Skip to content

Secawan Anggur Ini Milikku

Secawan anggur ini, milikku…

Aku pernah memilih pergi, namun tak memiliki tujuan, lalu kembali.

Aku pernah memilih pergi, membuka langkah lebarku sendiri, berharap sanggup berlari, namun tak kuat lalu berhenti.

Aku pernah memilih pergi…

Apa kalian tahu? Kali ini aku berhasil. Aku pergi dengan mengacaukan pikiranku sendiri. Memikirlan hal-hal yang tak biasa. Mengamati dan merasakan hal-hal yang tak pernah kalian fikirkan sebelumnya.

Entah dari kapan aku mulai bicara sendiri. Bicara kepada laut, kepada batu, kepada jam dinding, kepada pohon mangga yang tumbuh besar di seberang jalan, kepada nisan orang tuaku, kepada bunga yang kemudian layu, kepada waktu, juga bicara dari apa-apa yang orang lain takutkan sebelumnya.

Gambar terkait

Aku yang sekarang, terlalu banyak bicara…

Sebelumnya, aku hanya remaja dengan tingkah laku sebaliknya. Pendiam, pemilik banyak rasa kecewa yang tak pernah aku selesaikan sebelumnya, aku memiliki banyak rasa marah atas hidup yang sulit, pemilik rasa dendam, rasa trauma, serta pemilik semua rasa menyedihkan yang kukumpulkan menjadi satu. Aku memetakan seluruhnya di dalam kepalaku satu-satu.

Semuanya ada di sini, masalah itu kini sekarang berjumlah ratusan, tentunya semua ada di sini, di kepalaku.

Kalian mungkin tak akan pernah mau mendengar, sebab manusia terlalu sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Tak ada yang pernah mau mendengar, atau sekedar berbagi resah dari apa yang aku rasakan.

Apakah cerita hidupku sebahaya itu??? Sampai tak ada seorang pun yang perduli???

Aku sudah meluapkan banyak hal dengan tangis yang terlalu banyak sampai aku lelah. Aku bukan manusia yang pandai menampung masalahku sendiri untuk ditempatkan ke situasi yang lebih layak, situasi yang kalian sebut seharusnya begini dan begitu.

Kepalaku sudah cukup penuh untuk menampung semuanya. Imanku yang sedikit ini menyumbat semua pipanya.

Dan BOOOOOMMMM…..

Semuanya meluap.

Secawan anggur ini, milikku. Ia berada digenggamanku untuk menyelesaikan semuanya, begitu kata bisik di telingaku paling merdu yang terdengar sebelum senja.

Semua peristiwa yang kemarin seolah berputar, perpisahan kedua orang tuaku, hingga wafat keduanya di kampung halaman 2 tahun yang lalu, beban hidup di rantauan, masalah pekerjaan, pendidikan yang tak terselesaikan, ejekan teman, sebuah pengkhianatan dan krisis kepercayaan diri.

Gambar terkait

Aku yang sekarang terlalu banyak bicara…

Orang-orang menyebutnya gila, stress, dan depresi. Ah, orang yang sok tahu itu terlalu sibuk menertawai kehidupanku. Memberikan bermacam julukan dan berfikir semaunya.

Aku yang terlalu banyak bicara ini, sesekali hanya bisa tertawa sepuasnya. Berbahagia atas kesedihan yang sudah sering kupeluk sendiri.

Aku tak memiliki apa pun yang mampu kuserahkan, sebab malam hari bagiku hanya terbuat dari dingin yang menyentuh dadaku sendiri, lalu beku dan menjelma menjadi belati paling tajam di bumi. Pagi hari aku kembali menjadi hal-hal yang orang lain takutkan, melempar segala dari apa-apa yang sanggup kusentuh. Lemparan paling tinggi adalah bagian dari masalah yang hendak aku buang jauh-jauh.

Kepalaku adalah kerumunan kerumitan, seandainya banyak orang lain mengerti, bahwa sedikit mendengarkan adalah hal paling bijak dari sebuah kesederhanaan menyelamatkan nyawa manusia sepertiku. Seandainya banyak orang mengerti bahwa mendengarkan adalah pengubah hal-hal buruk terjadi di kejauhan yang terbang bersama wangi-wangi dunia yang telat tercium. Jika mereka mengerti, mendengarkan adalah kunci dari hal-hal baik terjadi. Maka, aku yakin semua orang akan belajar mendengarkan mulai sekarang.

Di bawah langit yang redup, senja hampir beranjak. Dalam kehidupan yang lebih pahit dari apa pun, aku akan menyelesaikannya dengan ini. Secawan anggur yang kutuang bersama racun serangga, milikku. Yang mungkin, jika kata mendengarkan sanggup aku dapatkan dari seseorang saja, maka secawan anggur ini, bisa saja tak pernah menjadi–Milikku.

 

 

DessyAchieriny@yahoo.com

Published inFF & Cerpen

One Comment

  1. Aditya Susanto Aditya Susanto

    Mencoba memahami makna yang tersirat di dalamnya.
    Mencoba melebur apa yang terjadi diantara bait-baitnya.

    Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menjalani kehidupan dunia ini.
    Terkadang berputar ke atas bahkan pernah sakit saat berada di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *