Kisah Inspiratif Sederhana Dapat Ditemukan di Mana Saja

Sudah lama kota ini tidak diguyur hujan, hawa dingin menjalar sejak subuh tadi hingga sekarang. Debu jalanan kota Bekasi di aspal yang bergajulan tidak lagi seganas hari-hari sebelumnya. Gerimis mengetuk-ngetuk kaca mobil sejak berangkat hingga pulang ambil raport anak kedua.

Sejak TK dulu, nilai raport anak-anak Alhamdulillah selalu bagus, kecuali di pelajaran olahraga dan B. Sunda yang terpampang nilai biasa-biasa saja. Ada banyak kabar baik bulan ini, tapi kami sepakat untuk disimpan sendiri. Kami tidak menetapkan mereka untuk memiliki nilai sempurna, karena setiap anak bagi kami selalu istimewa, apa pun hasilnya, bagaimanapun perjuangannya. Bagi saya sebagai orang tua, menjadi anak penurut saja, sudah cukup membuat kami begitu bahagia.

Saya memiliki 2 orang anak yang mempunyai banyak cerita setiap hari, bahkan ada beberapa cerita yang selalu ia ulang-ulang hingga jalan ceritanya bahkan bisa saya hafal di kepala.

Termasuk cerita yang hendak saya tulis di bawah ini, cerita mengenai ketertarikannya mengenal banyak teman dalam pelatihan Olimpiade Biologi di P4TK daerah Parung – Bogor waktu itu. Mungkin, itulah kesempatan pertama kali, anak sulung manja dan penakut ini harus jauh dari kami, karena peserta olimpiade yang lolos di tingkat kota, diwajibkan menginap 1 minggu di wisma P4TK tempat para peserta diklat dari berbagai penjuru kota menginap untuk persiapan olimpiade tingkat provinsi kala itu. Dan ia beruntung bisa menjadi salah satu siswi yang terpilih untuk mewakili kota kami, Bekasi. Besar harapannya ketika itu untuk dapat melaju lolos ke tahap berikutnya untuk dapat mewakili Olimpiade Biologi tingkat Nasional.

Banyak pengalaman hidup yang ia dapatkan, begitu awal mula cerita yang ia bagi, kepada saya. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik, bahkan ikut terhanyut karena ceritanya, saya rasa juga menarik. Ia mengenal bermacam orang dari berbagai suku, bermacam karakter, serta kepandaian mereka yang diatas rata-rata.

“Rupanya mi, kita tidak boleh meremehkan orang lain, atau hanya melihat pada satu sisi saja. Di sana, ada anak yang aku pikir, ia seorang yang pemalas, dengan kebiasaan buruk setiap diklat hanya tidur di jam-jam pelajaran sudah dimulai. Ternyata ketika ujian, nilainya paling tinggi. Mungkin, aku rasa, dia hanya bosan karena materinya sudah ia hafal luar kepala.” Begitu ujarnya dengan nada dan intonasi yang sedikit cepat.

“Oh iya, yang lebih menarik, aku berkenalan sama anak dari Kalimantan, Sumatera, Ternate, Riau, dan masih banyak lagi. Peserta dari daerah justru luar biasa mi, dilihat dari tekad dan dari segi mencari ilmu, kesopanan, adab dan tingkah laku. Mereka justru memiliki daya juang belajar yang tinggi, padahal kenyataannya banyak buku-buku bagus yang sudah aku baca dan bahkan hampir tamat, mereka sama sekali belum punya. Ada yang beberapa, bahkan internet saja belum masuk.” Ia kembali menceritakan hal-hal lain.

Hanya berbekal tekad Man Jadda Wajadda. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

“Setelah mendengar kisah mereka, aku secara otomatis mendapatkan suntikan energi positif dosis tinggi, mi. Cerita mereka mampu membakar semangat aku sama temen-temen lain di satu kota untuk bisa jadi anak yang berguna bagi nusa bangsa dan ingin jadi salah satu yang bisa banggain negara sendiri.”

Rupanya kisah-kisah inspiratif sesederhana apa pun bisa mendongkrak kekuatan lain yang bersembunyi di dalam hati kecil kita. Menjadi penyemangat, menjadi penggerak.

Sampai di sini…

Lalu saya pun teringat kata-kata manis dari Imam Syafi’i.

“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan, jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.”

Semoga anak-anak kita kelak, mampu meraih cita-cita setinggi langit. Sukses di dunia dan Akhirat.
Inget, jangan mainan Tik-Tok!!!

-_____-!!??

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer