banyak hal baik dari kesederhanaan kota ini yang membuat kalian berfikir bahwa Jogja tak hanya sekedar tempat wisata.

Rasa rindu melihat merapi dengan mata telanjang dari kawasan Tugu Jogja yang tertutup gedung-gedung yang semakin dibangun tinggi menjulang seringkali menjelma sebuah ketakutan akan virus modernisasi masuk ke kota Jogja dan menghilangkan akar budaya, tapi percayalah, bahwa kota Yogyakarta sekarang sedang berbenah dalam mewujudkan dirinya sebagai salah satu tujuan utama wisata Indonesia tanpa menghilangkan budaya, sebab justru budaya itulah yang menjadi modal terbesar dalam pengembangan kota Yogyakarta dikemudian hari, termasuk dunia kepariwisataannya.

Untukmu Jogja, cinta adalah satu-satunya pintu yang terbuka. Melalui perjalanan dan ingatan, maka cerita akan sembunyi dalam sebuah puisi yang akan hidup di mana pun. Berikut penggalan puisi karya saya…

 

Yogyakarta

Sejatining ngaurip, memayu hayuning bawana. Celakalah kota, jika kehilangan budaya dan jiwa. Sederhana adalah pucuk rasa rindu yang membuatmu kembali dalam pusaran nafas kota ini. Kita, hanyalah bagian yang terbawa ingatan lidah ombak di laut kenang.

Ada rindu puncak Merapi yang disembunyikan baliho, senyum tulus abdi dalem dan tawar menawar pasar batik tradisional. Di atas candi, senja menjadi saksi betapa puitisnya tanah Jogja bercerita. Tentang legenda, tentang sejarah, tentang tradisi, tentang adat, tentang budaya, tentang kita yang lupa bersuara.

Hanacaraka-Datasawala-Padhajayanya-Magabathanga. Duh Gusti, sebuah tulisan terkadang buah dari ingatan. Datang tergesa serupa sajak yang tak pernah menyerah pada kalimat paling panjang. Ia adalah dahaga yang tak mengenal kata titik.

Gagah Merapi di Utara dan mistisnya Parang Tritis di selatan Jogja. Sesederhana itu kita bahagia. Di kota ini, kita adalah sepasang keras yang dilatih bahagia dengan sederhana. Begitulah jika kehidupan sudah bersabda dan masyarakat bersedia. Merapi memang tak pernah ingkar janji, tapi merapi pernah menjadikan kota ini abu. Di tangan Tuhan dan titah Sri Sultan, maka Jogja, kita, kota dan jiwa kembali—Menyala.

 

Dessy, 17 Agustus 2017

 

Dessyachieriny@yahoo.com

One thought on “Ketika Jogja Bukan Sekedar Kota”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *