Skip to content

Hitam Putih Kehidupan Mak Ijah

Deru burung besi begitu nyaring di langit yang begitu biru, kau juga bisa merasakan sinar matahari yang lumayan terik saat itu. Tanpa ekspresi, Mak Ijah mendongak hanya untuk melihat sayap-sayap gagah yang seimbang melintas di atas ubun-ubunnya. Kurasa, ia duduk di bawah pohon angsana depan pengadilan sejak 1 jam yang lalu. Tak berani masuk, atau pun pergi begitu saja. Memang tak banyak hal penting yang ia bawa; hanya tas tenteng Gucci kw dengan resleting yang rusak, ponsel nokia jadul 2100, dompet usang, catatan kecil, dan berbagai macam rasa sedih, rasa cinta yang begitu besar dan kecewa. Saat itu, ia merasakan ada banyak hal yang lebih sejuk ketika berlindung di bawah pohon Angsana dari pada berada di rumahnya sendiri, juga lebih sejuk dari apa yang ia rasakan dalam dadanya. Dada yang terlanjur patah, dada yang menahan jeritan kekecewaan serta penyesalan paling keras seperti derit engsel pintu karat yang tak pernah diberikan pelumas…

Hari ini, tanggal 15…

“Sudahlah Mak, aku rasa Mak juga butuh bahagia.” Ujar Damar meyakinkan emaknya.

Entah apa yang salah di bulan Januari, Damar selalu saja menyuruh emaknya bercerai dari bapaknya di bulan ini setiap tanggal 15. Bulan yang penuh api di dada kiri, bulan tanpa hujan dan rasa kecewa yang tak mampu diselamatkan.

“Apa Mak tak pernah muak melihat kelakuan bapak? Aku saja muak, Mak”.

Emak Ijah hanya terkekeh pelan lalu berujar “Kehidupan tak semudah kita menelan ludah dan mengatakan rasa muak beribu kali, Mar. Ada banyak pertimbangan yang harus Mak pikirkan di hari ke depan. Mak selama ini tak bekerja, kita hidup karena jasa bapakmu, biaya sekolah kau juga butuh uang, sebentar lagi kau hendak kuliah, uang yang kita dapatkan bukan terbuat dari serpihan daun-daun kering yang Mak sapu di halaman. Setiap manusia pasti punya banyak kesalahan, begitu pun bapakmu itu. Mau jadi apa dia tanpa, Mak? Segala hal yang dilakukan dari melek mata bahkan Mak yang urus. Terkadang cinta memang suka membuat kita bego, Mar.” Kerutan dan pikiran antara cerai dan tidak, selalu saja menjadi hantu di kepala Mak Ijah. Suara yang lembut lebih mendominasi pembicaraan, memang komitmen dan sifat keras kepala Mak Ijah dalam mengambil keputusan seringkali membuat Damar kesal.

“Entah berapa kali Mak sudah disakitin bapak, Damar melihat dengan mata Damar sendiri, Mak. Apa salah jika Damar hanya ingin melihat Mak tidak lagi menangis? Damar sudah besar, Mak. Beberapa bulan ini sebalik sekolah, Damar juga kerap kali membantu Pakde Sintho menyadap getah karet dan bantu-bantu membersihkan kebun di rumah Kepala Desa. Ia mengizinkan gubuk belakang rumahnya untuk Damar tempati. Uang bekerja di sana memang tak banyak, tapi cukup untuk hidup kita berdua. Tak usahlah pikirkan kuliah, Damar akan kuliah pelan-pelan ketika cukup uang yang Damar kumpulkan dari bekerja. Ayolah Mak, lekas masukkan barang-barang dan kita pergi saja dari sini! Apa Mak mau seterusnya diperlakukan sebagai pelampiasan pukulan bapak?”.

“Entahlah, Mar. Jika Mak pergi dari sini, Mak hanya tak ingin hidup Mak ketika tua membuat beban dan justru merepotkanmu. Mengurus wanita renta yang hidupnya lebih banyak melihat kegelapan dan cerita suram yang dunia suguhkan. Menangis bukan tanda lemah, Mar. Menangis juga obat dari rasa kecewa yang melegakan. Mak sangat mengerti, Mak juga bisa mengontrol kapan Mak harus menangis dan menelan pil pahit rasa kecewa secukupnya dan menghentikan jika dirasa sudah berkepanjangan.” Lengan keriput Mak Ijah mengusap segala letih dan berapa kecewa yang terlintas dalam benak dan keningnya, kening yang sebagian berwarna biru gelap bekas pukulan benda tumpul.

Hari ini adalah tanggal 15 Januari, 18 tahun yang lalu Mak Ijah dan Kang Baron melangsungkan janji pernikahan, prosesi pernikahan sederhana yang memiliki rencana besar baik di dalamnya. Selang berlalu, waktu memiliki andil merubah watak manusia, menghilangkan empati, menerbangkan banyak janji. Dan di tanggal ini pula, setahun yang lalu Kang Baron membawa pulang wanita penyanyi dangdut saweran pemilik body permak aduhai dengan rok mini ketat berbahan karet yang ditarik body hingga melar terpaksa. Melihat Mak Ijah menangis dan memandang sinis kepada perempuan yang dipeluknya, Kang Baron langsung memukulinya sampai harus di rawat di rumah sakit sekitar seminggu. Damar adalah mata camar yang selalu melihat semuanya. Iya, semuanya. Tangan Damar tak cukup kuat untuk menahan tenaga bapak yang memukuli Mak kesayangannya.

Sifat Kang Baron bapaknya Damar memang sudah kelewat batas, seringkali main perempuan, mabuk-mabukan dan main tangan. Dua gigi depan yang berwarna hitam membuat kelakuan dan senyuman hampir seperti iblis berwujud manusia. Tak pernah ada rasa bersalah dan rasa penyesalan di matanya. Hatinya mungkin hanya bisa menjadi bersih dan terbuka jika sudah tertutup tanah kuburan.

Hasil gambar untuk kehidupan

Hari ini adalah tanggal 15 Januari….

Kang Baron duduk dengan suguhan singkong rebus hasil mencabut di kebun belakang dan kopi pahit seperti biasa, tanpa senyum dan tingkah yang bisa dibilang sekeras beras subsidi.

“Timbang ngerebus singkong aja garem pake demo. Asin banget. Mau lu apa sih jah? Air mata lu sengaja ditadangin di tampah? Sampe ngasih garem royal begini? ” Ujar Kang Baron dengan keluhan panjang setiap harinya, ponsel tuanya berdering dari seorang wanita gatal-gatal ulat bulu yang kerapkali merayu untuk datang ke rumahnya.

Mak Ijah tak menghiraukan ocehan Kang Baron dan percakapan yang tersambung pada dering ponsel barusan, ia hanya meneruskan sholat Dhuha dibalik bilik berlubang yang menjadi sekat antara kamar dan dipan depan. Sedangkan Damar hanya rebahan di kamar satunya lagi setelah membereskan beberapa buku dan hasil prakarya peta menggunakan hancuran kertas koran, lalu mengguntingnya untuk merapihkan beberapa bagian.

Di luar, terdengar bising suara tetangga antara bang Darta dan Bi Karsih. Pertengkaran diantara mereka juga kerapkali terjadi. Bedanya pertengkaran mereka bersumber dari Bi Karsih, sedang Bang Darta sifatnya memang lebih sabar dan memilih hanya diam.

“Naro handuk tuh jangan di kasur napah si bang, empet banget gua liatnya. Kalau masukin motor malem-malem, bawah standarnya juga dipakein keset, biar ini ubin kaga gompal-gompal. Udah berkali-kali gua nasehatin tetep aja kaga didenger. Sekalian gue minta duit, buat belanja…. Denger kaga sih lu bang, jangan gegoleran aja! Galon noh belum diangkat!!” Gerutu Bi Karsih dengan suara lantang yang terdengar sampai ke bilik Mak Ijah dengan nada melengking.

“Abang kan baru balik dek, semalem ngejer benerin motor orang yang kerendem. Lagian kemarin kan uangnya udah abang kasih.” Ujar Bang Darta segera berdiri

“Buseeet, duit kemaren mah buat bayar listrik, emangnya tarif listrik bisa dibayar pake bulu ketek? Kalau bisa…..kita udah kaya, Baaang! Beli lipstik sama bedak buat gua aja kaga bisa lu, gua mau kondangan lipstik yang lama aja nih, sampe harus dicongkel dulu pake korekan kuping. Ngerti kaga??? Bikin kesel aja lu mah, Bang!!”

“Sabar dek, Abang akan cari uang hari ini. Masalahnya di bengkel juga lagi sepi.” Kerutan di kening Bang Darta seolah memaknai susahnya hidup.

“Gua gak mau tauuuu, gua minta duit sekarang! Kalau kaga ada, lu emut-emut aja tuh taplak meja ampe kenyang!”

Tanpa berkata banyak selain pamit, Bang Darta kemudian menstarter motor warna hijau lumut bututnya. Melaju pelan ke arah bengkel yang ia kelola untuk mencari nafkah sehari-hari.

Kehidupan terkadang gak semanis quotes di sosial media, ya begitu, tak selamanya wanita baik untuk pria yang baik. Usia yang tak lagi dibilang muda, kisah Mak Ijah dan Kang Baron, serta Bang Darta dan Bi Karsih contohnya. Pria baik bisa saja terjebak dalam kehidupan wanita yang tak bersyukur, atau wanita berhati lembut terjebak kepada pria yang kasar. Jodoh hanyalah rahasia-Nya. Begitu juga perubahan watak manusia.

Kang Baron selalu menghidangkan kejengkelan bagi Damar dan Mak Ijah. Pagi ini, wanita penyanyi dangdut itu datang lagi, bibirnya sudah dipulas dengan gincu warna merah cabe rawit dan pakaian warna hijau ketat, atasannya persis lontong dengan bawahan yang persis lemper.

-____-!!!???

Damar melihat pemandangan yang kian membuat mata dan hatinya muak, tanpa basa-basi ia langsung ngeloyor pergi ke kamar Maknya. Mak Ijah lagi-lagi sedang menyeka air mata dengan terburu-buru, situasi yang membuat kikuk itu pecah dengan pertanyaan Damar yang kerapkali diulang-ulang

“Kita pergi saja dari sini ya, Mak. Sekarang! Damar janji akan membahagiakan Mak. Mereka berdua sengaja hendak meneror kita dan memperlihatkan kemesraannya di sini, supaya kita tak betah dan pergi dari rumah ini. Sudahlah, Mak. Apa yang Mak tunggu?” Mata damar yang binar itu kian memohon untuk diiyakan.

Belum sempat mereka berkemas, Kang Baron datang..

Mak ijah lalu menyempatkan berujar kepada suaminya “Bertobatlah Baron, jalan keselamatan  selalu terbuka bagi siapa pun. Tuhan Maha Pengampun. Jika kau kembali seperti dulu, aku akan memaafkanmu. Tuhan pasti menyelamatkan kamu, ingat Baron….” Belum sempat kata-kata itu habis, Kang baron menarik kepala Mak Ijah dan dibenturkannya ketembok. Damar yang saat itu memegang gunting yang dibuatnya untuk merapihkan prakarya peta sebagai hasil tugas IPS, kini menuncap tepat di jantung bapaknya. Secara reflek dan spontan.

Tubuh damar gemetar, darah membasahi tangannya. Sambil terisak ia mengatakan, “Sumpah, Da-Da-Damar tak sengaja Mak” Ujar Damar mulai menangis dan berkata terbata-bata.

“Kemarikan gunting itu, Mar. Biar Mak saja yang pegang, Mak sudah tua, tak apa jika harus di bui, lari Mar…cepat pergi dari sini! Pergilah dan tinggal ke belakang rumah Pakde Sintho sementara waktu. Bukankah kau sangat menginginkan membawa Mak ke sana? Pergilah Mar, Mak Mohon”

“Damar hanya menangis, lalu kembali menggeleng… Damar hanya ingin di sini saja, Mak. Menemani Mak. Damar lebih takut jika nanti lama tak melihat Mak lagi.”

Mak Ijah kembali menangis….Tangisan kali ini lebih lama berhenti….

.

.

.

Lagi-lagi kehidupan memang begitu, terkadang yang di dalam penjara tak sepenuhnya diisi orang-orang jahat, Mar. Banyak orang baik, yang terkadang masuk ke dalam lingkaran manusia yang memiliki nasib tak beruntung, begitu juga di mata hukum. Namun yang banyak orang lain tidak tahu, keadilan akan datang ketika kita sudah menjadi Ruh, saat dikumpulkan dalam timbangan paling tepat, paling adil, yang tak pernah menemui kesalahan, timbangan perbuatan antara dosa dan pahala yang tak pernah kita temui di dunia.

Seandainya waktu dapat diputar ulang, mungkin Mak Ijah akan pergi meninggalkan rumah itu bersama rengekan Damar — Sejak dulu.

Di pagi yang begitu terik, deru burung besi melintas begitu nyaring di langit yang begitu biru. Di depan pengadilan…

 

 

The End….

 

Dessyachieriny@yahoo.com

 

Published inFF & Cerpen

3 Comments

  1. Ceritanya seddiiihh …
    Keren mba .. laaf banget sama dialog yg mengalir natural gitu. Aku syuka.
    Keep writing ya mba, aku pasti rajin berkunjung

    Salam kenal
    Meirida.my.id

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Salam kenal kembali mbak Mei… iya, karena aku benci dialog yang drama banget. Jadi kalau nulis cerpen sebisa mungkin yang menjauhkan hal-hal yang begitu.

  2. Sediiiih bgt bacanya. Serasa real mba… Ikutan kebawa emosi.. Coba aja mak ijah dr kmrin2 berani ninggalin suaminya 🙁

    Ceritanya baguuus 🙂

    • Dessy Achieriny Dessy Achieriny

      Ya memang kenyataannya hidup itu terkadang butuh banyak pertimbangan, gak segampang yang katanya-katanya “kata orang” dan motivasi yang menggelepar di sosial media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *