Menyingkapi UN

Tiap tahun masalah mengenai UN pasti ada pro dan kontra. Kesannya UN itu nakutin banget. Bahkan sempet jadi perbincangan dimana-mana. Komen nyinyir dateng beragam; ah… yang bikin soal aja belum tentu bisa ngerjain, kemudian pada nantangin, UN itu penentu kelulusan… terus kita belajar bertahun-tahun untuk apa? Kemudian ada yang segala minta UN dihapus. Komentar beragam itu sendiri, positifnya tentu memicu banyak pihak untuk berbenah.

Sistem sekarang UN justru bukan menjadi penentu kelulusan, penentu kelulusan itu dari US. Sejak awal, saya termasuk orang tua yang menjaga anak saya untuk belajar karena SUKA, karena TERBIASA, bukan karena disuruh dan ditakutin bahwa HANYA anak yang pintar yang masa depannya cemerlang, atau mendramatisir anak menjadi jiwa pesimis yang gak perduli anak belajar atau nggak, karena bertebaran kalimat bijak di sosmed mengenai kesuksesan bukan dilihat dari nilai. Kalimatnya benar, tapi tafsiran banyak orang yang kadang salah kaprah.

Belum lagi fenomena emak2 yang suka teriak “Sebentar lagi UN, belajaaar sanah. Gimana mau jadi anak sukses kalau UN aja gak mau belajar. Gak ada takut-takutnya niy bocah.” Saya rasa, yang ada… itu anak udah down duluan sebelum UN. Ditambah setelah melihat hasil nilai UN yang jelek, ada siswa yang bahkan nangis-nangis. Gimana itu anak pada gak stress, lah emaknya tiap hari seolah bertugas jadi provokator yang nakutin anaknya sendiri.

Image result for Ujian Nasional

Kita sebagai orangtua harus pintar mencari solusi. Kenapa dia gak mau belajar? Kenapa akhir-akhir ini nilainya jadi kecil? Setiap anak saya mengikuti try out, saya selalu mencoba mencari tahu hasil seluruh siswa di kelasnya. Bukan untuk membandingkan, tapi melihat data untuk bisa memecahkan masalah atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala saya. Untuk bisa tahu salah kita sebagai orang tua di mana? Itu yang harus di-introspeksi. Bukan justru anak yang dimarahin. Ketika saya perhatikan, setiap anak punya cara belajar yang berbeda. Seperti anak saya yang pertama, dia akan lebih gampang menghapal jika membaca buku sambil dengerin musik. Dia bahkan bisa melahap berbab-bab buku seharian gak keluar kamar cuma modal dengerin lagu. Dia nyaman belajar dengan itu semua. Anak kedua saya beda lagi, dia lebih mudah belajar justru ditempat yang hening dan tidak bising, lebih mudah mengingat pelajaran secara langsung dan virtual. Seperti lewat tutor yang mengajar dia langsung dan melihat pembahasan lewat website pendidikan. Jadi setiap anak memiliki cara belajarnya masing2 yang memudahkan mereka untuk mengingat. Kita sebagai orangtua harus tahu dan paham itu dulu.

UN itu memang tidak menentukan masa depan, tapi setidaknya menentukan ke mana dia akan masuk sekolah dan kuliah selanjutnya. UN itu konsepnya sebagai evaluasi kita belajar di tahun-tahun kemarin. Otak manusia akan berkembang jika kita diberikan tantangan menyelesaikan masalah dalam soal dan bagaimana cara kita menyelesaikan masalah tersebut. Kesannya pelajar Indonesia seolah jadi manja berlebihan, diberikan soal sedikit rumit kemudian kita sibuk berdebat mengenai soal yang dibuat, bukan justru mencari penyelesaian soal tersebut. Hape udah Android, udah banyak pembahasan soal di internet, jangan buat main mobile legends melulu. Giliran jurus game yang susah, pada luar kepala ngelotok hapal semua kodenya. Perlu kalian tahu, Indonesia merupakan peringkat ke 60 dari 65 negara yang disurvei dengan jumlah penduduk paling malas membaca dan netizen nomor satu yang paling nyinyir di dunia maya. Miris ya? Iya.

Jiwa pemilik daya juang belajar yang tinggi, itu titik penting yang kepengen kita cari untuk kedepannya. Katanya ingin menjadi negara yang maju. Negara maju harus mempunyai sumber daya manusia yang memiliki rasa optimisme tinggi.

Saya katakan itu juga terhadap anak saya, jawaban mereka mau tahu apa? “Mami kayaknya lebih cocok jadi kader partai.”

-_____-!!!??? Anak jaman sekarang selain kritis, kalau dibilangin malah orangtua sendiri yang suka dibercandain. 😛

Nilai memang gak pengaruh ke masa depan, kak. Prosesnya dalam menjalani itu yang mami lihat. Ketika anak saya memiliki daya minat belajar yang tinggi, gemar membaca, sedangkan di akhir ternyata hasil nilainya jelek dan gak sesuai yang diharapkan, saya gak akan pernah marah. Saya akan tegur, jika dia gak mau belajar dan gak ada sama sekali punya keinginan untuk baca buku. Cara menegur yang baik, tanpa harus nakut-nakutin anak. Kesuksesan memang tidak dilihat dari nilai, tapi nilai akan menentukan kualitas dan sekolah tempat kamu nanti nuntut ilmu dan menunjang di mana kamu kuliah. Kepengen gak punya sekolah yang bagus? Memang sih, berapa banyak temen mami sama papi yang justru mereka dulunya tidak termasuk anak yang pintar tapi lebih berhasil. Kenapa? Karena dulu, lingkungan sekolah membutuhkan siswa berprestasi dengan nilai yang bagus, tapi lingkungan pekerjaan membutuhkan orang-orang yang memiliki lingkar pertemanan yang banyak, memiliki keterampilan, mudah bergaul, gampang bersosialisasi, asik, cekatan, gak baperan, jujur, amanah, rajin. Itu yang penting. Ketika kamu berdiri di suatu tempat, kita harus menyesuaikan dengan lingkungan, lalu menyerap hal positif di dalamnya. Kamu mau sepinter apa pun juga, kalau angkuh dan sombong, gak akan maju, yang ada orang malah enek lihatnya. Pintar otak juga harus sinkron dengan tingkah laku melihat situasi, kondisi, lingkungan. Semua harus seimbang. Miring di satu sisinya, gak akan bisa maju-maju.

Image result for Ujian Nasional
image by https://idseducation.com

Setidaknya, belajarlah untuk mendapatkan nilai bagus adalah usaha kita untuk memudahkan mencapai suatu kesuksesan. Walaupun memang kesuksesan tidak sepenuhnya dilihat dari sebuah nilai. Sukses merupakan bagian dari nasib, nasib bisa kita rubah kalau ada usaha. Kan begitu. Bukan malah ditakut-takutin atau malah disuruh gak usah belajar.

Pemerintah juga kudu berbenah, tenaga pendidik juga perlu berbenah, berapa banyak soal UN kemarin yang jawabannya juga ambigu. Nomor sekian jawabannya bisa A, bisa B atau bahkan ada soal yang gak ada jawabannya. UNBK di beberapa daerah server kemendikbud segala pake error, kebocoran soal dll.

-___-!!??

Dulu anak pertama saya waktu SD selalu dapat peringkat 1 dan 2 di kelas. Kenyataannya, dia gak dapat sekolah negeri favorit, padahal Nemnya lumayan, MTK 100, IPA 95, nilainya kecil di Bahasa Indonesia dapet 70 waktu itu. Jadi total nilai Nemnya 265, sedangkan temennya, bahkan yang perkalian aja gak hafal, nemnya tinggi 28 dan 29. Belum lagi jika bertemu ibu-ibu yang suka nyinyir, yah percuma dong anaknya pinter tapi gak dapet sekolah favorit. Anak si A dan si B aja masuk Sekolah favorit loh dan bla-bla-bla beserta kalimat-kalimat nyinyir lainnya. Di luar itu semua, saya gak perduli kata orang, saya tetap bangga sama anak saya, walau gak dapet sekolah favorit. Percaya deh, anak pintar gak akan ketuker, di mana pun mereka sekolah, jiwa yang memiliki daya belajar yang tinggi pasti tetap akan berprestasi. Dan itu, terbukti sekarang. Sedangkan jika kalian memiliki anak yang selalu mendapat nilai tidak begitu bagus, katakan hal positif juga padanya, bahwa keberhasilan dan kesuksesan, tidak hanya berkutat pada ANGKA, tetapi kita harus tetap belajar, untuk tahu bagaimana menikmati prosesnya, untuk mengerti bahwa setiap kesuksesan dibutuhkan perjuangan untuk mencapai itu semua.

 

Dessyachieriny@yahoo.com

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer