Para Pengabdi Mantan (Part – 2)

Wa group berbunyi, di sana tertera “Pengabdi Mantan”

Group ini emang paling absurd dengan anggota yang banyak banget, yaitu cuma kita berempat. Gue (Jony Abrison), Abe, Nicky dan Ibam. Babeh gue pensiunan ABRI makanya nama gue Abri-Son artinya anak laki-lakinya ABRI. *Yaelah.. Kalau ada orang yang nanya arti nama gue apa? Gue kadang sampe malu sendiri neranginnya- Sumpah!

Orangtua jaman dulu kalau namain anaknya suka ngasal. Kemarin sewaktu perpanjangan SIM ada yang namanya Auwo Tarzan. -__-!!?? Dipanggilnya bapak Auwo. Ada yang namanya “Kamehameha” segala udah kaya jurus andalan Goku di film kartun Dragon ball.

Kita berempat ketemu di dunia maya udah lama, tapi kopi darat baru setahun lalu dan langsung klop hingga jadi sahabatan, dari cuma gara-gara Tumblr doank, akhirnya kita bikin sebuah group dengan rasa nyesek yang sama, yaitu sama-sama jomblo yang merindukan barisan para mantan. Dari obrolan ringan Minggu kemarin, kita sepakat membuat sebuah challenge bahwa siapa yang bisa macarin mantan kita lagi. Masing-masing dari kita yang kalah harus rela memangkas separuh gaji bulan depan untuk diberikan kepada salah satu dari kita yang bisa menaklukkan mantan paling dulu.

“Woi.. Kutang basah, lagi pada ngapain? Jadi gak misi kita kemarin? Jangan mulai start duluan lu ya. Pokoknya Sabtu depan kita baru mulai strategi masing-masing.” Whatsapp dari si Abe yang tiba-tiba bunyi memecah kesunyian, tepat setelah gue mengucap salam di rakaat terakhir pas Dzuhur. Gue orangnya dibilang baik amat mah kaga, tapi waktu sholat di kantor adalah waktu di mana gue bisa mempergunakan untuk merefresh pikiran dan ngelurusin badan sambil tiduran ngeliat langit-langit musholla. Makanya gue rajin. Hehe..

Tapi selama pengalaman ibadah yang gue tahu nih, kelemahan musholla kantor biasanya karpetnya jarang dibersihin, pernah waktu itu ketika sujud, tepat di hidung gue karpetnya bau kaos kaki yang setara sama terasi se-ember, parah banget — Swear. Mau khusyuk gimana coba, yang ada dipikiran gue malah bercabang antara baca doa sama ngedumel. Coba tolong para pengusaha, karpet musholla juga harus diperhatikan. Supaya kepentingan dunia dan ibadah dapat berjalan seiringan.

Sambil merem-merem ayam dan ogah-ogahan kebo, akhirnya gue bales juga wa si Abe di group.¬†“Lu mending banyakin minum Ale-ale gih be, biar pinter. Biar otak sejalan sama pikiran yang positif, jadi kaga nuduh sembarangan mulu. Keseringan makan nasi pake kuah air aki sih lu.”

“Ahaha siake kau manusia jahanam….” ketik Abe selang gue reply komentar abal-abalnya.

Kemudian, 5 menit… 10 menit… Wa group tetep hening. Gak ada tanggapan dari si Nicky dan Ibam. 2 anak manusia itu emang lebih sibuk kerjaannya dari kita berdua. Si Nicky anak OS di gerbang tol, peraturan di gardu dilarang bawa hape kalau jam kerja. Makanya jarang berkoar-koar. Waktu kemarin dia sempet curhat banyak hal mengenai nasibnya yang luntang-lantung, si Nicky yang namanya gak pake akhiran Astria ini, merupakan karyawan yang bernaung di lingkungan tol khususnya bagian operasional. Dengan sistem tol yang mengedepankan pembayaran non tunai, mau tidak mau akan berdampak terjadinya PHK massal. “Nyari kerjaan susah, gimana mau dapet pasangan hidup kalau gue pengangguran, boro-boro mikirin nikah, bini anak gue ntar mau dikasih makan apa? Gak mungkin kan gue kasih cakwe sama serpihan kulit sawo tiap hari.” Keluhan dia sedikit bercanda hanya untuk nyenengin dirinya sendiri — Waktu itu.

Emang sih, sekarang BI lagi gencar melakukan GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai) menurut gue dengan program ini ada kelemahan dan ada kelebihannya. Prediksinya nilai tukar rupiah paling nggak, bisa menjadi menguat. Bener kata Bu Mirah Sumirat seharusnya kebijakan pemerintah memikirkan hak konsumen, sehingga mereka dapat memilih menggunakan tunai atau non tunai. Selain uang tetap bisa menjadi pembayaran yang sah, hak konsumen terlindungi. Ketika hal tersebut sengaja dipaksakan, seolah kembali ke jaman kompeni, penjajahan model baru berkedok tekhnologi dan investasi, program ini paling tidak mengharuskan masyarakat memberikan upeti dengan adanya dana mengendap dalam program GNNT dan GTO yang dapat menguntungkan perbankan. Jika gardu tunai masih beroperasi, banyak tenaga manusia yang masih bisa terserap sehingga dapat mempekerjakan manusia lebih banyak.

Negara kita itu udah kaya kena virus kids jaman now juga, suka latah pengen ikut-ikutan negara maju. Kaya anak SD yang disuruh ngerjain soal anak SMA, sedangkan pelajarannya aja belum diterangin, infrastruktur penunjang juga baru sedikit, tenaga ahli pengajarnya aja baru beberapa. Jadinya ya gitu, belajarnya merangkak, merayap, terseok-seok. Ngerinya, maju kagak, takutnya malah tambah berantakan. Sekarang aja ojek online lagi kerjasama sama BI juga, prediksi gue ke depan jangan-jangan bakalan diberlakukan pembayaran non tunai dan gak pake tunai lagi.
Tapi semua gue serahin sama yang lebih paham mengenai negara, puyeng juga kalau sok tau mikirin semua. Mikirin mantan aja udah puyeng, apalagi mikirin negara.

…..

Hasil gambar untuk Mantan autumn

Sepanjang jalan sepulang kerja, gue mulai berkutat dengan kemacetan Jakarta, mulai kebal dengan bunyi klakson dan hiruk pikuk yang membuat kita seolah gila seketika. Untung gue naik motor jadi bisa nyalip-nyalip. Dalam hidup, gak ada yang namanya mustahil, semua selalu gue anggap niscaya. Termasuk — Balikan sama mantan. Walau pun kata orang, balikan sama mantan itu ibarat kita nelen ludah yang udah kita cuih-cuihin sendiri. Tetep aja rasanya beda. Rada sedikit anta. Tapi kecampur tergantung apa yang terakhir kita telen. Hehe.

Semakin gue dewasa, rupanya kebahagiaan itu terletak bagaimana kita memperjuangkan cinta itu sendiri. Mencintai tidak bisa dengan ala kadarnya, karena godaan syetan di luar lebih banyak dari komedo.

Contoh nyata paling misteri yang sampai saat ini belum terpecahkan, lu pasti akan melihat mantan lu akan lebih cakep 6x lipat saat putus, dari pada saat lu pacarin. Bener gak? Kaya kita macarin ulet bulu, pas udah putus malah jadi kupu-kupu. Walau pun kadang-kadang ada juga yang apes, saat pacaran mirip kecebong setelah putus jadi kodok. Hehe.

Apa sih yang membuat orang berubah? Faktor terbesar adalah lingkungan dan keinginan orang itu sendiri untuk berubah. Orang yang gagal move on kaya gue, termasuk ke dalam kubu menghamba masa lalu. Seberapa pun gue berusaha untuk melupakan, selalu saja menemukan kata menyerah ketika gue tak sengaja melipir ke tempat-tempat romansa yang membekas di kepala. Keterpa angin semilir pantai Ancol aja gue galau, karena biasanya gue pacaran sama si Amel di sana. Sambil pelukan di atas motor, Amelnya di atas… guenya di bawah, kelindes ban motor.

-___-!!!

Pantai Ancol sudah menjadi saksi bisu lokasi yang pas gue indehoy bagi anak muda memadu cinta dan gombal yang entah berapa ribu melayang ke udara. Gue mengambil komitmen pacaran sehat, grepe-grepe dikit doank sambil push up. Namanya juga cowok — Itu tanda usaha, walau pun keseringan ditepok tangannya sama si Amel. “Nakal ya…” Ucapnya pelan malu-malu tapi ngelarang sambil senyum, gue sebagai cowok mikirnya niy anak kaya pengen disuruh nantangin buat dipegang lagi kan ya?

Apalagi kalau udah lama gak pacaran terus ngebayangin ciuman pertama di saat gue lagi sariawan. Suka ngilu tiba-tiba kalau inget.¬†Perjalanan hidup itu udah kaya kita lagi dibumbuin…. Itu sebabnya kenapa manusia mempunyai jalan cerita yang memiliki banyak rasa.

Selama gue pacaran dengan sekian banyak wanita, tentunya mereka memiliki karakter berbeda, namun intinya tetep sama. Cewek rata-rata suka dengan keromantisan. Inget, ini mengenai grafik survei, gue bukan lagi ngomong mengenai cewek yang berdada rata. Beda konteks.

Sebenci apa pun lu sama mantan, kalau Tuhan punya takdir lain untuk menyatukan, tetep aja lu gak bakalan bisa melawan ketentuannya. Gak usah sok belagu menganggap seseorang itu menjadi sampah, jika diri sendiri aja bahkan belum pernah tahu ke depan akan berakhir di mana. Takdir ibarat sebuah perjudian mengenai sebuah kemungkinan, apakah sesuai dengan harapan atau bukan. Cuma waktu yang akan bergelut meyakini diri sendiri menjadi sebuah kepastian utuh. Pilihan hidup punya andil besar untuk melakukan perubahan nasib. Kesalahan dan kekecewaan itu hadir dari sebuah pilihan hidup yang salah. Jadi kita gak perlu menghakimi orang lain atau bahkan sampai menyalahkan seseorang, karena yang lu jalanin sekarang adalah hasil dari pilihan lu sendiri. Sebenar-benarnya hasil dari sebuah pilihan yang seharusnya kita memerlukan waktu lebih lama untuk memutuskan sesuatu, apalagi yang menyangkut peristiwa terpenting dalam hidup.

Gue hanya berharap, semakin dewasa gue tidak terjebak menjadi manusia pengecut yang takut untuk menyelesaikan sesuatu yang belum benar-benar selesai dalam hidup gue. Gue akan mencari jawaban yang kelak mampu untuk gue pahami dan menjadi sebuah pembenahan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diri gue sendiri, untuk lebih dalam mengenal mengenai apa itu jati diri. Setiap manusia akan berusaha memahami manusia lain, yang terkadang mereka lupa adalah bagaimana belajar untuk mengenal kepribadian masing-masing. Dengan rasa ego yang lebih, dengan mood yang gak nentu, dengan pilihan yang kerapkali ragu, itu tandanya kita sendiri saja bahkan masih belum mengenal siapa kita sebenarnya. Dan ini menjadi PR buat gue seumur hidup.

“Hidup itu, gak harus nyari pacar cuma buat ngasih pelajaran ke mantan hanya untuk membuat dia menyesal sampe stroke. Gak perlu! Perasaan seperti itu gak akan bertahan lama. Hidup itu yang dicari apa sih? Kebahagiaan kan? Makanya cari pasangan yang membuat kita merasa menjadi orang yang dihormati, yang memberikan perhatian tanpa diminta dan disayang dengan sebenar-benarnya rasa sayang yang baik. Kenyamanan justru didapat ketika kita sadar bahwa sebenarnya telah menemukan orang yang mampu membuat hidup ini menjadi sebenar-benarnya kita, yang menerima sifat jelek dari diri yang gak banyak orang lain ketahui tanpa perlu ditutup-tutupi. Kita bisa marah, cemburu, bercanda, bahkan nguap selebar-lebarnya dengan orang yang sama paling lama tanpa takut keliatan jelek.” Itu sepenggal wejangan dari emak gue, karena kebetulan kisah pacaran emak sama babeh dulu juga rada belibet. Keseringan putus nyambung bertahun-tahun; berantem, baikan, berantem, putus, baikan, berantem lagi, putus, sempet masing-masing punya pacar sama yang lain, sempet saling pamer pacar masing-masing juga pas ketemu, gak lama babeh mergokin pacar emak gue selingkuh sama cewek lain, cowoknya dipukulin sama babeh dan emak gue putus sama pacarnya tapi rupanya cewek babeh dengan kejadian ini merasa cemburu karena beranggapan masih perhatian dan masih memiliki rasa cinta sama emak gue. Akhirnya babeh sama pacarnya putus juga. Ujung-ujungnya, takdir punya andil, babeh sama emak nikah, setelah pacaran putus nyambung selama 6 tahun.

Cinta mereka berdua gue rasa terbuat dari baja ringan. Penyok-penyok dikit tapi masih tetep tahan banting.

Di Oktober ini, hari ulang tahun pernikahan mereka, babeh sempet memberikan hadiah yang terbungkus rapih buat emak, gue pikir isinya apaan, ternyata Tupperware sepaket, belinya nyicil. Emak gue juga ngasih hadiah, isinya sarung cap gajah selonjoran. Mereka tukeran kado, sedangkan gue lupa beli kado. Akhirnya gue pasrah dicap anak durhaka.

-_____-!!!!

Gambar terkait

Tapi yang paling menarik buat gue justru secarik kertas usang yang emak selipin buat babeh. Kertas yang dulu pernah emak berikan sebagai tanda sayang dan ucapan terimakasih, sehari setelah mereka menikah, kertas yang masih rapih disimpan dalam selipan sebuah album tua.

Karena sesuatu…
Kita bisa berdiri bersama, saling menggenggam, membenarkan segala mimpi yang sempat patah di hari kemarin.

Karena sesuatu…
Sebuah kesalahan, kekurangan, ketidakberdayaan masing-masing dari kita — akan selalu menyebutnya masa lalu.

Oktober memiliki hal paling manis dalam hidupmu. Sebagai hadiah untuk memberikan alasan agar kau tak lupa bahagia, hanya berbekal rasa syukur dan tiupan lilin merah jambu.

Aku di sini, selalu berdiri di hadapanmu walau matamu terkadang terlalu jauh melihat ke depan hingga sering melupakan aku.

Aku di sini, anggap saja menjadi huruf-huruf yang mampu menyeka air matamu setiap waktu.

Sebab di setiap terik kehidupan, kau akan menemukan satu dua kata tumbuh sebagai daun, menjadikan puisi paling rimbun. Tempat segala cemas berteduh, tak hanya untukmu, tapi juga untukku.

Karena sesuatu…
Aku tahu ada yang tiba-tiba menyala dalam hati lebih terang dari apapun. Cahaya yang seperti kunang-kunang itu memberikan jalan bahwa ada banyak kebahagiaan yang juga patut untuk kita rayakan.

Bukankah… Cinta akan selalu menemukan jalan untuk menyempurnakan segalanya?

Dan semoga hari ini menjadi angka yang baik untukmu juga.

Selamat Ulang Pernikahan…

 

Gue sedikit terharu tapi banyak geli karena lucu juga, emak sama babeh udah pada tua pake acara romantis kaya gini kesannya jadi kaya bocah alay. Tapi, setelah gue pikirin, mereka bisa sama-sama seperti sekarang karena sifat romantis keduanya yang berlebihan yang jarang gue lihat dari sekeliling rumah tangga orang yang pernah gue lihat.

.

.

Bersambung….

Dessyachieriny@yahoo.com

One thought on “Para Pengabdi Mantan (Part – 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *