Rindu Itu Tidak Berat Dilan

6
Shares
Puisi,

Rindu Itu Tidak Berat Dilan

Jika Dilan bilang rindu itu berat, mungkin Dilan sedang membawa satu sampai dua ton kata-kata yang disembunyikan dari pikiran-pikirannya yang tertunda.

Ah, seandainya kata-kata tak pernah disembunyikan, maka ia akan menguar dalam sebuah tulisan diantara daun-daun jendela yang terbuka bersamaan dengan masuknya udara dan kumandang suara adzan Isya.

Lalu kita memandang langit yang sama, di planet yang sama, bulan yang sama, setelah kemarin memperlihatkan keindahan kuasa-nya dalam surat kabar dan sosial media, “Super Blue Blood Moon”

Kata rindu yang terbuka itu, akan merubah dirinya sendiri dengan ucapan selamat malam ditemani secangkir kopi terenak yang saya minum malam ini, karena kemarin Tuhan menyuruh saya libur dari aroma kopi hampir seminggu dikarenakan asam lambung yang naik diiringi kebahagiaan lebih, semisal laptop yang sudah diperbaiki.

Selamat malam milikku dan semalam malam milikmu, entah itu aku yang mengucapkan, kamu yang mendengarkan, atau aku yang mendengarkan, kamu yang mengucapkan. Begitu, bergantian.

Hingga suatu waktu di titik yang entah…
Kita akan tenggelam, jatuh seringan-ringannya, hanyut sedalam-dalamnya, di tubuh kita yang masing-masing telah menjadi laut.

Rindu itu tidak berat Dilan…
Rindu itu manis…
Makanya saya tulis…..

0no comment

Leave a Reply