Para Pengabdi Mantan Part 3

0
Shares
FF & Cerpen,

Para Pengabdi Mantan Part 3

Diam itu emas…

Oke. Dulu gue termasuk penghamba kalimat itu. Ada masalah, rasa gak suka, rasa kecewa, merasa asik aja untuk gue pendam sendirian. Terbawa perasaan yang kaya di sinetron, yang seolah udah disetting saat casting untuk jadi pemeran protagonis. Perasaan yang gampang buat ditindas, yang gampang buat dibohongin orang.

Hasil gambar untuk silent

Gue selalu mengupayakan yang terbaik buat seseorang yang gue sayang ketika itu dan mengkesampingkan perasaan gue sendiri. Gue tahu sifat gue yang terlalu mempercayai sebagian hidup gue sama orang lain itu salah. Gue melupakan bahwa siapa pun yang namanya manusia, bisa mengecewakan.

Dan sekarang gue menelan pil pahit itu — Sendirian. Rasa sayang yang sudah gue upayakan menjadi yang terbaik rupanya tidak selalu terpilih oleh orang yang menurut gue paling baik.

Gue hanya bisa diam untuk melihat kehidupan berjalan memberikan gue banyak peristiwa. Sesekali mungkin gue bertanya kepada seseorang yang menurut gue tepat, kaya elo sekarang untuk meminta pendapat apa yang harus gue lakukan. Walau pun sebelum gue menanyakan hal yang ingin gue tanyakan, sebenarnya gue lebih tahu jawabannya dibandingkan orang yang akan gue tunggu pendapatnya. Hanya saja, jawaban yang ada di dalam hati gue sendiri justru memilih pergi. Dan gue sendiri bahkan takut dan belum siap atas kepergian seseorang yang sudah lama ada, mengisi hari-hari gue. Gue bertanya hanya ingin sekedar mendengar jawaban sebaliknya dari apa yang gue pikirin. Supaya gue merasa tenang.

Hampir sebagian orang sesungguhnya gak mau kenal kata perpisahan, karena takut kehilangan sebuah kebiasaan-kebiasaan yang telah membuat kita nyaman dan secara otomatis merindukan hal-hal itu kembali.

Makin ke sini, gue makin belajar bahwa gak semua masalah bisa kelar kalau kita diam. Gak suka? Ya diomongin. Kecewa? Ya dijelasin titik dari akar masalah yang membuat kita kecewa.

Kalau kangen ya terang-terangan aja gitu bilang kangen, sampe segala minta dipeluk aja gengsi, kemudian bilang “Kamu gak peka”.

Ribet amat dunia…

Akan ada banyak tipikal wanita yang suka terperangkap untuk bilang; kamu gak peka, terserah, aku gak apa-apa kok. Jujur, itu bukan jawaban. Sama aja kaya cari penyakit sendiri.

Coba lu praktekkin ke tukang sayur, ditanya sama tukang sayurnya “Mau beli apa, Bu?” Kemudian kita jawab “Ih, mas-nya kok gak peka sih? Saya mau beli apa gitu masa gak tahu?” Sampe lebaran monyet, itu tukang sayur gak bakalan tahu si ibu mau beli apaan.

-___-!!???

Hasil gambar untuk silent

Kadang hidup adakalanya bosan dan ngerasa hambar yang gak ngerti bumbu apa yang dalam kehidupan kurang dimasukin, padahal sudah belajar ilmu bersyukur seumur hidup tetep aja manusia kadang lupa. Di saat itulah, sebuah pelukan dan percakapan panjang yang baik paling tidak menjadi obat yang menghangatkan.

Masalah itu dihadapin….
Diam itu bukan jalan keluar….

Sebab ada hal yang harus disampaikan, entah itu diterima atau tidak, disanggah atau tidak, tetep harus disampaikan.

Diam hanya baik dilakukan, kalau kita ketelepasan kentut yang gak bunyi di angkot.

Siapa pun dihadapan kita yang salah, wajib dikasih tahu, bukan didiemin. Masalah dia minta maaf dan nyesel kapok gak ngulangin lagi, entah itu mau kita maafin atau nggak, itu urusan belakangan.

Seperti kata mas Boy Candra bilang “Setiap kali kamu membela hal-hal yang salah. Coba tanya dirimu, kenapa kamu bisa hidup tapi tidak bisa berpikir?”

Iya. Setiap manusia itu ladangnya salah, jadi hal paling wajar adalah sebuah teguran baik yang mengingatkan mengenai kesalahan yang memang tidak mampu untuk dikendalikan. Biar paham, biar ngerti, biar sama-sama tahu, supaya gak salah jalur.

Umur yang lebih tua kan tidak menjadi tolak ukur punya pemikiran yang lebih matang. Cinta yang dewasa memiliki pemikiran yang jauh ke depan, memikirkan banyak kepala atas dampak apa yang akan, sedang, kita lakukan.

Bersatunya dua insan kalau hanya sekedar untuk menemani hari-hari biar adem dan terhindar dari suntuk doank dan sama sekali gak mau belajar saling memahami lebih baik gak usah nikah, pacaran aja sama pohon beringin. Mau nyari yang anget-anget? Nikahin aja segelas bandrek di puncak.

Karena jika mau ngelakuin hal yang salah berkali-kali, pohon beringin sama gelas bandrek gak bakalan marah.

Gambar terkait

Barusan inti dari percakapan adik gue Sisil yang lagi curhat-curhatan sama temennya di teras, rada ketangkep dan berisik di telinga saat gue balik kerja waktu standar motor di halaman depan dan agak lama benerin ban. Curhatan cewek edisi jaman sekarang itu bukan lagi bisik-bisik, tapi kedengeran satu RW. Lebih lantang dan berapi-api. Curhatnya gak jauh-jauh dari pacarnya yang ketauan selingkuh sama mbak-mbak berkelakuan buah Jamblang.

Gue punya adik cewek dan kehidupan kita itu udah kaya sinetron Lupus sama Lulu. Bedanya mami lupus single parent, sedangkan kalau emak babeh gue masih lengkap. Gue tipikal kakak yang amat sangat protektif sama adik gue sendiri. Karena jujur, adik gue ini cakepnya parah, lu bisa bayangin karakter dan wajahnya 11-12 sama Pevita Pearce, jangankan ada cowok brengsek yang mau nyolek, ngajak kenalan aja… gue plototin.

Cuma yang bikin kesel, selera adik gue ini payah. Lebih seneng cowok yang badannya kaya capung nge-gym dengan muka pas-pasan kaya duit di dompet gue. Mending kalau setia, lah berkali-kali diselingkuhin diem aja. Geregetan, sempet gue pengen tampol muka pacarnya, cuma pas ketemu kasian juga, kalau gue bikin babak belur mukanya, nanti gimana bentuknya. Gak dipukul aja mukanya berbentuk jajaran genjang dengan hidung yang berbentuk tabung.

-___-!!???

Wanita itu pada dasarnya pemilik ocehan paling panjang, itu sebabnya gak ada satu pun yang gue timpali dari percakapan mereka. Gue hanya berjalan cool di depan dengan mengucap salam pelan, kemudian masuk ke kamar yang dipenuhi dengan buku musik dan beberapa gitar, memang tak semua berfungsi sempurna, lebih banyak gitar dengan senar yang putus. Potret remaja dengan segala aktifitas terpampang di dinding menutupi rambut-rambut dinding yang retak, sebagian tidak memakai pigura, hanya gue tempel biasa pake selotip bening. Radio, speaker aktif, dan tv 14 inchi lama dengan tabung lebar menghias isi kamar sebagai harta peninggalan sejarah dalam hidup gue dari kecil.

Hasil gambar untuk musik

Bisikan dari baling-baling kipas angin berduet dengan alunan musik, malam ini gue sengaja dengerin suaranya Hanin Dhiya yang meng-cover lagunya Agnes berjudul Sebuah Rasa. Gue puter-puter ulang sambil makan sate Padang yang gue beli di jalan sewaktu pulang. Lagu ini sukses bikin gue galau tingkat kesurupan. Jadi gak bisa tidur cuma buat ngeliat langit-langit kamar yang hampir sebagian mau rubuh. Lagi asik menikmati rasa galau malah kepencet lagu Kids Jaman Now-nya Ecko Show. Gagal galau, gue malah ngakak. Bangke!!!!!

Sejenak gue malah mikir mengenai percakapan curhatan adik gue dan temannya, ada dua pelajaran penting di situ. Bahwa setiap manusia pada dasarnya egois dan mau menang sendiri, ingin didengar, diperhatikan, dan jika ditegur akan kesalahan yang sudah terlanjur dibuat, kita pasti sibuk melakukan pembelaan, melupakan rasa bersalah kemarin, hanya karena tidak ingin merasakan kesepian dan menghilangkan rasa bosan secara instant. Sesempurna apa pun hidup lo, tetep aja akan menemukan celah untuk diisi dengan perasaan kurang. Makanya banyak manusia yang punya pacar cakep tetep selingkuh.

Pelajaran kedua, kita selalu dihadapkan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak kita inginkan, namun pura-pura untuk tidak mengetahui dan menyadarinya. Sehingga kita sering terjebak dalam satu lingkaran yang membuat kita berjalan namun tidak pernah sampai kemana-mana. Sibuk memutari tempat yang sama. Kita kerapkali takut merasakan sedih yang berkepanjangan, padahal setiap kehilangan sesuatu mau tidak mau kita akan melalui proses itu. Hanya saja, pilihan waktu apakah cepat dan lambat tergantung pada diri kita sendiri.

Dan gue rasa, gue termasuk ke dalam manusia yang berada dalam sebuah lingkaran itu sekarang. Menginginkan hal-hal di hari yang kemarin, padahal jawabannya gue tahu bahwa akan lebih besar kemungkinan gue akan berputar-putar di tempat yang sama tanpa perkembangan yang berarti.

Tapi ada sebuah keyakinan dalam hidup gue mengenai. Manusia tidak diciptakan untuk mudah menyerah. Sebab kita punya banyak pilihan. Sampai suatu saat ada tamparan keras dari suatu peristiwa untuk benar-benar yakin kapan berhenti, dari sesuatu yang membuat gue tidak bahagia. Kalau belum dicoba kesempatan kedua, mana gue tahu bahagia apa nggak?

Gue tipikal yang gak mau dengerin perkataan orang, doktrin seseorang, gue pengen ngelakuin hidup karena sebenarnya ya emang gue sendiri yang memilih jalan kehidupan gue.

Termasuk, balikan sama mantan. Menurut gue sah-sah aja, selama gue belum nikah dan dia belum punya pasangan.
.
.
.

Bersambung…

02 comments

2 Comments

linda

Reply

Indeed…
Penasaran dari kemaren pengen baca
Alhamdulilllah semoet jg skrg
& malah smakin penasaran
Lanjutkaaan..!

Dessy Achieriny

Reply

Kelanjutannya mungkin rada lama… Belum sempet2 nulis dari kemarin lanjutannya.

Leave a Reply