Maah… Curhat Dooong Maah…

 

Foto Dessy Achieriny.

Ada inbox masuk begini, ikutan sedih bacanya, curhatan-curhatan seperti ini membuat saya beribu-ribu kali berpikir. Padahal saya bukan Mamah Dedeh dan A,a yang sedang bikin acara “Curhat doooong mah” namun entah kenapa banyak orang yang menanyakan hal ini. Beberapa hal yang saya syukuri, setidaknya saya bisa mendapatkan pembelajaran, ikut menggali dari pengalaman banyak orang, karena pepatah lama bilang bahwa guru terbaik adalah pengalaman, lalu tugas kita adalah memetik hal baik dari pengalaman itu sendiri. Baik yang kita punya, maupun pengalaman pahit orang lain.

Sejujurnya kerapkali saya selalu mengatakan di beberapa postingan terdahulu, bahwa kehidupan adalah sebuah pilihan. Saya sama sekali tidak berhak memilihkan satu pilihan di dalam kehidupan orang lain. Karena yang paling berhak untuk memilih adalah kalian sendiri. Pilihan paling baik adalah pilihan yang diambil tidak sedang dalam keadaan emosi. Namun, jika ada sebuah pertanyaan seperti demikian ditujukan kepada saya, bukan berarti saya sedang memilihkan sebuah pilihan, saya hanya memberikan pendapat ketika saya kelak berada dalam posisi yang sama, dan itu adalah pendapat untuk pilihan saya sendiri, sebab kehidupan mbak dan saya tentu perjalanannya tidak akan sama.

Gambar terkait

Sebelum bicara lebih jauh, coba sejenak kita semua bayangkan. Jika malam tiba, sepulang kerja ketika suami lelah. Di rumah ia tak sendirian, ada istri yang menemani, ada suami yang merasa ditemani, ada masakan paling hangat di meja makan yang sederhana buatan tangan sendiri, ada senyum paling tulus karena waktu menunggu seharian adalah bagian dari rindu yang diucap dilan seberat itu, seperti wajah senyum milik saya ini, tentu kamu yang paling berhak mendapatkannya lebih banyak dibandingkan orang lain, setiap istri pasti akan berpikir bahwa kelelahanmu di kantor akan terbayar dengan tawa manis anak kecil yang menanyakan, papi kapan pulang? Kau akan merasa ditunggu, sebab orang rumah memang kerapkali menunggu. Kebiasaan yang mungkin terdengar membosankan namun mengasikkan — Seindah itu. Bayangkan jika sama sekali tidak ada lagi orang di rumah yang menunggu. Walau milyaran orang ada di luar sana, tetap saja hidup akan terasa kosong. Jangan sampai para suami di luar sana menyesal karena merasakan kekosongan itu hanya karena cinta semu sesaat.

Namun, kesalahan manusia selalu berpikir mengenai kekurangan, lalu mencoba membandingkan. Tidak hanya pria, wanita pun sama. Dapet jodoh yang gemuk nyari yang langsing, dapat yang langsing nyari yang gemuk, dapat yang putih nyari yang hitam, dapat yang hitam nyari yang putih, dapet yang gadis nyari yang janda, dapet yang janda nyari yang gadis. Begitu terus sampai kiamat, gak abis-abis. Mari kita saling berbenah diri, baik dari pihak suami maupun dari pihak istri. Makna hidup kita seolah hanya sebatas ego, sibuk mencari hanya untuk sekedar memenuhi nafsu kemauan, jika kita selalu berpikiran tidak merasa cukup, maka selamanya tidak akan merasa cukup, jika kita enggan untuk saling memperbaiki diri, maka selamanya kondisinya akan sama. Tidak berubah menjadi lebih baik. Waktu memang gak bisa bicara, tapi hidup digariskan sudah menyimpan banyak jawaban, yang akan kita temukan jika kita menjalaninya, hati sendiri yang paling tahu pilihan apa yang tepat untuk kita ambil tanpa menyertakan ego.

Jika mbak bertanya, apa yang harus mbak lakukan jika suami mbak selingkuh dengan orang lain, sedangkan mbak memiliki anak-anak yang entah harus berbuat bagaimana ke depannya?

Jika saya menjadi mbak di posisi yang demikian. Saya akan merasa bahwa kehidupan seolah membalikkan kebahagiaan saya 360 derajat. Apalagi jika kita menitipkan kepercayaan di tangannya hampir seluruhnya. Sedih, kecewa, marah tentunya. Jauh sebelum mbak bertanya, topik pelakor dari jaman dulu sudah ada, saya pun berkali-kali mengomentari itu, hingga saya pernah masuk ke dalam sebuah perbincangan dengan mengusung topik ini ketika saya hanya berdua saja dengan suami, dia nonton Tv, saya tak sengaja memutar video YouTube artis pelakor yang dilabrak sama anak dari istri yang direbut suaminya. Saya rebahkan kepala saya di dadanya, kemudian bilang; “Jika suatu saat kamu mencintai seseorang dan seseorang itu bukan lagi saya. Lebih baik kamu jujur, saya tidak ingin menjadi orang yang pertama kali tahu justru ketika saya yang mencoba mencari tahu, tapi ingin menjadi orang yang pertama tahu dari sebuah kejujuran yang tentunya harus kamu pertanggung jawabkan sendiri jika kamu benar-benar memang mencintai orang lain. Saya punya hak untuk mempertanyakan kenapa, tapi tentu resikonya kamu pun tahu, bahwa dari dulu saya punya komitmen hanya ingin menjadi satu-satunya wanita yang kamu cintai dan meminta kamu setia dalam keluarga kecil kita, maka saya akan memberikan kehidupan baik yang saya punya. Tapi setidaknya dengan kamu jujur, kita akan sama-sama belajar memperbaiki diri lebih dulu, karena gak mungkin saya menyerah begitu saja dan segampang itu meletakkan kehidupan dari belasan tahun perjalanan hidup yang saya punya, melakukan perjalanan panjang yang saya berikan untuk kamu, padanya. Tidak sebanding rasanya dengan ia yang tiba-tiba saja datang di kehidupan kita. Selama ini saya berusaha yang terbaik untuk kamu, agar tidak memberikan celah untuk orang lain masuk diantara kita. Jika nanti kondisi kita yang telah berusaha itu, ternyata tidak bisa menemukan titik temu untuk saling memperbaiki apa yang kurang dari masing-masing kita, baru pilihan terakhir harus saya pilih, maka lebih baik kita berpisah daripada hanya untuk saling menyakiti, karena kita bertemu dengan cara yang baik, maka kita berpisah dengan cara yang juga baik. Sehingga kita dapat melanjutkan kehidupan dengan pilihan masing-masing, dengan pasangan baru masing-masing, pasangan yang menurut kita sama-sama baik, tanpa ada lagi rasa cemburu. Bukan menutupi hal yang seharusnya tak pantas untuk kamu sembunyikan.”

Saat itu ia hanya diam, tidak memberikan sebuah jawaban dan kita berdua terus menonton TV kembali, lalu berbincang dan bercanda dengan topik baru yang lain. Memang saat itu, saya juga tak ingin meminta sebuah jawaban, saya hanya ingin dimengerti… tentang apa yang saya pikirkan, tentang kegelisahan apa yang sedang saya takutkan, agar ia dapat lebih paham mengenai saya. Niatnya hanya itu. Sebab tidak ada yang dapat merubah cinta saya terhadapnya kecuali peran Tuhan dan saya sendiri. Komunikasi adalah hal paling penting untuk dapat belajar saling memahami hati masing-masing, itu sebabnya saya membuka percakapan demikian.

Mbak…. rasa kecewa jangan pernah membuat kita menjadi jahat. Setiap hal baik yang kita lakukan semua akan berbalik. Berbuat baik saja terus… karena hanya orang bodoh yang mau menukar seseorang yang baik dengan seseorang yang berkelakuan buruk. Jangan gampang memutuskan kata cerai, lebih baik pisah sementara untuk saling introspeksi diri, karena biasanya manusia jika sudah merasa kehilangan baru merasa saling membutuhkan. Dia baru mengerti peran kita di rumah ternyata seberapa besar. Jika ia masih mencintai mbak, dia pasti sadar, bahwa siapa yang sebenarnya patut untuk ia pertahankan dan mana yang harus ia tinggalkan. Jika ia benar-benar menyesal, ia akan meminta maaf sebanyak yang ia bisa dan akan berbalik mencintai mbak kembali, bahkan dengan porsi yang lebih besar. Namun, jika sama sekali ia sudah tidak perduli sedangkan kita sudah berusaha menjadi wanita sebaik yang kita bisa, bahkan diulangi berkali-kali hingga tidak membuatnya jera, kalau pilihan hidup saya, saya lebih baik melepaskannya, memilih hidup sendiri bersama anak-anak. Cara melepaskan bagi saya bukan tanpa alasan, setidaknya saya telah mencoba berusaha memaafkan tapi rupanya maaf saya diabaikan, saya tidak pernah takut mengenai rejeki kehidupan, karena jika masalah datang kepada saya, saya selalu menanamkan dalam pikiran saya, berawal dari nol dan kembali ke nol. Lalu jalani prosesnya kembali, untuk bisa tahu warna-warni apa yang ada di depan.

Buat saya komitmen kepercayaan itu penting, jika sudah hilang kepercayaan saya, maka tidak ada yang dapat lagi saya jadikan panutan. Sebelum kita belajar mencintai orang lain, setidaknya kita juga harus belajar mencintai diri sendiri kan? Untuk apa mencintai orang lain yang dalam hatinya sama sekali tidak memperdulikan usaha besar dan pengorbanan yang saya lakukan.

Saya tidak ingin menyalahkan dari satu sisi, wanita pelakor dan suami mbak, sama-sama salah. Karena tidak mungkin mereka berdua bisa bertepuk tangan hanya dengan menggunakan satu tangan.

Semoga kita sama-sama menjadi orang, yang dapat memaknai kehidupan menjadi lebih baik sehingga Tuhan sendiri yang menuntun dan menghantarkan kita untuk memilih pilihan hidup yang baik menurut-Nya untuk kita ke depan. Jadikanlah kisah lalu menjadi pelajaran untuk siapa pun.

Salam sayang dari saya, semoga mbak selalu diberikan banyak keberkahan, kebahagiaan, dan semua hal-hal baik ke depan yang masih disembunyikan Tuhan.

 

[email protected]

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer