Aku Seperti Manusia Lain Kebanyakan

Namaku Dessy. Aku seperti manusia lain kebanyakan, seperti istri-istri lain di bumi yang terkadang membutuhkan drama agar bisa diperhatikan lebih banyak. Bukan kurang perhatian, jangan salah faham. Ini beda, wanita memang suka bertingkah yang rada nyebelin supaya terlihat, memiliki kelakuan yang lebih manja. Karena sejujurnya kita suka dimanjakan berlebihan, seperti anak kucing yang seringkali minta dielus-elus tiap waktu. Wanita kebanyakan memiliki tabiat itu. Termasuk aku.

Tidak ada yang spesial dariku, kehidupan selalu berjalan biasa-biasa saja. Aku memiliki 2 orang anak yang baik, penurut, dan menyenangkan.

Aku menyukai kehidupanku yang biasa-biasa saja ini, dengan segala hal yang aku lakukan begitu-begitu lagi, terus melakukan hal yang sama, berulang-ulang. Mungkin kalian merasa bosan, tapi aku tidak, aku bahagia. Aku bebas melakukan hal yang aku suka, termasuk bangun siang jika anak-anak sedang libur sekolah.

Aktifitas harian ya begini; bangun tidur, menyiapkan sarapan, masak, berbenah, nyapu, ngepel, mainan hape, nyuci, nyetrika, mainan hape, tidur siang, bangun tidur, mainan hape. Suami pulang, hape disimpan, kita bicara. Bicara selesai, gak ada topik, dia mainan hape, aku ikutan lagi. Kemudian kita sama-sama mainan hape.

Sesekali kita sempat bicara, kali ini kita nyanyi bareng, sayang. Ambil gitar supaya memiliki quality time yang baik sama-sama, tanpa hape.

5 menit berselang. Kita puas bernyanyi berdua, minum teh hangat diseling lupa lirik karena isi otak yang menua. Akhirnya megang hape lagi, itu pun terpaksa, karena ingin nge-search lirik lagu-lagu lama dari google.

Ngobrol sama anak-anak ponsel aku matikan sementara. Mereka nanya PR, aku terkadang tidak tahu jawabannya, akhirnya terpaksa buka hp….lagi.

Iya, hape seolah jadi kebutuhan. Apalagi buat jualan. Tidak ada yang buruk dari ponsel sebenarnya, jika kita dapat menggunakannya dengan bijak.

Oh iya, di rumah aku tidak memiliki kucing, tapi kucing liar berwarna abu-abu monyet itu seringkali bertandang ke rumah hanya untuk mendapatkan tulang miliknya yang memang kusiapkan jika ia tidak nakal dan tidak mengambil sendiri lauk secara diam-diam.

Aku bukan wanita baik, kurasa begitu. Karena sesekali pernah menyentil kuping kucing jika ia berguling-guling di karpet ruang tamu, sebab anakku yang pertama alergi bulu kucing, itulah mengapa aku berlaku demikian.

Aku sama seperti manusia lain kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sendiri, tadinya. Aku memiliki kekuatan. Aku bisa menghilang. Mantan kalian pasti juga memiliki kekuatan itu, aku rasa.

Jadi jangan sekali-kali membuat aku kesal, karena jika aku marah. Maka aku akan MENGHILANG dan muncul kembali di depan kulkas ice cream Indomaret.

Aku pikir, hanya aku saja yang memiliki kekuatan menghilang. Ternyata kamu juga bisa, ketika malam hari, kamu sering menghilang dan muncul-muncul di dalam selimut.

Pernikahan itu aku rasa seperti dunia persilatan. Kita selalu belajar jurus yang baru.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer