Ada Kehangatan Indonesia Dibalik Seragam Baru BCA Bermotif Tenun Ikat

Dari Sepotong kain tenun, kita dapat merasakan kehangatan Indonesia di dalamnya.

Ragam adat dan budaya yang mendarah daging dalam identitas bangsa ini tidak bisa dihitung dengan jari. Salah satu kekayaan budaya kita yang juga bergaung di mancanegara adalah dengan adanya bermacam kain tradisional, sedangkan keragaman budaya lain dapat dilihat dari cara berpakaian. Di masyarakat Jawa misalkan, kita dapat dengan mudah melihat warga masyarakat berpakaian Batik, di lokasi lainnya terutama NTT, kita akan melihat ragam bentuk Kain tenun yang juga dikenakan masyarakat setempat.

Banyak keunikan yang berasal dari kain tenun, tidak hanya kecantikan yang dihasilkan dari kain tenun ikat itu sendiri, namun ada hangatnya adat istiadat, kepercayaan, ada cerita panjang dibalik proses pembuatannya yang penuh dengan kesabaran dan juga ketelatenan serta kearifan lokal yang terus terjaga. Mengintip dari motifnya saja, kau akan mendapatkan berjuta cerita yang memiliki histori di dalamnya. Mungkin, inilah yang kemudian menginspirasi PT. Bank Central Asia, Tbk meluncurkan seragam baru korporasi mereka dengan menggunakan Kain Tenun yang berkolaborasi bersama Fashion Designer Indonesia, Didiet Maulana. Tentu kelak diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kemajuan Tenun di Indonesia, serta membangun kesadaran bagi masyarakat kita tentang potensi, prospek, dan upaya pelestariannya. Kain tenun tentu bukan saja menjadi nilai budaya, tetapi dapat menjadi nilai ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan kearifan lokalnya.

Dalam pengerjaan seragam baru, BCA dan IKAT Indonesia memberdayakan lebih dari 2500 pengrajin di Desa Troso, Jepara. Total panjang kain tenun yang dibuat mencapai 45.000 meter. Seragam baru korporasi ini sendiri juga akan digunakan oleh sekitar 27.000 karyawan di seluruh Indonesia. “Kenapa kami memilih Troso, sebab Troso merupakan contoh ideal, sebagian besar semua daerahnya adalah berprofesi sebagai penenun. Sehingga Industri Troso sudah siap untuk project besar dan kilat walaupun memang daerah-daerah lain sedang berusaha untuk menuju ke arah sana.” Ujar Didiet Maulana menjelaskan kepada kami.

Beberapa hari lalu, kebetulan saya memang sedang tertarik dengan cerita dibalik Kain Tenun, pikiran saya masuk ke dalam sebuah tulisan yang tumpah dari isi kepala seseorang. Biasa saya memanggilnya dengan sebutan Mas Gapey, salah satu blogger kompasiana berbadan tambun, pemilik senyum khas lebar yang kerapkali menghiasi wajahnya ketika kami kerapkali bertemu pada event sebelumnya, ciri khas lain adalah handuk kecil tipis yang juga selalu menyertai kemana pun ia pergi sebagai penyeka keringat peluhnya di tiap perjalanan. Saya tertarik untuk membaca lebih dalam sebagai cara sederhana mengenal baik kain tenun warisan budaya sendiri. Kaki seolah ikut menjelajah dari sekedar memandang foto-foto dan tulisan singkat miliknya tentang perihal bagaimana ia membahas mengenai kehidupan saat menjejak di sana, beserta proses pembuatan kain tenun dan pewarnaannya. Dengan membaca, saya menjadi ikut mengunyah banyak pengalaman yang ia dapatkan ketika bertandang di Dusun Botang, Desa Munerana, Kecamatan Hewokloang Kabupaten Sikka, NTT.

Rupanya benar, tulisan adalah jendela dunia yang dapat saya lihat sekaligus bisa dirasakan walau tanahnya belum pernah saya tapaki, sebab dalam hati pernah berbisik bahwa kepala ini tidak boleh kenyang untuk berguru, dan membaca adalah mengumpul ilmu. Tuhan menjawab tuntas ketertarikan saya langsung dalam undangan di Menara BCA pada acara Forum Kafe BCA VIII dengan tema “Tenun Ikat, Indonesian Legacy into the Spotlight”.

Dalam acara tersebut selain peluncuran seragam baru BCA yang mengusung warisan budaya tenun ikat, di sana kami diajak mendalami lebih jauh mengenai tenun ikat itu sendiri sekaligus bertemu kawan lama yang sama-sama menjadi salah satu penggiat untuk mengangkat wisata Lampung ketika itu. Bukankah ini menjadi dua hal yang menyenangkan?

 

Hadir sebagai pembicara dalam forum kafe BCA 8 antara lain Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, Direktur BCA Lianawaty Suwono, Direktur BCA Vera Eve Lim, Fashion Desighner dan Founder IKAT Indonesia Didiet Maulana dan pengamat Ekonomi Indsutri Kreatif A. Prasetyantoko di Jakarta pada tanggal 9 Juli 2018.

“Kain Tenun harus perlu diangkat agar warisan budaya tetap ada dalam masyarakat Indonesia, karena jika warisan Indonesia tidak mendapatkan tempat pada negeri sendiri, tentu tenun akan hilang dan diklaim negara lain. Begitu pula kami ingin masyarakat memiliki cara pandang baru untuk memanfaatkan kekayaan tenun ikat Indonesia ini dengan memperkenalkan dan mengenakan seragam baru BCA bermotif tenun ikat tersebut. Mudah-mudahan inisiatif ini akan diikuti oleh institusi atau korporasi lain demi mendukung pelestarian dan pengembangan tenun ikat khas Indonesia” Ucap Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dengan senyum yang terus berkembang sepanjang acara.

“Banyak korporasi lain yang sudah mengangkat Batik menjadi seragam. Saya lihat di sini Tenun lebih jarang diangkat dibanding batik, oleh sebabnya kami ingin memberikan inisiatif tersebut bahwa Indonesia tidak hanya memiliki batik namun banyak kain tradisional lain yang perlu diangkat contohnya Tenun Ikat ini.” Direktur Vera Eve Lim kemudian menimpali.

Adapun kilas balik Bank BCA dalam mengangkat mengenai kearifan lokal tidak hanya pada tenun saja, ada beberapa sepak terjang Bank BCA untuk mengangkat budaya negara sendiri seperti beberapa foto yang dapat kalian lihat dalam lembaran yang terekam dalam lensa.

Kekayaan wastra nusantara dan tenun ikat itu merupakan hasil dari karya kreatif masyarakat yang diwariskan turun temurun dari generasi dan generasi. Karya kreatif tersebut seyogyanya diapresiasi dan dilestarikan melalui berbagai inisiatif sesuai dengan konteks ini, seperti menggunakan motif tenun untuk fashion masa kini. Refleksi dari kegiatan ini setidaknya dapat menjelma menjadi amunisi berharga bagi masyarakat dan generasi muda lain untuk mengubah pikiran kita agar mencintai produk negara sendiri, sehingga berawal dari cerita sederhana dapat mampu memunculkan ide-ide brilian yang segera dapat diaplikasikan dalam kehidupan dapat muncul seketika serta mengubah Indonesia menjadi lebih baik di mata dunia.

 

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer