Wisata Pulau Pari

4
Shares
Travelling,

Wisata Pulau Pari

*Klik untuk melihat video rekam jejak di channel youtube saya, jangan lupa subcribe, like n comment ya…

Foto2 di bawah ini saya ambil ketika berada di Pulau Pari. 2 hari 1 malam berada di sana mampu membuat saya benar-benar menikmati hidup yang tak hanya dapur, kamar, dan ruang tamu.

Paket tour Pulau Pari dengan merogoh kocek 360 rb/orang ini, sudah termasuk makan 3x, penginapan ber-AC dengan beberapa kamar serta ruang keluarga yang juga dilengkapi AC dan 2 kamar mandi. Tentunya dengan harga segitu sudah include tiket kapal PP dari pelabuhan muara angke, welcome drink, barbeque (ikan bakar, jagung bakar, roti bakar), snorkeling, sepeda untuk berkeliling ke beberapa wisata lainnya yaitu Pantai Bintang, Pantai Perawan, Bukit Matahari, Pantai kresek, Dermaga Bukit Matahari plus foto underwater ketika snorkling.

Gaung Pulau Pari memang tidak se-eksis Pulau Tidung, padahal menurut saya pribadi Virgin Island di Pulau Pari memiliki pemandangan yang juara kerennya. Jika bosan berenang, kalian bisa menjelajah untuk melakukan wisata hutan mangrove yaitu dengan berkeliling menggunakan sampan nelayan yang disewakan dengan hitungan 15 rb/orang. Ada banyak juga kegiatan yang bisa kita lakukan di sana seperti menanam pohon mangrove untuk belajar mencintai alam.

Setiap tempat yang kita kunjungi, pasti akan belajar untuk mengenal seseorang, belajar bersyukur mengenai alam, belajar menghormati kebiasaan masyarakat setempat, adat, dan kearifan lokalnya. Tour guide yang kerapkali menemani kami di sana adalah pak Furqon, ia bercerita banyak mengenai Pulau Pari, kita mendengarkan ia bercerita dengan alunan petikan gitar untuk menambah keakraban.

“Nanti, kalau berenang di pantai perawan jangan jauh-jauh ya, jangan sampai ke tanaman mangrove yang baru tumbuh. Biasanya suka ada ikan Kerapu Batu. Kalau sudah digigit ikan itu sakitnya luar biasa, otot kita kaya ditarik, daging terasa terbakar, demam dan nyeri sekali.” Itulah awal nasihat pak Furqon yang akhirnya memulai percakapan kami. Rupanya pak Furqon sudah 2 kali semasa hidupnya digigit ikan kerapu batu, sehingga ia mampu menjelaskan secara detile bagaimana rasa sakitnya ketika digigit.

“Pak, menurut bapak yang sudah sejak lahir tinggal di Pulau. Bagusan mana Pulau tidung, Pulau Pari, sama Pulau Harapan.?” ujar saya mempertanyakan hal yang ingin saya tanyakan sejak awal saya kedatangan.

“Bagus atau tidaknya, relatif menurut kacamata setiap orang, tapi ketika pak Jokowi kemarin ke sini, dia mengakui bahwa pulau Pari paling bagus diantara pulau yang disebutkan tadi. Apalagi sekarang Pulau Tidung ramai wisatawan, jadi dalam segi nyaman dari kebisingan akan lebih enak di sini. Kalau sudah mulai Tahun baru, di Tidung kadang mau jalan saja susah, saking banyak orang karena terlalu ramai wisatawan.” ujar Pak Furqon.

“Mungkin karena Pulau Pari kurang di-eksplore seperti Pulau Tidung ya pak? Jika wisatawan sudah banyak yang tahu mengenai keindahan pantai perawannya, saya yakin wisatawan di Pulau pari akan lebih banyak dari Pulau Tidung. Namun dengan banyaknya wisatawan, tentu akan memberikan banyak berkah bagi penduduk lokal ya, pak.” Pak Furqon mengangguk dan tersenyum lalu meneruskan ceritanya mengenai pengalaman ia sebagai nelayan.


Waktu dalam hidup saya, selalu dihabiskan banyak sekali di rumah. Moment jalan-jalan seperti ini bukan sebuah kebahagiaan kecil bagi isi kepala saya ketika menjawab banyak hal, tapi banyak.

Sederet doa-doa yang tak perlu saya sebutkan terucap hanya karena sebuah perjalanan

Sebagai orang tua sudah pasti semakin lama umur semakin berkurang, anak-anak pun semakin dewasa. Percakapan panjang membuat kami berdua memutuskan untuk melakukan banyak rencana ke depan untuk mengumpulkan interaksi, beraktifitas di luar — Bersama keluarga yang sudah seharusnya menjadi prioritas utama.

Perjalanan adalah hadiah dari kami untuk anak-anak, karena sebuah kenangan baik tentunya akan dipetik dari ingatan dan cerita mereka, ketika mereka kecil — Hingga besar. Dengan perjalanan baik dan menyenangkan, mereka akan merekam semuanya — Di kepala, hati, dan jiwa mereka.

 


Di luar sana, banyak orang yang justru ketika muda lebih nyaman menghabiskan waktunya bersama teman-teman sekantor dan keluarga terabaikan. Patutkah menghabiskan waktu bersama orang yang hanya berada di sisi kita dengan keterbatasan dalam jangka waktu yang sementara? Lalu kenapa kita tidak merubah mindset, untuk lebih mengumpulkan cerita kebersamaan sejak muda dengan orang yang akan menemani kita sampai tua?

Semoga kita, terutama saya, selalu mampu belajar untuk menjadi seseorang yang menghargai sebuah perjuangan dan pengorbanan, dari apa-apa yang sudah diberikan oleh orang-orang yang paling dekat dari titik nol kita memulai.

Sebab dari merekalah; kebaikan, keberuntungan, kesuksesan — Semua bermulai.

.

.

.

#GramediaHolidaySeason

Meng-apresiasi diri dengan cara liburan memang hal asik.
Tulisan ini diikutkan dalam event Gramedia Blog Competition

dessyachieriny@yahoo.com

0no comment

Leave a Reply