Merasa Cukup

Baru saja beberapa hari kemarin, saya merasa bahagia ketika tirai jendela kamar disibak, mata tertuju pada kolam ikan yang mulai kembali terlihat kehidupan di dalamnya setelah kemarin sempat dikeringkan oleh Tuan Rambut Perak, Komandan Pleton di rumah. Ada 5 ekor ikan gurame padang dengan warna orange cerah menjadi penghuni baru kolam kami, kelimanya seperti sengaja disorot oleh bias sinar matahari yang masuk malu-malu di pagi hari dan menari-nari kecil dalam riaknya. Ternyata hari ini kolam ikan kembali bocor. 5 ekor ikan gurame padang, mengambang dalam damai. RIP ikan.

Tak lama, saya teringat moment sederhana ketika kami merenovasi halaman belakang rumah sebelum membuat kolam ikan ini.

“Seumur-umur saya kerja dibanyak rumah orang, cuma bapak sama ibu yang rumah tangganya ketawa terus setiap hari. Seperti bukan suami istri, tapi kaya teman. Kehidupannya seperti tidak ada beban. Bercanda-canda terus. Resepnya apa? Saya ngeliatnya saja iri, jadi pengen pulang kampung ketemu istri sama anak saya di rumah. Ini serius saya beneran nanya.” ujar salah satu tukang kami sambil benerin talang air belakang. Hampir 2 minggu ketika ia dan kawannya membetulkan segala hal yang memang perlu dibetulkan.

Dia terus bercerita ini itu panjang sekali, mengenai keluarga di kampung, musim panen manggis dan menyuruh kami bertandang kapan-kapan ke kampungnya di Sukabumi.

Kekasih saya meledeknya dengan nada bercanda “Ceritanya boleh panjang, Mang. Tapi tangannya kalau bisa jalan terus. Biar kerjaan cepat selesai.” Dia tertawa, mengangguk, mengiyakan dan diikuti kata maaf berulangkali. Joke receh barusan, sepertinya dianggap serius dan membuatnya kikuk. Lalu kami sengaja memanggilnya turun untuk menyesap kopi sebentar dan kembali bercerita lebih panjang ditemani gorengan.

Saya tertarik untuk mendengarkan celotehnya lebih lanjut. Karena memang tukang bangunan biasanya tentu dapat mengenal banyak kehidupan rumah tangga orang lain, apalagi jika mereka merenovasi rumah yang membutuhkan waktu yang lama.

“Memangnya kehidupan rumah tangga orang-orang kenapa, Mang? Terlalu serius ya. Kaku, kaya kanebo kering?”

“Iya, rata-rata serius semua. Kaku, kaya gerak-gerik pasukan pengibar bendera di Istana Merdeka. Termasuk saya.” Ujarnya menegaskan dengan diiringi gelak tawa kita berdua.

Saya tidak kalah nyaring tertawa dan mencubit pinggang pria pemilik senyum manis tipis di samping yang kerapkali membuat saya ingin berkembang dan memamah biak.

“Gak juga mang, manis atau tidaknya rumah tangga tergantung bagaimana kita menyembunyikan masalah. Kita berantem juga pernah, Mang. Apalagi dengan karakter dia yang egois, kalau bukan nikah sama saya, mana ada wanita di bumi yang tahan sama kelakuannya.” Saya sengaja meliriknya dan meledek. Rupanya dia tak kalah cepat langsung membalas ucapan saya.

“Nchie kalau bukan nikah sama ka aris, mana ada cowok di bumi yang bisa tahan. Kamu itu pelupa akut. Beli cabe di warung, cabenya dibawa pulang, eh dompet isi uang belanja yang saya kasih sebulan, malah ditinggal. Untung saya orangnya tabah ya, Mang.” Dia melirik saya dengan memasang raut wajah paling puas seumur hidupnya.

Lagi-lagi kami kembali tertawa. Sekarang barengan, sama tukangnya juga. Kami berdua menertawai kelemahan masing-masing, yang lama-lama kami sukai pada akhirnya. Karena sudah terbiasa. Sedangkan tukangnya tertawa lebih geli daripada kami berdua. Entah menertawakan apa.

Tak lama berselang, kami berdua pandang-pandangan. Mungkin isi otak kami juga berpikiran sama. Menganggap bahwa kami berumah tangga kenyataannya biasa-biasa saja. Salah paham, rasa kesal, marah, merasa dibohongi, pasti ada. Mungkin saat itu, memang tidak sedang terlihat saja. Jika hidup kami tidak ada beban sama sekali, dia sungguh salah besar. Kami justru sempat berbicara panjang semalaman memikirkan biaya renovasi rumah yang semakin membengkak, hendak diteruskan menutup plafon, atau dipending lebih dahulu. Sampai akhirnya kami memutuskan, bahwa urusan plafon sepertinya nanti saja kami betulkan jika biaya sudah kembali terkumpul kemudian. Yang terpenting sekarang, kami memutuskan pada pilihan ke 2, untuk merapihkan halaman belakang saja.

Saya tipikal yang lebih memilih diam jika bersinggungan dan muncul perdebatan kecil. Umur semakin banyak, rasanya membuat isi otak males berdebat. Biasanya saya akan masuk ke kamar, berlama-lama di sana dan membaca buku. Dia tahu, ketika saya enggan diajak bicara, berarti saya lagi merajuk. Jika dia puas dengan kemarahannya saya yakin dia akan diam sendiri, karena gak ada satu manusia di dunia yang tahan seumur hidup memilih marah terus-menerus. Begitu pikir saya.

Dan saya belajar pada netizen dengan ke-alay-an yang Haqiqi, jika dia mulai ngomel sedikit panjang. Maka saya akan berakting pura-pura menjadi Mbah Mijan. “Assalamualaikum wahaiiii penghuni jasad, maaf mengganggu. Tolong keluar dari tubuh ini. Suami saya biasanya baik dan tidak emosian. Sifat pemarah barusan, saya yakin ini pasti ulah jin kafir. Silahkan pergi dari tubuhnya. Sebelum saya kepret pake ayat kursi.” Biasanya ketika saya mulai bertingkah sedikit gila, dia akan tertawa, walaupun agak tertahan. Karena satu hal yang saya yakini masih melekat dalam dirinya yaitu–GENGSI.

Belasan tahun, membuat kami berdua paham bagaimana mengenal karakter pasangan kita sendiri. Ketika silang pendapat, saya adalah orang yang paling tidak perduli dia benar atau salah, lebih baik saya minta maaf duluan agar masalah tidak merembet kemana-mana. Supaya hidup tidak semakin rumit.

Sebab yang perlu kita sama-sama tahu. Pernikahan adalah dunia berbagi, saling mengerti. Bukan dunia meminta, menindas, mengatur, merasa paling benar, paling berkuasa dan berharap.

Sulit rasanya kita menginginkan hal yang sempurna, bunga mawar yang seindah itu saja, bahkan berduri. Yang perlu kita syukuri adalah bagaimana caranya belajar untuk merasa CUKUP.

2 comments On Merasa Cukup

  • Sukak banget sama keluarga mba Desi, semoga terus bahagia betul banget ya kadang kelemahan pasangan sering kita rindukan

    • Hai mbak Yurma, Apa kabar? Kangen ih, terimakasih. Kelemahan-kelemahan pasangan terkadang sering kita rindukan karena sudah menjadi ritual kebiasaan. Hehe. Jadi Hafal.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer