Perihal Jatuh Cinta dan Kata Lupa

Aku meniupkan bunga rindu pada pohon yang sama ketika pucuk-pucuk daun muda mulai tumbuh tak beraturan.

Entah niatnya sampai atau tidak kepadamu, Tuan.

Aku pun tak mengetahuinya secara utuh.

Kau bilang, setiap manusia berhak jatuh cinta. Sebab kita berasal dari cinta.

Otakku berputar dan selalu terlintas kata itu.

Belum kering rasanya bibir ini berucap bagaimana aku menginginkan cinta yang baik, hal sama yang berulangkali aku bisikkan di telingamu saat kau melepaskan penat di dadaku.

Asap yang menempel di bajuku menjadi saksi atas percakapan panjang dan harum masakan yang kerapkali menyambutmu pulang.

Aku tak menginginkan cinta yang kerapkali pejabat perlihatkan pada layar kaca. Cinta yang LUPA pada tanahnya, LUPA pada negaranya, LUPA pada rakyatnya, LUPA atas kehendak siapa dia dapat berdiri di sana.

Aku tak menginginkan cinta yang justru sibuk menumbuhkan banyak kata LUPA.

Tapi… malam ini aku berhak lupa diri jika membahasmu dengan kalimat paling panjang. Tentang matamu yang dalam dan senyummu yang tak pernah tinggal diam.

Mata yang luas itu memiliki seribu bahasa yang tak mampu aku terjemahkan. Membuat aku LUPA akan banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin sekali aku tanyakan.

Aku tak suka kata LUPA. Tapi kau mengenalkanku mengenai LUPA yang baik. Kecupanmu di pagi hari, membuat aku LUPA diri sedang berada di bumi atau di surga. Kau manusia liar dari sebuah Padang yang tak mampu aku gembalakan. Sulit ditaklukkan.

Sungguh, pernikahan membuat kita belajar. Agar aku bisa menjadi kau, kau bisa menjadi aku. Lalu dua perbedaan kata tadi, akan menyesuaikan sendiri menjadi KITA.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer